Jika Film Horor Indonesia Seperti “Bokep” – Bukan Salah Setan!
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
Kadang saya berpikir sambil duduk memandangi lautan lepas, karna kapal tempat saya bekerja tidak dperbolehkan untuk bersandar. Dibalik kasus virus corona ini ada hikmah tersendiri. Sadar akan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan. Begitu pula menjaga pola makan dan jenis makanan.
Dan bagi saya pribadi, dengan tidak adanya tamu, pekerjaan sedikit, saya bisa punya waktu dan energi lebih untuk menulis.
Seluruh dunia sekarang sedang dalam situasi genting. Semua sibuk berperang melawan virus yang sampai saat ini telah menelan puluhan ribu jiwa di seluruh dunia. Belum lagi yang terinfeksi. Kejadian luar biasa ini berimbas di segala lini kehidupan. Termasuk melemahnya perekonomian dunia.
Bagi para pekerja kapal pesiar seperi tulisan saya sebelumnya, menjadi sebuah shock therapy mengingat mereka mendapatkan rejeki dari tamu yang notabene sebagian besar berasal dari Amerika Serikat.
Hingga akhirnya pemerintah Amerika memutuskan untuk melarang warganya bepergian menggunakan kapal pesiar sampai batas waktu yang ditentukan yakni 30 hari. Mungkin saja nanti akan diperpanjang apabila keadaan dunia masih belum stabil dan virus corona masih belum menurun intensitasnya.
Dengan tidak adanya tamu, mutlak crew member yang penghasilannya berasal dari tiping tamu, tidak ada lagi pemasukan. Mereka hanya mendapat gaji pokok saja. Begitu juga kemungkinan ke depannya. Pulang itu adalah sudah pasti. Tapi mungkin bertahap. Company juga masih butuh beberapa orang di masing-masing departemen untuk tetap stay di kapal.
Dalam situasi yang seperti ini, pekerjaan sedikit, banyak waktu luang yang bisa digunakan untuk hal-hal yang positif dan menyenangkan. Ada yang berenang, lari sore di jogging track, begitu pula dengan fasilitas-fasilitas lainnya boleh digunakan oleh crew seperti gym, smoking area, swimming pool dan lain-lain.
Diantara semua itu, karena saya lebih senang duduk dan melamun, saya memutuskan untuk kembali menulis setelah sekian lama absen, dalam artian sudah lama saya tidak intens menulis dan menelurkan tulisan.
___
___
Dulu, sebelum bekerja di kapal pesiar, saya masih bisa menulis cerita pendek berbahasa Bali. Beberapa cerita tersebut saya masukkan ke dalam buku Antologi Ling. Kumpulan cerpen mistis kriminalis.
Anehnya, 5 tahun di kapal, saya sama sekali belum menulis cerita tentang kehidupan kapal. Mungkin artikel-artikel yang saya buat di Tatkala ini menjadi momentum pertama saya menuliskan situasi di kapal pesiar dan pertama kal saya menuliskannya ke dalam bahasa Indonesia.
Saat ini, masih ada tabungan ide dan tulisan berbahasa Bali yang akan saya terbitkan nanti. Sambil belajar menulis menggunakan bahasa Indonesia. Karena menurut saya pribadi, ketika sudah terbiasa menulis dengan bahasa Bali, untuk melompat menggunakan bahasa Indonesia agak sulit. Masih terlihat kaku. Semoga nanti terbiasa.
Hari-hari belakangan ini, di kapal, saya menulis apa saja yang saya temui. Belajar menulis di kapal pesiar dan saya sebagai pelaku di dalamnya. Tak bisa dipungkiri, dalam kekhawatiran, kecemasan serta kegentingan akibat adanya virus corona, menulis menjadi sebuah pilihan untuk menuangkan segala perasaan dan hal-hal lain yang telah saya temui.
Banyak hal yang terjadi. Banyak hal pula yang harus ditulis. Semoga saja kesehatan selalu ada dalam diri ini hingga saya bisa tetap menuliskan yang telah berlalu dan situasi saat ini yang selalu berubah tiap detik.
Salam dari samudra. [T]
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
MEMBACA buku sejarah adalah membaca penafsiran-penafsiran. Membaca buku sejarah adalah membaca kejadian masa lampau yang hanya mungkin ditilik kembali dengan membangun serpihan-ser...
Cerpen: I Putu Agus Phebi Rosadi DI ruang tamu, tiga orang interogator telah duduk di depanku. Matanya tajam. Seperti ingin mencengkram leherku. “Tuan-tuan. Jangan memandang seper...
DI tengah rapat kantor, tiba-tiba telepon selular bergetar. “Halo.” Setengah berbisik. “Lagi sibuk?” suara di sana. “Lagi meeting, apa kabar?” Ujung-ujungnya: “Ada stok naskah cerp...
POLEMIK drama gong tampaknya terus berlanjut, dan tentu saja akan bagus jika polemik itu terus berlanjut sampai seni pertunjukan itu benar-benar lahir kembali dan hidup. Jika ada “...
TIDAK ada yang bisa membantah jika saya penggemar sejati film-film Warkop DKI – Dono, Kasino, Indro. Jauh-jauh dari Bali Barat saya melesat ke Denpasar ketika film Warkop DKI Rebor...
ANAKMU bukanlah anakmu, mereka adalah anak zaman. Tak ada hak bagi orangtua untuk mengungkung jiwa mereka, kendatipun rumah disiapkan buat raga mereka. Paling tidak, itulah pendapa...
SEBUAH ruang, satu tempat, sebuah wilayah, bagi manusia Bali, bisa diartikan sebuah arsitektur yang unik dan otentik. Dalam ruang itu orang Bali melakukan aktivitas, bergumul sehar...
SETIAP orang pasti pernah merasakan takut, tidak peduli tua atau muda. Rasa takut adalah salah satu emosi dasar sama seperti bahagia, sedih, marah dan sejenisnya. Menurut Kamus Bes...
LELAKI ABSTRAK Pada hamparan kanvasmu balon-balon meletus menjadi wara-warni pelangi gugusan mega awan pudar langit terhimpit mendung ditimpa matahari siluet senja halim...