Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
Sepanjang hari kita hanya bermain-main saja
Menanam mimpi-mimpi
kemudian membiarkannya diterbangkan angin.
Dari atas bukit terlihat negeri kecil kita
Diselubungi kabut hitam dan puing sisa pembakaran
Maka,
Ayuninghati anakku simpan tangismu
dalam kendi-kendi leluhur yang dimatangkan bara
Sebab,
Ayuninghati anakku, perjalanan sandyakala negeri kita adalah kabut hitam yang menyisakan pendar cahaya
Karena,
Hanya dalam gelap terlihat cahaya
(Darwin, September 1999)
Dalam rimba raya, tanpa cahaya
Kita saling meraba, jarak dan waktu meniada
Hanya suara, dan kata
Yang seringkali begitu liar bagai ular
Meracuni pikiran, membiak curiga
Tak lelah mencari celah, dan kilah
Dan,
Kita sembunyi di kedalaman malam
Yang sia-sia mengubur masa silam
Menghitung detak jantung bertalu
Menjadi muara tanya dan rindu
Maka
Ayuninghati anakku, biarkan pusaran-pusaran itu
terus berputar menjadi jalan pulang tak terbilang
Karena pagi pasti menjelang
(Sanglah, Februari 2020)
lama waktu menunggu
pisahkan uban dari kutu
rasakan sentuhan kuku
Perih, gatal juga ngilu
Adalah kegilaan rindu
Lihatlah Ayuninghati anakku
Mimpi-mimpi itu tak berpintu
Genteng-gentengnya langit biru
Pada jendela bergayut bintang-bintang
Membentuk sayap mengajakmu terbang
Lalu di ruang mana kau simpan tanya
Sedang buku yang terbuka minta dibaca
didongengkan pada kanak dan kelana
Tapi,,
dengan aksara-aksara yang tak mampu kueja
Benar mimpi tanpa warna dan suara
Maka,
Ayuninghati anakku, beri tanda
Pada rabun mata dan nafas di dada
Agar ketuaan tak sia-sia
(Anggara, 24 Maret 2020)
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...