Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...

Semenjak Ir. H. Joko Widodo (Presiden RI) mengumumkan orang yang teridentifikasi Coronaviruses Disease (COVID-19) ke khalayak publik, dan himbauan Social Distancing yang belakangan diganti istilahnya menjadi Physical Distancing digaung-gaungkan oleh pemerintah dan banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), hampir semua aktivitas yang mulanya tidak bisa dikerjakan di rumah harus dikerjakan di rumah untuk memutus persebaran COVID-19 ini.
Banyak yang merasa senang karena memiliki banyak waktu untuk keluarga di rumah, tetapi banyak pula yang merasa kebingungan karena tak banyak atau bahkan tak biasa untuk beraktivitas di rumah. Salah satunya saya.
Kehilangan motivasi untuk melakukan suatu hal yang biasa saya lakukan tentu sungguh tidak nyaman untuk dirasakan. Apalagi merasa diri tidak produktif seperti biasanya, membuat pikiran kemana-mana dan berujung pada frustrasi. Dengan banyaknya waktu #dirumahaja membuat saya berpikir untuk memanfaatkan waktu yang ada untuk menghabiskan bahan bacaan yang sejak lama tertumpuk dan terlupakan.
Salah satu buku yang sempat terlupakan untuk saya baca adalah buku karangan dari Simon Sinek, sosok yang sangat optimis bahwa terdapat masa depan cerah bagi semua orang ini berhasil menginspirasi banyak orang, setidaknya saya sendiri melalui bukunya yang berjudul “Start With Why” yang terbit pertama kali pada Juni 2019 dan sudah mencapai cetakan ketiga pada bulan September 2019. Waktu yang relatif singkat ini membuktikan bahwa buku ini laris di pasaran dan tentunya membawa banyak manfaat bagi pembacanya.
Buku yang memiliki desain sampul dengan dominasi warna putih dengan tulisan menggunakan huruf kapital berwarna merah menyala yang menunjukkan judul dari buku ini berhasil meyakinkan calon pembacanya untuk membeli buku yang masuk dalam genre self improvement ini. Buku yang memiliki ketebalan ± 368 halaman ini dibanderol dengan harga Rp100.000,00., harga yang lumayan mahal tapi setimpal dengan ilmu yang kita dapat setelah membaca buku ini.
Setelah membaca buku ini, ada beberapa poin penting yang saya dapat tangkap dari keseluruhan isi buku ini. Pertama, buku ini mengajarkan kita bagaimana bersikap menjadi seorang pemimpin yang disegani bukan karena posisi kita saja melainkan disegani dan dihormati karena perilaku kita kepada anggota atau bawahan. Sehingga attitude sangatlah penting untuk diperhatikan oleh pemimpin.
Kedua, sebagai pemimpin kita harus sadari bahwa strategi untuk memuluskan jalan organisasi atau perusahaan untuk mencapai tujuannya sangatlah penting. Dan lebih penting lagi adalah konsisten untuk memperlihatkan tujuan besar atau ceruk/fetish (isu perjuangan) organisasi atau perusahaan yang kita sedang jalankan kepada khalayak ramai. Inilah yang dalam buku ini disebut dengan “MENGAPA”.
Terakhir, yang paling penting adalah kita mesti tahu dan paham tentang istilah “Lingkaran Emas” yang berisikan tiga hal yaitu, Mengapa, Bagaimana, dan Apa. Untuk mengetahui apa itu Mengapa, Bagaimana, dan Apa ada baiknya kalian langsung membaca buku ini secara langsung. Karena tentu saja perspektif setiap orang setelah membaca buku ini akan berbeda-beda.
Attitude atau perilaku, strategi dan konsistensi, serta membawa isu perjuangan dalam perjalanan membangun sebuah organisasi atau perusahaan tentu sangat penting seperti yang sudah saya sampaikan di paragraf sebelumnya. Namun, ada satu hal lagi yang bisa kita petik dari buku “Start With Why” ini adalah mampu menanamkan nilai-nilai dasar perjuangan kepada generasi selanjutnya. Kenapa hal ini penting untuk diketahui dan dilakukan? Banyak sekali organisasi atau perusahaan yang gagal bahkan tidak digandrungi oleh peminatnya, padahal organisasi atau perusahaan secara fisik masihlah sama.
Hal yang membikin berbeda adalah isu perjuangan atau tujuan besarnya sudah tak terlihat dari apa yang dilakukan oleh organisasi atau perusahaan setelah sang penggagas menghilang. Entah keluar atau meninggal dunia. Maka dari itu, menjadi penting bagi seorang pemimpin untuk menanamkan nilai-nilai perjuangan atau isu perjuangan yang dibawa oleh organisasi atau perusahaan sehingga generasi penerusnya tak lupa tentang tujuan awal dibangunnya organisasi atau perusahaan. Dengan kesadaran tersebutlah organisasi atau perusahaan dapat menghindarkan diri dari “keterpisahan” antara Mengapa dan Apa yang mereka buat.
Saya sengaja hanya menuliskan beberapa hal tentang buku ini agar kalian menjadi penasaran dan memiliki niat untuk membaca buku ini. Karena Simon Sinek memiliki pemikiran sederhana, tetapi sangat efektif jika kita terapkan dalam berbagai bidang, dan “Lingkaran Emas” adalah jawabannya. Selamat membaca sahabat.[T]
Denpasar, 6 April 2020
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...