Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
Sudah lama kita tidak lagi menaruh hormat kepada tempat tinggal dewa gunung. Atas nama perut, kita lepaskan batu-batu dan tanah-tanah penyangganya. Lalu kita ganti dengan semen-semen yang seperti anugerah dan terkutuk itu. Jika keluar api dari gunung, kita ketakutan mengungsi kemana-mana. Kita tinggalkan gunung-gunung yang awalnya kita puja-puja sebagai palinggih batara. Meninggalkan gunung, sama dengan meninggalkan palinggih batara. Dimana letak pengabdian kita yang sudah terlanjur mengaku sebagai pemuja yang setia?
Meninggalkan palinggih sudah terjadi ratusan tahun lalu, dicatat oleh Mpu Tanakung. Entah karena apa palinggih-palinggih itu ditinggalkan. Banyak bangunan rusak, persada ditumbuhi rerumputan, patung penjaga tergeletak begitu saja di atas tanah tanpa tenaga. Burung-burung di dekatnya menjerit. Seperti hati perempuan yang ditinggal mati suaminya. Perempuan memang berarti kesetiaan. Ada banyak cerita yang bisa kita jadikan sumber bacaan, bahwa kesetiaan perempuan tidak perlu diragukan lagi. Saat seorang Raja mati, para istrinya menunjukkan kesetiaan dengan bunuh diri. Saya belum melihat atau membaca, ada raja yang bunuh diri untuk menunjukkan kesetiaan pada istrinya.
Ada banyak jerit kesedihan yang serupa dengan jeritan burung-burung di dekat palinggih yang dituturkan oleh Tanakung. Ada orang-orang yang menjerit karena tanahnya akan diambil oleh korporasi tertentu karena sesuatu dan lain hal. Ada jerit nelayan yang tidak bisa lagi melaut dengan tenang, karena lautnya berubah jadi tumpukan tanah. Ada pakaseh yang menjerit, karena aliran-aliran sungainya hendak dibanguni rumah-rumah mewah. Ada anak-anak kecil menjerit, karena tidak tahu rasanya memakai seragam sekolah. Ada juga pekik kecil dari para orang tua yang kesehatannya tidak bisa dijamin oleh negara. Jika beragam jeritan tangis ini kita catat, kertas panjang yang dibentangkan dari ujung ke ujung pulau Bali, tidak akan cukup.
Kita ini adalah pendosa yang pura-pura jadi pendoa. Mulut kita lebih tajam dari pisau-pisau yang menggorok leher binatang yang konon kita korbankan untuk keselamatan dunia. Mereka, binatang-binatang itu dikorbankan nyawanya, dan kita [manusia] hanya bisa bicara. Bicara dengan nada kasar, kita sebut demo. Bicara dengan nada halus, kita sebut doa. Demo dan doa sama saja, keduanya dihasilkan dari kristalisasi pemikiran atas sesuatu yang tidak bisa terselesaikan. Demo dan doa sama-sama dilahirkan dari situasi yang eksplosif.
Sudah lama kita tidak menaruh hormat pada tempat tinggal dewa dan dewi laut. Kita sebut laut dengan sagara. Sagara konon juga tempat tinggal batara. Batara di sagara kita sebut batara sagara. Kita yakini itu, meski tidak pernah sekalipun kita benar-benar melihatnya dengan mata terbuka. Kita tidak pernah bertanya, dari mana datangnya keyakinan itu. Yang kita tahu, sagara adalah wilayah yang mistis dan menjadi palinggih batara.
Karena kita yakini di sagara ada batara, maka kesana kita nunas tirtha. Ke sagara pula, kita hanyutkan sisa-sisa pembakaran moyang yang kita cintai. Untuk apa kita hanyutkan seseorang yang kita cintai, jika bukan karena keyakinan dan kepercayaan bahwa moyang akan baik-baik saja di sagara. Dia akan dijaga dengan baik oleh batara sagara sebelum kita pinta kembali dan kita dudukkan di rumah. Yang jelas, kita percaya bahwa sagara adalah tempat penyucian segala kekotoran. Bayangkan betapa sucinya makhluk-makhluk yang berumah di sagara. Makhluk-makhluk suci mistik itu pula yang kita jerat dengan sampah-sampah plastik.
Ada-ada saja ulah kita manusia. Tapi kita tidak pernah malu mengutip kata-kata Sarasamuccaya, ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wwwang juga wenang gumawayaken ikang subha asubha karma, kuneng panentasakena ring subha karma juga ikang asubha karma, phalaning dadi wwang [dari segala yang ada, hanya penjelmaan manusia ini yang dapat melakukan perbuatan baik dan buruk, sesungguhnya yang akan menyucikan hanya perbuatan baik (dari) perbuatan buruk itu, pahalanya lahir sebagai manusia].
Konon menjelma sebagai manusia adalah anugerah, karena dengan berbuat baik kita bisa menyucikan segala perbuatan buruk. Semoga kita adalah manusia yang tabah, jadi tidak tergoda untuk menguasai surga karena mendapat anugerah. Niwatakawaca jadi takabur karena anugerah yang diberikan kepadanya. Salah satu ciri takabur adalah lupa. Kita lupa sudah lama tidak menaruh hormat pada palinggih batara gunung dan laut. Kita juga lupa, sudah lama kita tidak menaruh hormat pada tempat tinggal dewa dan dewi di alam kecil: tubuh, badan. Kita sudah lupa rasanya memanusiakan manusia.
_______
KaCang:
Doa : kita ucapkan tapi tidak mengerti kepada siapa
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...