Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Era tahun 2000-an ini banyak punya sebutan yang beredar di tengah masyarakat maupun oleh netizen. Ada yang menyebut era revolusi industri 4.0, era disrupsi, era milenial, era hyperconnected society, era baru dan sebagainya. Apapun sebutan yang sering didengar, paling tidak era sekarang ditandai dengan banyaknya perubahan.
Dulu, handphone hanya dimiliki oleh kalangan tertentu. Sperti politisi, dosen, dokter dan profesi elit lainnya. Jumlahnya sangat sedikit. Kepemilikan handphone dalam satu desa bisa dihitung dengan jari. Sekarang kondisinya jauh berbeda. Dimana-mana ditemui orang memegang handphone. Tidak sedikit orang memiliki handphone lebih dari satu. Kepemilikan handphone tidak mengenal profesi.
Semua profesi sudah mampu dan berhak memiliki handphone. Tukang suwun, tukang parkir, cleaning service, bahkan pengemis pun sudah memiliki handphone. Jika melihat kondisi ini, harusnya masyarakat makin sejahtera. Alat komunikasi sebagai salah satu akses informasi sudah dalam genggaman. Konon, informasi adalah sumber kemakmuran.
Perubahan berikutnya adalah anak muda makin jarang pergi ke peken (pasar tradisional). Mereka lebih memilih untuk berbelanja ke toko berjaringan. Peken identik dengan tawar-menawar sedangkan di toko, hal itu tidak ditemui. Tidak bisa nawar adalah salah satu alasan mereka datang ke toko. Padahal harga di peken relatif lebih murah. Tetapi, di peken suasananya ramai, kadangkala becek bahkan perlu ojek saat kesana.
Sedangkan jika ke toko, suasananya jauh berbeda. Tampak bersih, cahaya bagus, disapa oleh pegawai toko yang ramah serta ada lagu yang terdengar mengiringi langkah pembeli. Terpenting lagi, rasa bangga dan tiba-tiba gengsi mendadak meningkat jika berbelanja ke toko. Ini masalah rasa, sehingga sangat susah diukur. Tapi, demikianlah yang dirasakan oleh kaum milenial saat datang berbelanja ke toko.
Saat ini, dengan mudah ditemui toko berjaringan. Jumlahnya makin hari makin banyak. Hampir di setiap jalan utama ada toko berjaringan. Ini artinya kebutuhan mayarakat akan keberadaan toko ini tinggi. Sebagai bukti nyata, setiap ada buka toko baru, akan selalu ramai dikunjungi. Belum pernah terdengar toko berjaringan tutup. Sebaliknya setiap dibuka selalu diserbu oleh anak muda. Apalagi sekarang, toko ini menyediakan fasilitas baru berupa tempat duduk. Kursi-kursi disediakan di depan gerai untuk tujuan nongkrong. Toko berjaringan benar-benar memberi kenyamanan. Toko sangat mengerti apa yang diinginkan anak muda kekinian.
Perubahan adalah keniscayaan. Orang bijak menyebut, yang paling kekal adalah perubahan. Ke depan akan banyak dijumpai perubahan-perubahan di sekitar. Perubahan fundamental juga terjadi pada perilaku pembeli/konsumen saat ini. Coba perhatikan jika konsumen berada di tempat makan atau tempat nongkrong terkenal. Perilakunya jauh berbeda jika sedang berada di warung tegal atau warung pojok kampus.
Sesaat sebelum pergi ke tempat makan terkenal, maka di status media sosialnya akan diketik “prepare to resto xxx”. Sambil dandan dan ganti baju akan cekikian melihat respon temannya di media sosial. Ada yang memberi jempol, love, komentar singkat seperti keren, mantul, top dan sejenisnya ditambah dengan emoticon lucu. Saat mau berangkat ke lokasi, juga update status “otw resto xxx”. Lagi-lagi status tersebut mendapat respon dari netizen karena tempat tersebut merupakan tempat bergengsi.
Saat tiba di tempat makan, wajib hukumnya update status “at resto xxx”. Terkadang jenis makanan dan minuman yang dipesan tidak begitu penting karena lebih penting tempatnya. Tempatnya mampu menaikkan derajat kekinian anak muda. pemandangan ini awalnya susah diterima oleh mata dan akal sehat.
Tetapi, saat ini pemandangan itu ditemui di banyak tempat sehingga hal itu dianggap wajar. Bahkan dirasa ada yang kurang jika belum melaksanakan hal tersebut. Hal tersebut sudah dianggap ritual sehingga wajib dilakukan oleh kaum milenial.
Ritual itu adalah memfoto makanan sebelum dinikmati. Padahal, saat sekolah di TK selalu diajarkan berdoa terlebih dahulu sebelum makan. Ajaran guru TK berubaah praktiknya ketika sudah menjadi anak muda. Makanan dan minuman yang tersaji wajib dipoto terlebih dahulu sebelum di makan. Bahkan sebelum makan, lebih penting sharing berupa update status dulu dengan caption “bahagia itu sederhana”.
Sambil makan anak muda akan selalu melihat-lihat handphone. Berharap ada respon dari teman sosialitanya. Berbagai respon dan ekspresi akan segera menyerbu status tersebut. Sambil makan dan sambil balas komentar di media sosial. Tanpa memedulikan kondisi sekitar. Apakah di sekitar ada yang ulang tahun, ada yang sedang pacaran atau sedang menyendiri dalam kesendirian.
Jika itu ditengok, juga akan terlihat pemandangan yang hampir sama yakni cekrek dulu terus upload dan cekikian sendiri sambil melihat handphone. Artinya sekitar kita kondisinya mirip. Bisa jadi karena di sekitar kondisinya begitu makanya kita mengikuti trend itu. Siapa yang jadi trendsetter, siapa yang jadi follower atau semuanya follower. Lagi-lagi itu bukan hal yang penting. Yang penting eksis di media sosial.
Mencermati fenomena tersebut, sebenarnya ada perubahan besar yang dialami atau dilakukan oleh konsumen. Ada perbedaan cara konsumsi pada masa lalu dengan masa kini. Dulu hanya sekadar konsumsi (consuming), kini konsumen dapat menyebarkan (sharing) apa yang dikonsumsi dan menggiring opini/mengajak (shaping) para teman atau followernya di dunia maya.
Saat ini kegiatan konsumsi bukanlah menjadi yang utama tetapi menjadi perantara tujuan yang lain. Yang utama adalah sharing, kemudian shaping terakhir baru consuming. Jika dahulu masyarakat merasa tidak enak memberitakan tentang dirinya. Di era sekarang, netizen memiliki hasrat untuk sharing yang lebih tinggi tentang narasi dirinya. Selamat datang di era milenial, sebuah era ketika setiap orang merasa berharga atau memiliki harga diri bila eksis di dunia maya, atau diterima secara luas dan diberi jempol/like/comment atau emoticon. [T]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...