Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
Sepanjang hari kita hanya bermain-main saja
Menanam mimpi-mimpi
kemudian membiarkannya diterbangkan angin.
Dari atas bukit terlihat negeri kecil kita
Diselubungi kabut hitam dan puing sisa pembakaran
Maka,
Ayuninghati anakku simpan tangismu
dalam kendi-kendi leluhur yang dimatangkan bara
Sebab,
Ayuninghati anakku, perjalanan sandyakala negeri kita adalah kabut hitam yang menyisakan pendar cahaya
Karena,
Hanya dalam gelap terlihat cahaya
(Darwin, September 1999)
Dalam rimba raya, tanpa cahaya
Kita saling meraba, jarak dan waktu meniada
Hanya suara, dan kata
Yang seringkali begitu liar bagai ular
Meracuni pikiran, membiak curiga
Tak lelah mencari celah, dan kilah
Dan,
Kita sembunyi di kedalaman malam
Yang sia-sia mengubur masa silam
Menghitung detak jantung bertalu
Menjadi muara tanya dan rindu
Maka
Ayuninghati anakku, biarkan pusaran-pusaran itu
terus berputar menjadi jalan pulang tak terbilang
Karena pagi pasti menjelang
(Sanglah, Februari 2020)
lama waktu menunggu
pisahkan uban dari kutu
rasakan sentuhan kuku
Perih, gatal juga ngilu
Adalah kegilaan rindu
Lihatlah Ayuninghati anakku
Mimpi-mimpi itu tak berpintu
Genteng-gentengnya langit biru
Pada jendela bergayut bintang-bintang
Membentuk sayap mengajakmu terbang
Lalu di ruang mana kau simpan tanya
Sedang buku yang terbuka minta dibaca
didongengkan pada kanak dan kelana
Tapi,,
dengan aksara-aksara yang tak mampu kueja
Benar mimpi tanpa warna dan suara
Maka,
Ayuninghati anakku, beri tanda
Pada rabun mata dan nafas di dada
Agar ketuaan tak sia-sia
(Anggara, 24 Maret 2020)
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...