Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Lima tahun yang lalu saya memutuskan banting setir dan berangkat ke kapal pesiar. Semua pekerjaan yang saya lakoni, saya tinggalkan. Demi sesuatu hal baru, tantangan yang baru. Dan tidak bisa dipungkiri untuk mendapatkan penghasilan lebih baik dari yang dulu.
Terus terang, keputusan tersebut merupakan sebuah keputusan paling besar dalam hidup saya selama 29 tahun di umur saya yang sekarang. Keputusan yang kadang menyesakkan hati, menyayat sukma, harus meninggalkan segala yang telah saya lakoni.
Meninggalkan sekolah. Meninggalkan Bangli Sastra Komala yang saya buat bersama Agus Darma Putra, Pande Jati, dan teman-teman lainnya di Bangli. Meninggalkan hingar bingar kehidupan sastra khususnya sastra Bali modern yang semakin semarak dengah hadirnya penulis-penulis muda. Dan yang paling menyedihkan adalah harus meninggalkan orang-orang tercinta baik kekasih maupun keluarga.
Adakah penyesalan? Tegas saya jawab, Tidak. Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa setiap keputusan yang diambil selalu mengandung resiko dan sering harus ada yang di korbankan. Tahu akan resiko-resiko tersebut akhirnya saya memilih pilihan yang menurut saya terbaik bagi saya dan keluarga saat itu.
Sekali lagi untuk sebuah keputusan harus ada yang dikorbankan. Saya harus realistis. Tahun 2014 penghasilan yang saya dapat dari sekolah, menulis, jaga minimarket, dan ojek tidaklah seberapa. Tidak bisa membantu keluarga untuk membayar hutang yang waktu itu jumlahnya sudah ratusan juta. Ya, semua pasti bisa menduga, bahwa itulah alasan utama mengapa saya memutuskan kerja di kapal pesiar. Family is number one for me.
Keluarga adalah satu-satunya alasan mengapa saya pergi ke kapal. Betapa sedih hati ini melihat kedua orang tua selalu bertengkar karena pikiran mereka yang tidak tenang akibat selalu dikejar-kejar hutang. Penagih hutang datang tak mengenal waktu. Awal bulan, pertengahan bulan, akhir bulan pun jadi. Caci maki turut mengiringi perjalanan karena tersendat-sendat bahkan tidak bisa membayar hutang.
Maklum, kehidupan kami sangat melarat. Ibu memiliki keinginan yang sangat tinggi agar keempat anak laki-lakinya bisa mengenyam bangku sekolah minimal SMA agar nantinya memiliki pekerjaan lebih baik dari dirinya. Hingga hutang sana-sini tapi kemampuan untuk membayar rendah. Ibu jadi buruh masak di tempat Catering makanan. Ayah seorang tukang ojek. Lama-kelamaan hutangpun menumpuk.
Keluarga mendukung apa yang sudah jadi pilihan hidup saya. Begitu juga para sahabat yang senantiasa bersama saya dalam suka maupun duka. Selalu ingat akan perjuangan di masa-masa paling sulit. Selalu sadar bahwa arti sahabat yang sesungguhnya tidak akan pernah hilang oleh ego dan harta benda. Sampai saat ini, bersyukur memiliki sahabat yang selalu ingat akan perjuangan di masa silam.
Lima tahun sudah berlalu, dan sampai saat ini saya masih kerja di kapal pesiar. Masih berada di tengah lautan tanpa tahu kepastian kapan akan bersandar, kapan akan dipulangkan. Virus corona sudah mengacaukan segalanya. Saya dan teman-teman pelaut lainnya berjuang menghadapi virus ini dengan mengikuti aturan dari company. Di Bali pun nampaknya juga sama, sama-sama berjuang. Meskipun ada selentingan-selentingan negatif tentang anak kapal, tapi percayalah kami bukan pembawa virus. Kita sama, korban dari virus corona yang sudah mengglobal.
Dan terakhir, ketika saya ingat nostalgia perjuangan dulu, saya semakin rindu pada semua itu. Terutama kepada keluarga saya. Rindu pada istri tercinta yang sedang mengandung buah cinta kami berdua. Meskipun dalam keadaan yang tak menentu, saya masih punya keyakinan akan segera berkumpul kembali bersama keluarga dan para sahabat yang saya rindukan.
Salam dari samudra. [T]
____
[] Baca Surat Kecil Pekerja Kapal Pesiar dari Tengah Lautan yang lain
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...