Cerpen: Putri Budiastini
Malam itu, tak ada suara.
Terlihat lampu bohlam kuning, itulah satu-satunya penerangan di depan gerbang
kontrakan. Cahayanya yang sedikit redup membuat suasana terasa lebih hening
dari sebelumnya. Ditambah lagi, terdengar suara kucing liar melahirkan yang
mengejutkan dan memecah keheningan menjadi seram bagiku.
Mataku seketika melirik
jam dinding di kamar kos. Ternyata hampir tengah malam dan aku masih terjaga
mengerjakkan tugas kampus.
Kemudian terdengar bunyi
kreotan pintu kamar sebelah, ternyata ibu kos yang mau keluar ke kamar kecil di
sudut yang temaram. Mataku serasa seperti lampu bohlam di pintu gerbang itu. Tiba-tiba
kasurku serasa memanggil, terlihat empuk dan nyaman sekali. Tanpa pikir
panjang, aku bergegas menyelesaikkan tugasku.
“Huh, akhirnya selesai juga. Bantal, guling, dan kasurku tercinta, aku datang!” Aku bergegas menuju kasur, sambil mematikan lampu kamar.
Tiba-tiba terdengar teriakan di luar.
“Hei, tunggu…. Hei, siapa
kau? Tunggu. Kenapa di sini?” Itu teriakan ibu kos.
Mata yang awalnya kututup
kurang dari lima menit sudah kubuka lagi dengan rasa terkejut dan cepat-cepat
keluar kamar. Ibu kos terlihat panik dan berlarian mondar-mandir depan
kamarnya. Aku pun menghampirinya dengan jantung yang hampir copot.
“Bu, ada apa? Kenapa berteriak malam-malam begini?”
“Itu dia ada disini, ke sana. Hei, di ke sana, dia ke sana!” teriak ibu kos dengan panic dan terbata-bata, dan ngos-ngosan.
“Siapa, Bu? Tidak ada
siapa-siapa di sini,” sahutku sambil sigap melihat sekitar dan benar memang tidak
ada siapapun.
“Itu tadi ibu lihat ada
laki-laki yang masuk ke kontrakan pakai jaket hitam, terus ibu hampiri hendak
bertanya, eh laki-laki itu menghilang entah ke mana perginya. Ibu hendak masuk
kamar terasa ada bayangan hitam pergi ke gerbang depan dan ibu teriakin gak ada
balasan,” tutur ibu kos.
“Ya, kalau begitu kita
cari sekitaran sini yuk, Bu. Takutnya orang jahat,” sahutku kembali menawarkan
diri.
Sudah hampir subuh aku
dan ibu kos menggeledah seluruh tempat sampai ke kamar-kamar yang kosong, tapi
hasilnya tetap saja tidak ada siapa. Setelah sekian lama, kami pun memutuskan
untuk tidur saja.
Dering alarm berisik
sekali. Hanya tiga jam waktu tidurku. Sungguh lelah untuk bangun setelah
kejadian kemarin malam. Tapi apa daya, aku harus segera bergegas ke kampus.
Ketika aku membuka pintu kamar, banyak anak kos berkumpul di depan kamar ibu
kos. Aku yang penasaran ikut nimbrung juga, tapi nyatanya ibu kos menceritakan
kejadian kemarin malam dan memperketat aturan bahwa setiap orang yang keluar
masuk kontrakan harus mengunci pintu gerbang. Aku yang merasa ibu kos hanya
berkhayal saja, segera pergi ke kampus dan cukup mengetahui peraturan barunya.
Kejadian malam itu
membuat suasana kos terasa tambah hening dan makin seram saja. Tak ada lagi
anak kontrakan yang berbincang-bincang sampai larut malam. Banyak serba-serbi
tentang sosok lelaki itu. Banyak perspektif yang muncul. Jangan-jangan ia
tahanan polisi yang kabur, jangan-jangan ia orang cabul, pedofil, jangan-jangan
ia memang benar hantu gentayangan. Semua praduga itu memunculkan keresahan
selama satu minggu ini. Keberadaan lelaki tak dikenal itu benar-benar menyeret
rasa penasaranku akan siapa sebenarnya lelaki itu.
Beberapa anak kos juga
pernah melihat laki-laki dengan sosok yang sama keluar masuk kontrakan di malam
hari. Tapi mereka tidak seberani ibu kos yang teriak-teriak dan mengejar
laki-laki itu langsung. Mereka hanya menceritakan rasa takut mereka dan lebih
memilih untuk mengurung diri di kamar masing-masing. Sementara aku belum pernah
sedikitpun melihat sosok itu. Mungkin karena sebagian hariku, kuhabiskan di
kampus saja.
Pagi pun telah berganti
seperti biasanya. Jam tanganku menunjukkan pukul 01.00 Wita, karena tuntutan
kampus aku pulang selarut itu. Tentunya gerbang kos sudah terkunci. Ketika
sampai di depan gerbang, untuk pertama kalinya aku lihat sosok laki-laki yang
diceritakan itu. Entah itu laki-laki yang sama atau berbeda, aku tidak tahu. Mataku
tak berani berkedip, suhu tubuhnku naik turun. Tangan ini gemetaran mengrogoh
kantong, mencari-cari kunci untuk membuka gerbang, lalu, turun dan kubuka
gembok itu. Aku hanya berpikir, kenapa ia diam di depan gerbang jam segini. Aneh
rasanya jika seorang laki-laki parkir di depan kontrakan khusus putri dan
kenapa saya merasa dipandangi terus.
Tanpa bertanya, aku pun
bergegas masuk memakirkan kendaraanku. Tidak lupa juga mengunci pintu gerbang
kembali. Namun, ada kejanggalan. Ketika aku hendak mengunci pintu gerbang
kembali, sosok laki-laki itu menghilang. Aku hanya berpikir positif saja dan menuju
ke kamarku. Mungkin saja ia memang sudah pergi.
“Hei, kau lagi. Diam di sana.
Manusia atau setan? Diam. Woii…!” terdengar ibu kos kembali teriak-teriak.
“Eh iya, Bu, saya manusia kok,” terdengar suara laki-laki itu menjawab. Aku kaget dan langsung keluar kamar.
“Adek siapa ya? Subuh-subuh gini sudah berkunjung, mau cari siapa?”
“Saya mau cari Intan, Bu.
Dia dari daerah kampung saya, sudah sebulan ia kabur dari rumah dan saya dapat
kabar ia tinggal di sini!”
“Intan? Yang namanya Intan tidak ada di sini., mungkin kamu salah orang!”
“Ini alamatnya, Bu.” Lelaki itu menyodorkan kertas dengan alamat Intan yang dicari.
“Waduh, Nak, ini
alamatnya Jalan Rose No.50 di Gang 9. Ini Gang 6, Nak.” Seketika aku hanya bisa
menahan tawa.
“Lah, jadi minggu-minggu
ini saya salah memantau tempat, Bu? Ya ampun kenapa saya salah, tidak mungkin
saya salah melihat nomor gang,” jawab laki-laki itu dengan tak percaya.
“Lah ini memang
kenyataannya, Gang 6.” Ibu kos mulai kesal.
“Ya sudah, Bu, mohon maaf
saya telah mengganggu subuh-subuh begini”
“Iya, Nak, tidak apa!” kata
ibu kos senyum, padahal dalam hatinya bercampur aduk, antara lega dan kesal.
Aku pun kesal dan
terganggu juga. Sempat-sempatnya juga aku ikut takut dengan lelaki ini.
Laki-laki itu pun pergi
dan tidak kembali lagi meneror kontrakan kami. Laki-laki itu kemudian pergi
mencari alamat yang benar. Ia tampak masih kebingungan atas kesalahan menemukan
alamat. Aku yang didorong rasa penasaran, mengikutinya sampai depan gang. Saya
lihat ia bertanya pada orang yang lewat .
“Bang maaf, ini benar Gang
9 kan?” katanya sambil menunjuk nomor gang.
“Oh, walah, ini pakunya
copot. Maaf ya, Mas, ini Gang 6 bukan Gang 9. Saya lupa memperbaikinya!”
“Yahh, ternyata benar salah. Makasi, Bang!” Lelaki itu menepuk jidat dan bergegas mencari alamat yang benar. [T]
*Cerpen ini hasil workshop penulisan cerpen sehari dalam acara Mahima March March March, 14 Maret 2020 di Rumah Belajar Komunitas Mahima.