Dunia seolah-olah diliputi oleh ketidakpastian akibat dampak
dari penyebaran covid-19. Dampak
virus ini amat menyusup, menusuk dan mengiris sendi-sendi
kehidupan masyarakat, tidak terkecuali masyarakat di Bali. Keluhan demi keluhan
tersiar di social media, empati kemanusiaan terpantik, beberapa bahkan dengan
gamblang menyampaikan bahwa mereka perlu bantuan sumber pangan, perut mereka
lapar dan mereka perlu makan bukanlah himbauan.
Pro dan kontra saling bersautan, seolah
perdebatan itu akan mampu menyelesaikan masalah utama yang ada, justru tidak
sedikit yang memainkan peran cantik dengan narasi-narasi yang menyulut
perdebatan makin menghangat dan memanas.
Pariwisata adalah sektor yang amat terpukul
telak atas kondisi saat ini, tamu enggan datang karena takut, belum lagi
kebijakan negara-negara yang selama ini menjadi sasaran promosi pariwisata
seperti Eropa, Australia dan Amerika menghimbau masyarakat mereka untuk tidak
berpergian dulu ke luar.
Begitu telaknya hantaman kepada pariwisata,
sehingga penutupan tempat usaha menjadi pilihan beberapa pengusaha yang tidak
sanggup menanggung kerugian akibat dari terjangan wabah corona, tentu keputusan
itu merembet pada keputusan merumahkan para pekerjanya. Para pekerja kembali ke
Desa, Desa menjadi tempat berkeluh kesah atas kondisi yang ada, dan sebagai
masyarakat Desa saya juga amat resah untuk menuliskan kisah ini.
Desa relatif agak tenang menghadapi situasi
ini, terlebih Desa yang masyarakatnya bertumpu pada sektor agraris, tentu
karena tidak banyak yang mengikuti seliweran pemberitaan yang ada, lebih-lebih
di social media, dalam benak mereka yang ada hanya berangkat ke sawah, kerja
dan kerja. Bersyukurlah bagi mereka yang hidup di desa, setidaknya ketenangan
itu akan menjauhkan mereka dari stress yang tentu pada akhirnya sangat berdampak
pada kualitas imun mereka.
Hidup bergotong royong merupakan ciri khas
masyarakat agraris, inilah modal yang amat krusial di tengah mewabahnya virus
corona, sekadar untuk memenuhi keperluan dapur tidaklah sulit bagi mereka,
sayur-sayuran masih tersedia, sekadar untuk pelengkap kebutuhan pangan, mereka
masih bisa mengusahakan dengan mandiri, apakah dengan menanam atau meminta dari
kebun dan sawah tetangga, semua masih bisa dimaklumi karena ini adalah
kebiasaan yang sudah turun temurun diterima oleh masyarakat Desa.
“Tahun 2020 dipenuhi oleh ketidakpastian, yang
pasti hanyalah perut yang terus minta diasupi nutrisi!”
Narasi
ini boleh dibilang masuk akal, menurut prediksi vaksin baru akan ditemukan 18
bulan lagi, itu artinya akhir 2021
kondisi ini akan berakhir, namun apakah kita akan menyerah begitu saja?
Jawabannya tentu tidak, kita mesti mengusahakan agar kita bisa tetap
melanjutkan kehidupan.
Gerakan Lumbung Pangan Keluarga
Lumbung Pangan Keluarga sebagai sebuah gerakan
yang diprakarsai oleh beberapa teman-teman yang memiliki kepedulian terhadap
sumber pangan lokal, memandang perlu untuk memulai gerakan menanam tanaman
pangan yang dimulai dari lingkungan paling dekat, yaitu pekarangan. Hal ini
tentu beralasan, alasannya karena kondisi keuangan semakin menipis, sebatas
keperluan sayur bisalah diusahakan secara mandiri, karena pada akhirnya kita
akan masuk dalam kondisi menerima wabah ini sebagai bagian dari siklus
kehidupan.
Sekadar berbagi cerita, saya bersama keluarga
sudah memulai usaha pemanfaatan lahan pekarangan untuk berkebun dari tahun
2016, niatan di awal adalah menghijaukan pekarangan saja dengan menanam
beberapa tanaman hias di dekat padmasana (tempat suci Hindu) depan rumah,
menanam beberapa jenis bunga untuk keperluan sembahyang. Namun semakin hari
niatan untuk terus dan terus menanam selalu ada, inspirasi datang
darimana-mana, berbagai macam literatur saya beli dan pelajari, hingga pada
akhirnya saya berinisatif untuk membagi halaman itu menjadi beberapa areal
menanam, sebut saja areal taman bunga, tanaman obat keluarga, tanaman buah
dalam pot, kebun buah naga, kebun sereh, dan kebun sayur.
Dari aktivitas menanam tersebut, kami juga
menggabungkan dengan pengelolaan sampah organik yang ada di rumah, kami
menghasilkan pupuk organik cair, kompos, pestisida ramah lingkungan dan mulsa.
Kabar baiknya adalah dalam seminggu kami hanya satu dua kali saja kami membeli
sayuran di luar, itupun jenis sayuran yang tidak bisa kami tanam di dataran
rendah seperti kentang, sayur kol dan wortel, sisanya kami petik dari petakan
kecil di belakang rumah, disamping itu kalau pas musimnya.
Kami bisa memanen berbagai macam jenis buah,
dari buah-buahan yang kami tanam di pekarangan langsung seperti mangga, buah
naga, papaya serta buah-buahan yang kami tanam di pot, seperti jambu biji,
jeruk nipis, jeruk purut, klengkeng dan bidara, tidak jarang ketika surplus,
kami juga memberikan ke tetangga, dan tidak sedikit yang langsung datang hanya
untuk meminta sereh sebagai bahan bumbu ayam misalnya.
Tentu hal ini amat menyenangan, saya bersama
anggota keluarga berbagi peran satu sama lain, semua keluarga terlibat dalam
aktvitas ini, tidak ada yang baku dalam pembagian tugas, mencair dan semua
harus bisa dan terbiasa mengurus kebun kecil ini, tidak terkecuali anak-anak
kami, mereka kadang juga terlibat sesekali seperti menyiram, menggemburkan
tanah dan memanen pupuk organik cair. Tentu kegiatan ini amat baik jika
diterapkan di keluarga, kegiatan ini merupakan healing bagi kami di tengah
aktivitas rutinitas yang mesti harus kami lakukan di luar rumah.
Berkebun di pekarangan bukanlah hal baru, saya
hanya ingin membuktikan cerita-cerita inspiratif yang ada, masih ada yang
mengganjal, tidak elok rasanya jika cerita ini hanya dinikmati sendiri, sebagai
pribadi yang pernah bergelut dalam kegiatan-kegiatan sosial dan lingkungan
hidup, saya ingin mengajak teman-teman untuk turut serta melakukan
penajaman-penajaman gagasan dari apa yang ada, membangun kegelisahan dan pada
akhirnya menggerakan semangat solidaritas bergerak bersama.
Saya bersama beberapa teman-teman terus melakukan
kampanye di sosial media dan terus melakukan kegiatan-kegiatan menanam, sesekali
saya meminta masukan kepada guru-guru kami seperti Sugi Lanus, Gede Kresna dan
Made Adnyana Ole. Dari dorongan merekalah pada akhirnya kami bersepakat untuk
membentuk Komunitas Lumbung Pangan Keluarga, sebuah wadah komunitas yang
ditujukan untuk merangsang partisipasi masyarakat dalam memenuhi keperluan
pangannya, terlebih di dalam kondisi Covid-19 seperti sekarang ini.
Niatan ini perlu terus digaungkan dan digetoktularkan, agar semakin banyak masyarakat terutama anak muda bisa berpikir, bahwa corona bukanlah akhir bagi hidup mereka, mereka bisa memulai memanfaatkan waktu dengan menanam, syukur-syukur dari gerakan sederhana ini akan memberikan mereka inspirasi untuk mengelola sawah yang mereka miliki. Ingat pariwisata adalah bonus dari laku keseharian masyarakat agraris, budaya masyarakat bali tidak jauh dari praktek bercocok tanam, mungkin itu saja. [T]