Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
Sekali lagi, saya harus menghela nafas panjang. Mengapa? Berita-berita penolakan para ABK semakin mencuat. Ada beberapa di masing-masing daerah. Sebelum ke penolakan, ada baiknya mundur ke belakanag bagaimana proses kesehatan yang dijalani para ABK sebelum diperbolehkan karantina mandiri ataupun sekarang harus karantina di sebuah tempat.
Seperti yang saya alami dan jalani, setibanya di bandara, saya langsung isi form riwayat perjalanan dan identitas diri. Lalu mengantre dengan tetap melakukan social distancing.
Satu per satu dipanggil untuk cek suhu tubuh dan tensi. Setelah itu para ABK dipersilakan untuk mengantre di sebelah timur untuk melakukan covid-19 test atau rapid test. Rapid test sudah dilaksanakan dan kami yang dinyatakan negatif bisa melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing.
Pada saat itu karantina di rumah masih diperbolehkan. Namun dengan satu catatan, tetap disiplin, selalu memakai masker jika keluar ruangan misalnya untuk berjemur. Ya, serangkaian proses sudah kami jalani.
Sampai di rumah, saya dan mungkin semua teman ABK sudah melaporkan kedatangan kepada pihak desa adat dan dinas. Saya sendiri, dihimbau untuk mengikuti SOP yang diterapkan oleh pemerintah. Dan setelah karantina 14 hari berakhir untuk rapid test kembali.
Saya direkomendasikan test rapid di Rumah Sakit Sanjiwani, Gianyar. Sebegitu banyaknya test dan harus krantina yang memang kami sudah siap melaksanakan itu semua, masih saja para ABK mendapat perlakuan negatif serta cibiran-cibiran. Padahal kalau dilihat di berita-berita sebelum ditutupnya pelabuhan Gilimanuk, orang-orang dari luar Bali bersliweran masuk ke Bali tanpa harus melakukan test rapid. Beruntung itu semua sudah distop.
Jadi memang seharusnya seperti itu. Tindak tegas bagi orang luar yang tidak mau mengikuti aturan dari pemerintah khususnya pemerintah Provinsi Bali. Penolakan-penolakan yang terjadi seakan menggambarkan semakin meredupnya rasa kemanusiaan orang Bali terhadap sesamanya. Dan sesamanya ini adalah orang Bali juga. Masyarakat Bali yang merantau pergi jauh ke luar negeri demi mengais rejeki untuk keluarga dan masa depan yang lebih baik.
Seperti tulisan saya sebelumnya, jika memang negara mampu memberikan lapangan pekerjaan dan penghasilan yang cukup untuk warganya, lalu untuk apa para ABK harus pergi meninggalkan tanah kelahirannya?
Lebih baik kerja di rumah, bukan? Bisa bertemu dan berkumpul dengan keluarga setiap saat. Quality time bisa kami rasakan. Dan juga tentunya bisa ikut berbaur dengan masyarakat saat ngayah ataupun yang lainnya. Tapi memang tidak ada pilihan. Pilihan terakhir adalah pergi mengais rejeki di luar negeri.
Demi keluarga dan demi masa depan yang lebih baik. Hentikan kami diagung-agung sebagai pahlawan devisa negara sedangkan perlakuan yang kami dapat tidak sesuai dengan apa yang seharusnya didapat. Jika ditarik lebih jauh, kami mencari uang dan mendapatkan hasil berupa dolar. Lalu kami dengan semangatnya menukarkan dolar tersebut ke dalam bentuk rupiah, untuk apa?
Ya, tentu untuk dibelanjakan. Dimana? Tentu kepada padagang. Pedagang itu siapa? Pastinya masyarakat Bali. Secara otomatis kami juga ikut andil dalam perputaran ekonomi masyarakat Bali. Jadi marilah kita sama-sama saling mengerti.
Saya dan para ABK yang lain sangat mengerti akan kecemasan masyarakat Bali. Kamipun cemas. Tapi ini adalah virus yang penyebarannya sudah mengglobal. Mari kita perangi bersama bukan malah saling menjatuhkan, saling menyalahkan, menolak kedatangan para ABK dan memberikan mereka komentar-komentar negatif. Padalah mereka adalah saudara kita sendiri. Saudara sebangsa setanah air.
Mereka adalah nyama Bali. Sudah saatnya menghentikan stigma negatif terhadap para ABK dan kita harusnya bersama melanjutkan peperangan melawan Covid-19. Dengan cara apa? Ikuti himbauan pemerintah. Diam di rumah, cuci tangan pakai sabun sesering mungkin dan sosial distancing. Jaga pikiran agar selalu positif. Dengan berpikir positif daya tahan tubuhpun semakin maningkat. Dan terhindar dari serangan virus corona.
Salam dari rumah.[T]
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PADA zaman maya saat ini, seorang remaja tanpa menyentuh gadget atau handphone selama satu hari saja sudah termasuk hebat. Tapi di Desa Bungaya, Karangasem, Bali, ratusan remaja pu...
KESULITAN terbesar saya ketika harus membicarakan sajak-sajak Nuryana Asmaudi SA yang terkumpul dalam buku "Doa Bulan untuk Pungguk" (DBUP) adalah upaya menghilangkan bayang-bayang...
JIKA ingin melihat sejati-jatinya festival yang jujur, tanpa pesan ini-itu, tanpa pidato ini-itu, tanpa kampanye ini-itu, tanpa bau politik dan kekuasaan, tanpa EO dan panitia over...
MAHASISWA adalah sebutan untuk “siswa” dengan tambahan kata “maha” di depannya. Maha artinya besar. Mahasiswa tentu bukan lagi siswa biasa. Kehidupan siswa bisa bergantung pada or...
Cerpen: Made Adnyana Ole TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tep...
IGAU andaikata rumput berwarna merah muda, sapi-sapi mungkin saja berwarna jingga. dan kau berdiri di atas batu kuning mengenakan sepatu hijau, menembaki aku dengan senapan buru l...
MASA KKN (Kuliah Kerja Nyata) kini sudah usai. Acara perpisahan di balai desa atau di lapangan umum sudah digelar dengan meriah, penuh canda sekaligus haru. Namun, setelah KKN buba...
MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali m...
BERBICARA sebagai orang awam, sembari turut menilai fenomena dan paradigma tentang berbagai hal yang terjadi di masyarakat, tentu dengan guyonan ringan ditambah dengan sruputan kop...