Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
Sebelum pencerahan
Menimba air, membelah kayu
Setelah pencerahan
Menimba air, membelah kayu
___ (ajaran Zen)
Kalimat ini saya baca beberapa tahun yang lalu, dan tetap tak bisa saya pahami sampai detik ini. Kebijaksanaan Zen telah ada di Asia timur (Jepang, China) sejak ratusan tahun yang lalu. Dan banyak yang percaya bahwa ajaran ini salah satu yang menjiwai keseharian mereka, seperti yang terlihat oleh kita yang jauh dari sana. Banyak buku ditulis tentang ajaran Zen dalam bahasa Indonesia. Untaian kalimat seperti yang tertulis diatas akan banyak kita temui disana.
Salah satu kalimat lain yang mungkin telah dapat saya rasakan kebenarannya adalah yang tertulis seperti ini : “ Saat seorang murid telah siap, maka sang guru pun akan datang “.
Akal sehat kita pasti akan sulit mengartikan kalimat ini. Apa tandanya seseorang telah siap? Dan apakah guru itu pasti hadir saat seseorang telah merasa siap? Apakah ungkapan ini sejalan dengan sistem pendidikan kita saat ini. Satu yang pasti, ungkapan ini pasti tak cukup layak untuk dijadikan pedoman bagi sang menteri muda untuk merumuskan kebijakan beliau terkait pendidikan kita. Ungkapan ini lebih tepat untuk sebuah pendidikan informal, untuk jiwa jiwa yang tetap dahaga menambah pengetahuan dan ketrampilan baru yang membuat hidup mereka lebih bermakna.
Pandemi Covid 16 memberi sedikit hikmah untuk keseharian kita. Kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga tercinta pasti adalah salah satunya. Bagi saya sendiri waktu luang tersedia untuk mengenang masa masa indah yang telah lewat dan selama ini luput dari pantauan kita. Teman masa kecil saya meninggalkan ibukota karena situasi ini, dan kami berdua bisa melewatkan malam bersama mengenang masa kecil kami di puncak perbukitan yang dingin ini.
Sambil mendengarkan lagu lagu lama kesukaan kami dulu, kami berbincang tentang banyak hal, baik yang ringan ataupun menjurus serius.
“Tut Nik,“ katanya malam itu. “Tidakkah Ketut merasakan di masa masa sekarang ini kita kehilangan sosok panutan? Sosok guru yang memberikan kita nasehat, petuah dan cerita cerita bijaksana tentang kehidupan?“
Dia lalu menyebut beberapa nama yang kita ingat, seorang guru senior (almarhum ) yang sangat berwibawa, lalu dia menyebut juga nama almarhum bapak saya yang memang dulu sangat gemar mengumpulkan anak anak kompleks kami di malam hari untuk didongengkan cerita-cerita pewayangan.
Berbilang malam kami berkumpul mengelilingi lampu petromaks untuk mendengarkan cerita beliau tentang jalannya perang Barata Yuda, matinya sang Karna dan banyak cerita lain yang tak bisa saya ingat. Jujur saya sangat terharu mendengarnya, ternyata apa yang menurut saya sesuatu yang biasa saja, ternyata dianggap sebuah kenangan indah oleh sahabat saya.
Saat itu saya bersepakat dengan keprihatinannnya tentang kerinduan kita akan sosok teladan, sosok guru, yang bisa kita gugu dan tiru selain guru guru formal kita di sekolah.
Tetapi setelah merenung lama, dan menyimak berbagai tulisan bijak di buku dan jagat maya yang sering juga memberikan pencerahan. Saya merasa teman saya terjebak dalam sebuah romantisme masa lalu yang indah tapi dangkal.
Saya coba membandingkan situasi saya saat ini dengan dua kegemaran yang menghiasi keseharian saya. Bermain tenis dan menulis. Hari hari ini, ditengah situasi yang tak bersahabat ini, salah satu kebahagiaan saya adalah saat bisa ke lapangan, dan sempat menulis yang kemudian tulisan itu bisa dibaca oleh khalayak luas. Kebahagiaan ini tak akan bisa saya nikmati tanpa kehadiran seorang guru. Seorang senior tempat saya berkeluh tentang tulisan yang belum dimuat dan tetap memberi dorongan untuk tak patah semaangat.
Senior lainnya tempat mengadu saat saya tak diajak main oleh teman di lapangan tenis karena saya baru belajar, dan selalu punya cara untuk menyemangati saya agar tak putus asa dan tetap terus berlatih. “Makin banyak keringat keluar saat latihan,makin sedikit yang tertumpah saat pertandingan, “ katanya pada suatu waktu.
Mereka berdua barangkali adalah guru guru yang disediakan alam untuk saya dalam meningkatkan ketrampilan, maupun menambah kebijaksanaan kita. Tanpa menafika peran pihak lain, teman di lapangan, rekan sesama penyuka tulisan. Mereka pun adalah guru guru lainnya yang ikut membentuk saya sampai pada kemampuan (bermain dan menulis) seperti sekarang. Mereka pun adalah guru guru untuk kita dalam skala yang lebih kecil.
Tapi saya tak akan mendebat teman saya tentang kerinduannya akan sosok guru ataupun panutan. Saya hanya akan menceritakan kepadanya sebuah fragmen dalam drama Galileo yang dikutip Goenawan Mohamad di salah satu tulisannya. Saat itu Galileo sedang diinterogasi oleh tim inkuisitor gereja terkait pandangan barunya yaitu Helio sentris, yang menyatakan bahwa pusat dari tata surya atau dunia ini adalah matahari. Dimana saat itu gerja masih meyakini bahwa pusat dari alam semesta adalah bumi.
Saat interogasi berlangsung sampai tengah hari, Galileo ditunggui oleh para muridnya yang setia di luar gereja. Tepat saat petang menjelang terdengar lonceng gereja yang menyatakan kemenangan gereja atas Galileo, artinya Galileo menarik pandangan heliosentris tersebut dan bertekuk lutut atas kekuasaan gereja. Begitu pintu dibuka, terdengar kencang sang murid, Andrea Sarti berteriak “ Betapa malang sebuah negeri yang tak mendapatkan pahlawan “
Sambil menoleh, Galileo membalas ringan : “Lebih malang lagi sebuah negeri yang mengharapkan hadirnya seorang pahlawan.“
Tulisan Zen tentang guru tadi yang kita dapat dari Timur, dan ungkapan Galileo yang saya rasa mewakili semangat barat tentang kebebasan berpikir. Menurut saya adalah pilihan jawaban untuk teman saya itu, dan pasti jawaban untuk kita semua yang masih terjebak pada romantisme masa lalu dan selalu ingin adanya kekuatan dari luar untuk sesuatu yang semestinya kita bisa lakukan sendiri.
Jangan terlalu berharap lingkungan akan menyediakan kita apa yang kita perlukan sesuai keinginan kita. Alam pasti punya caranya sendiri untuk melakukannya. Dan seandainya pun tidak, kita masih punya hadiah terindah Tuhan untuk kita yaitu akal budi.
Akhirnya, untuk saat ini saya masih bisa mempercayai ajaran Zen, tanpa menyepelekan kebebasan pikiran ala Galileo, Tabik.
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...