Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Sejak Covid-19 alias virus corona merebak ke setiap penjuru bumi, saat itulah bak badai menghampiri dan mengejutkan semua pihak termasuk para pekerja kapal pesiar. Tamu-tamu membatalkan keikutsertaannya. Ditambah dari pihak pemerintah US sendiri menyatakan melarang warganya untuk berlibur ke luar negeri dengan menggunakan jasa kapal pesiar.
Sebenarnya sejak akhir Februari tamu semakin sedikit yang mau ikut berlayar. Dari saat itulah bermunculan spekulasi, baik dari kalangan officer maupun crewmember itu sendiri. Saat itu sudah diduga, kemungkinan awal atau paling lama, pertengahan Maret sudah tidak ada lagi tamu.
Dan akhirnya dugaan itu terjadi. Start pertengahan Maret hingga April, pas 30 hari ke depan tidak akan ada tamu di seluruh kapal pesiar.
Dari obrolan-obrolan ringan di smoking area ditemani segelas kopi panas, kemungkinan-kemungkinan hadir bagai hantu yang selalu membayangi bahkan menakut-nakuti kami para pekerja kapal pesiar.
Satu hal yang pasti adalah pulang massal. Beberapa kapal pesiar telah melakukan hal tersebut. Bagai bom waktu hanya tinggal menunggu waktu kapan akan meledak meluluhlantakkan crew member yang masih punya hutang maupun cicilan yang harus dibayar tiap bulan.
Saat ini crew member masih bekerja seperti biasa sesuai dengan job description mereka masing-masing. Meski mereka tahu tiap hari pekerjaan semakin sedikit. Jika semakin sedikit dan akhirnya tidak ada lagi yang harus dikerjakan, nampaknya saat itulah company akan memulangkan semuanya.
Kemungkinan akan dimulai dari crew member dengan tiping system seperti stetroom attendant, bar dan restaurant. Dilanjutkan crew member dengan fix salary seperti public area attendant, pool attendant, cafe attendant dan laundry.
Tapi itu hanyalah sebuah kemungkinan, mungkin saja akan berbeda ke depannya. Apapun yang terjadi nanti, siap tidak siap, crew member harus menerima keputusan dari pihak company. Meskipun kemungkinan terburuk harus dipulangkan.
Tapi seperti tulisan saya sebelumnya, company pastilah sudah mempertimbangkan matang-matang jikalau sampai akhirnya memulangkan sebagian atau semua crew membernya. Saat ini crew member hanya perlu tetap tenang, menjaga kesehatan, dan melanjutkan pekerjaan sambil menunggu keputusan final.
Namun ini bukanlah akhir, harapan akan pulihnya dunia akibat virus corona semakin membesar. China telah menang melawan virus tersebut, dan telah mengirimkan dokter-dokternya ke negara yang lain. Begitu pula vaksin dikatakan sudah ditemukan dan siap diedarkan. Setelah semua kembali normal, pastinya company akan memanggil crew member untuk kembali bekerja. Jadi, tetap bersabar dan bersemangat menatap hari esok.
Salam dari samudra. [T]
***
BACA JUGA:
____
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...