Sudah lama kita tidak lagi menaruh hormat kepada
tempat tinggal dewa gunung. Atas nama perut, kita lepaskan batu-batu dan
tanah-tanah penyangganya. Lalu kita ganti dengan semen-semen yang seperti
anugerah dan terkutuk itu. Jika keluar api dari gunung, kita ketakutan
mengungsi kemana-mana. Kita tinggalkan gunung-gunung yang awalnya kita
puja-puja sebagai palinggih batara.
Meninggalkan gunung, sama dengan meninggalkan palinggih batara. Dimana letak pengabdian kita yang sudah terlanjur
mengaku sebagai pemuja yang setia?
Meninggalkan palinggih
sudah terjadi ratusan tahun lalu, dicatat oleh Mpu Tanakung. Entah karena apa
palinggih-palinggih itu ditinggalkan. Banyak bangunan rusak, persada ditumbuhi
rerumputan, patung penjaga tergeletak begitu saja di atas tanah tanpa tenaga. Burung-burung
di dekatnya menjerit. Seperti hati perempuan yang ditinggal mati suaminya.
Perempuan memang berarti kesetiaan. Ada banyak cerita yang bisa kita jadikan
sumber bacaan, bahwa kesetiaan perempuan tidak perlu diragukan lagi. Saat
seorang Raja mati, para istrinya menunjukkan kesetiaan dengan bunuh diri. Saya
belum melihat atau membaca, ada raja yang bunuh diri untuk menunjukkan
kesetiaan pada istrinya.
Ada banyak jerit kesedihan yang serupa dengan jeritan
burung-burung di dekat palinggih yang dituturkan oleh Tanakung. Ada orang-orang
yang menjerit karena tanahnya akan diambil oleh korporasi tertentu karena
sesuatu dan lain hal. Ada jerit nelayan yang tidak bisa lagi melaut dengan
tenang, karena lautnya berubah jadi tumpukan tanah. Ada pakaseh yang menjerit, karena aliran-aliran sungainya hendak
dibanguni rumah-rumah mewah. Ada anak-anak kecil menjerit, karena tidak tahu
rasanya memakai seragam sekolah. Ada juga pekik kecil dari para orang tua yang
kesehatannya tidak bisa dijamin oleh negara. Jika beragam jeritan tangis ini
kita catat, kertas panjang yang dibentangkan dari ujung ke ujung pulau Bali,
tidak akan cukup.
Kita ini adalah pendosa yang pura-pura jadi pendoa.
Mulut kita lebih tajam dari pisau-pisau yang menggorok leher binatang yang
konon kita korbankan untuk keselamatan dunia. Mereka, binatang-binatang itu
dikorbankan nyawanya, dan kita [manusia] hanya bisa bicara. Bicara dengan nada
kasar, kita sebut demo. Bicara dengan nada halus, kita sebut doa. Demo dan doa
sama saja, keduanya dihasilkan dari kristalisasi pemikiran atas sesuatu yang
tidak bisa terselesaikan. Demo dan doa sama-sama dilahirkan dari situasi yang
eksplosif.
Sudah lama kita tidak menaruh hormat pada tempat
tinggal dewa dan dewi laut. Kita sebut laut dengan sagara. Sagara konon juga tempat tinggal batara. Batara di sagara
kita sebut batara sagara. Kita yakini itu, meski tidak pernah sekalipun kita
benar-benar melihatnya dengan mata terbuka. Kita tidak pernah bertanya, dari
mana datangnya keyakinan itu. Yang kita tahu, sagara adalah wilayah yang mistis
dan menjadi palinggih batara.
Karena kita yakini di sagara ada batara, maka kesana
kita nunas tirtha. Ke sagara pula,
kita hanyutkan sisa-sisa pembakaran moyang yang kita cintai. Untuk apa kita
hanyutkan seseorang yang kita cintai, jika bukan karena keyakinan dan
kepercayaan bahwa moyang akan baik-baik saja di sagara. Dia akan dijaga dengan
baik oleh batara sagara sebelum kita pinta kembali dan kita dudukkan di rumah.
Yang jelas, kita percaya bahwa sagara
adalah tempat penyucian segala kekotoran. Bayangkan betapa sucinya
makhluk-makhluk yang berumah di sagara. Makhluk-makhluk suci mistik itu pula
yang kita jerat dengan sampah-sampah plastik.
Ada-ada saja ulah kita manusia. Tapi kita tidak pernah
malu mengutip kata-kata Sarasamuccaya, ri
sakwehning sarwa bhuta, iking janma wwwang juga wenang gumawayaken ikang subha
asubha karma, kuneng panentasakena ring subha karma juga ikang asubha karma,
phalaning dadi wwang [dari segala yang ada, hanya penjelmaan manusia ini
yang dapat melakukan perbuatan baik dan buruk, sesungguhnya yang akan
menyucikan hanya perbuatan baik (dari) perbuatan buruk itu, pahalanya lahir
sebagai manusia].
Konon menjelma sebagai manusia adalah anugerah, karena
dengan berbuat baik kita bisa menyucikan segala perbuatan buruk. Semoga kita
adalah manusia yang tabah, jadi tidak tergoda untuk menguasai surga karena
mendapat anugerah. Niwatakawaca jadi takabur karena anugerah yang diberikan
kepadanya. Salah satu ciri takabur adalah lupa. Kita lupa sudah lama tidak
menaruh hormat pada palinggih batara gunung dan laut. Kita juga lupa, sudah
lama kita tidak menaruh hormat pada tempat tinggal dewa dan dewi di alam kecil:
tubuh, badan. Kita sudah lupa rasanya memanusiakan manusia.
_______
KaCang:
Doa : kita ucapkan tapi tidak mengerti kepada
siapa