Sebelum pencerahan
Menimba air, membelah kayu
Setelah pencerahan
Menimba air, membelah kayu
___
(ajaran Zen)
Kalimat ini saya baca
beberapa tahun yang lalu, dan tetap tak bisa saya pahami sampai detik ini.
Kebijaksanaan Zen telah ada di Asia timur (Jepang, China) sejak ratusan tahun
yang lalu. Dan banyak yang percaya bahwa ajaran ini salah satu yang menjiwai keseharian mereka,
seperti yang terlihat oleh kita yang jauh dari sana. Banyak buku ditulis
tentang ajaran Zen dalam bahasa Indonesia. Untaian kalimat seperti yang
tertulis diatas akan banyak kita temui disana.
Salah satu kalimat lain yang mungkin telah dapat saya rasakan kebenarannya adalah yang tertulis seperti ini : “ Saat seorang murid telah siap, maka sang guru pun akan datang “.
Akal sehat kita pasti
akan sulit mengartikan kalimat ini. Apa tandanya seseorang telah siap? Dan
apakah guru itu pasti hadir saat seseorang telah merasa siap? Apakah ungkapan ini sejalan dengan sistem pendidikan kita
saat ini. Satu yang pasti, ungkapan ini pasti tak cukup layak untuk dijadikan
pedoman bagi sang menteri muda untuk merumuskan kebijakan beliau terkait
pendidikan kita. Ungkapan ini lebih tepat untuk sebuah pendidikan informal, untuk
jiwa jiwa yang tetap dahaga menambah pengetahuan dan ketrampilan baru yang
membuat hidup mereka lebih bermakna.
Pandemi Covid 16
memberi sedikit hikmah untuk keseharian kita. Kesempatan untuk berkumpul dengan
keluarga tercinta pasti adalah salah satunya. Bagi saya sendiri waktu luang
tersedia untuk mengenang masa masa indah yang telah lewat dan selama ini luput
dari pantauan kita. Teman masa kecil saya meninggalkan ibukota karena situasi
ini, dan kami berdua bisa melewatkan malam bersama mengenang masa kecil kami di
puncak perbukitan yang dingin ini.
Sambil mendengarkan
lagu lagu lama kesukaan kami dulu, kami berbincang tentang banyak hal, baik
yang ringan ataupun menjurus serius.
“Tut Nik,“ katanya
malam itu. “Tidakkah Ketut merasakan di masa masa sekarang ini kita kehilangan sosok panutan? Sosok
guru yang memberikan kita nasehat, petuah dan cerita cerita bijaksana tentang
kehidupan?“
Dia lalu menyebut
beberapa nama yang kita ingat, seorang guru senior (almarhum ) yang sangat
berwibawa, lalu dia menyebut juga nama almarhum bapak saya yang memang dulu
sangat gemar mengumpulkan anak anak kompleks kami di malam hari untuk
didongengkan cerita-cerita pewayangan.
Berbilang malam kami
berkumpul mengelilingi lampu petromaks untuk mendengarkan cerita beliau tentang
jalannya perang Barata Yuda, matinya sang Karna dan banyak cerita lain yang tak
bisa saya ingat. Jujur saya sangat terharu mendengarnya, ternyata apa yang
menurut saya sesuatu yang biasa saja, ternyata dianggap sebuah kenangan indah
oleh sahabat saya.
Saat itu saya
bersepakat dengan keprihatinannnya tentang kerinduan kita akan sosok teladan,
sosok guru, yang bisa kita gugu dan tiru selain guru guru formal kita di
sekolah.
Tetapi setelah
merenung lama, dan menyimak berbagai tulisan bijak di buku dan jagat maya yang
sering juga memberikan pencerahan. Saya merasa teman saya terjebak dalam sebuah
romantisme masa lalu yang indah tapi dangkal.
Saya coba
membandingkan situasi saya saat ini dengan dua kegemaran yang menghiasi keseharian saya. Bermain tenis
dan menulis. Hari hari ini, ditengah situasi yang tak bersahabat ini, salah satu kebahagiaan
saya adalah saat bisa ke lapangan, dan sempat menulis yang kemudian tulisan itu
bisa dibaca oleh khalayak luas. Kebahagiaan ini tak akan bisa saya nikmati
tanpa kehadiran seorang guru. Seorang senior tempat saya berkeluh tentang
tulisan yang belum dimuat dan tetap memberi dorongan untuk tak patah semaangat.
Senior lainnya tempat
mengadu saat saya tak diajak main oleh teman di lapangan tenis karena saya baru
belajar, dan selalu punya cara untuk menyemangati saya agar tak putus asa dan
tetap terus berlatih. “Makin banyak
keringat keluar saat latihan,makin sedikit yang tertumpah saat pertandingan, “
katanya pada suatu waktu.
Mereka berdua
barangkali adalah guru guru yang disediakan alam untuk saya dalam meningkatkan
ketrampilan, maupun menambah kebijaksanaan kita. Tanpa menafika peran pihak
lain, teman di lapangan, rekan sesama penyuka tulisan. Mereka pun adalah guru
guru lainnya yang ikut membentuk saya sampai pada kemampuan (bermain dan
menulis) seperti sekarang. Mereka pun adalah guru guru untuk kita dalam skala
yang lebih kecil.
Tapi saya tak akan
mendebat teman saya tentang kerinduannya akan sosok guru ataupun panutan. Saya
hanya akan menceritakan kepadanya sebuah fragmen dalam drama Galileo yang dikutip Goenawan Mohamad
di salah satu tulisannya. Saat itu Galileo sedang diinterogasi oleh tim
inkuisitor gereja terkait pandangan barunya yaitu Helio sentris, yang menyatakan bahwa pusat dari tata surya atau
dunia ini adalah matahari. Dimana saat itu gerja masih meyakini bahwa pusat
dari alam semesta adalah bumi.
Saat interogasi
berlangsung sampai tengah hari, Galileo ditunggui oleh para muridnya yang setia
di luar gereja. Tepat saat petang menjelang terdengar lonceng gereja yang
menyatakan kemenangan gereja atas Galileo, artinya Galileo menarik pandangan
heliosentris tersebut dan bertekuk lutut atas kekuasaan gereja. Begitu pintu
dibuka, terdengar kencang sang murid, Andrea Sarti berteriak “ Betapa malang
sebuah negeri yang tak mendapatkan pahlawan “
Sambil menoleh,
Galileo membalas ringan : “Lebih malang lagi sebuah negeri yang mengharapkan
hadirnya seorang pahlawan.“
Tulisan Zen tentang
guru tadi yang kita dapat dari Timur, dan ungkapan Galileo yang saya rasa
mewakili semangat barat tentang kebebasan berpikir. Menurut saya adalah pilihan
jawaban untuk teman saya itu, dan pasti jawaban untuk kita semua yang masih
terjebak pada romantisme masa lalu dan selalu ingin adanya kekuatan dari luar
untuk sesuatu yang semestinya kita bisa lakukan sendiri.
Jangan terlalu
berharap lingkungan akan menyediakan kita apa yang kita perlukan sesuai keinginan
kita. Alam pasti punya caranya sendiri untuk melakukannya. Dan seandainya pun
tidak, kita masih punya hadiah terindah Tuhan untuk kita yaitu akal budi.
Akhirnya, untuk saat
ini saya masih bisa mempercayai ajaran Zen, tanpa menyepelekan kebebasan
pikiran ala Galileo, Tabik.