Percayakah
Anda pada Pemerintah Daerah dalam menghadapi penyakit menular?
Bagi
yang membaca dengan baik karya-karya ALBERT CAMUS pasti tidak pernah percaya
kalau Pemerintah Daerah bisa cekatan dan siaga menghadapi epidemi alias
penyakit menular.
Albert
Camus merumuskannya dengan sangat baik dalam novelnya yang monumental: SAMPAR
(dalam bahasa Perancis: La Peste) yang terbit tahun 1947.
Pemerintah
Daerah tidak berani ambil sikap dan tidak punya ketegasan dalam mengambil
keputusan, padahal ini sangat mendesak dalam penyelamatan masyarakat dalam
menghadapi penularan penyakit yang tidak diketahui obat dan pola penularannya
masih berkembang dan berubah, dengan sangat cepat.
Telah
terbukti ada yang meninggal karena penyakit menular melanda kota, tapi
pemerintah daerah masih tidak bergerak.
Hal
ini dinyatakan dalam bagian percakapan Dokter Rieux:
”Saya tidak mengerti sama sekali," Richard
mengaku, "sudah ada dua yang meninggal, satu dalam waktu empat puluh
delapan jam, lainnya dalam jangka waktu tiga hari. Pasien yang kedua
menunjukkan tanda-tanda akan sembuh ketika saya tinggalkan pagi itu.”
”Kabari saya jika ada kasus lain," kata Rieux.
Dia menelepon beberapa dokter lain. Hasilnya, dia
ketahui bahwa sekitar dua puluhan kasus yang sama telah terjadi pada hari-hari
terakhir. Hampir semuanya mengakibatkan kematian. Karena Richard menjabat
sebagai Ketua Ikatan Dokter di Oran, Rieux minta karantina bagi pasien- pasien
baru.
”Saya tidak dapat melakukannya," kata Richard,
"harus ada keputusan Pemerintah Daerah. Lagi pula, siapa yang memberitahu
Anda bahwa ada risiko penularan?”
”Tidak ada yang memberitahu. Tetapi gejala-gejalanya
mengkhawatirkan.”
Dokter
kebingungan dengan menunggu sikap Pemerintah Daerah di Oran, yang menjadi
setting terjadinya wabah mematikan dalam novel ALBERT CAMUS.
Dokter
tidak bisa menyembuhkan. Tugasnya hanya melakukan pengecekan dan siapa saja
yang tertular dikarantina.
Sebuah
kota tenang berubah menjadi mencekam. Dokter Rieux (tokoh utama) dalam usahanya
yang keras untuk meyakinkan Pemerintah Daerah hampir putus asa menghadapi
epidemi yang bergerak cepat seperti melahap seisi kota. Sebagai seorang dokter,
Rieux perasaannya mencekam menghadapi situasi, tapi ia berjuang untuk bisa
berbuat melakukan kewajibannya. Tidak ada dokter yang bisa melakukan usaha
dalam menyembuhkan penyakit menular ini, mereka hanya mendiagnosa dan
memutuskan untuk menulis perintah karantina. Para perawat bekerja dalam
ketakutan tertular, berada di garda depan dengan resiko penularan sangat
tinggi.
Dalam
situasi tersebut, masih saja Pemerintah Daerah bermain kucing-kucingan.
Komisi Kesehatan dipanggil ke kantor Pemerintah Daerah
atas usul Dokter Rieux.
”Memang benar penduduk khawatir," Dokter Richard
mengakui, "tetapi omong kosong terlalu membesar-besarkan segalanya. Kepala
Pemerintah Daerah mengatakan kepada saya: ambillah tindakan secepatnya kalau
Anda menghendakinya. Tetapi jangan menarik perhatian! Apalagi pejabat itu yakin
bahwa ini tidak serius.”
Pemerintah
Daerah Kota Oran — yang menjadi lokasi novel SAMPAR — sekalipun telah berjatuhan korban masih
menggangap ini tidak serius.
Semuanya menyebabkan kematian dalam waktu 48 jam.
Apakah Dokter Richard mau bertanggung-jawab untuk memastikan bahwa epidemi akan
berhenti tanpa tindakan preventif yang ketat?
Richard bimbang, menatap wajah Rieux, katanya,
”Katakanlah dengan sesungguhnya pikiran Anda! Apakah
Anda pasti bahwa ini sampar?”
”Anda salah melihat masalahnya. Ini bukan soal kosa kata. Ini soal waktu.”
”Menurut pendapat Anda," kata Kepala Pemerintah
Daerah, "meskipun seandainya ini bukan sampar, tindakan-tindakan preventif
ketat yang diperuntukkan masa epidemi sampar seharusnya diberlakukan.”
”Kalau Anda mendesak saya harus mempunyai 'pendapat',
ya, memang begitulah!”
Dokter-dokter berunding, akhirnya Richard berkata,
”Jadi kita harus bertanggung jawab bertindak
seolah-olah penyakit…”
Perdebatan
dan memilih kosa kata, justifikasi untuk melakukan tindakan Kepala Pemerintahan
Daerah berjalan alot, menghabiskan waktu seperti abai tidak memikir kecepatan
penularan di luar sana. Lebih sibuk memilih kosa kata dan telah kehilangan
banyak waktu dalam urusan rapat-rapat memilih kosa kata yang menurut Dokter
Rieux tidak sebuah sikap plin-plan Kepala Pemerintahan Daerah yang lamban.
Ada
bagian dari kesaksian Dokter Rieux menunjukkan ketidakseriusan Pemerintahan
Daerah:
Hari kemudiannya, bagaimanapun juga Rieux melihat
kertas-kertas selebaran atas perintah kilat Pemerintah Daerah, ditempelkan di
sudut-sudut kota paling jauh.
Dari selebaran ini sukar dibuktikan bahwa pihak
berwenang menghadapi situasi dengan kesungguhan. Tindakan-tindakan tidak ketat.
Rupanya mereka menghindari kepanikan penduduk Oran. Memang pendahuluan surat
keputusan itu mengumumkan bahwa beberapa kasus demam berbahaya yang belum dapat
dikatakan risiko penularannya, telah muncul di kawasan Oran. Kasus-kasus ini
tidak cukup berciri sehingga benar-benar mengkhawatirkan, dan dalam suasana
ini, diharap penduduk tenang.
Dialog
kejengkelan Dokter Rieux pada Kepala Pemerintahan Daerah muncul dalam
percakapan ini:
”Ya," sahut Kepala Daerah, "saya mengetahui
angka- angka itu. Memang mengkhawatirkan.”
”Lebih dari mengkhawatirkan! Angka-angka itu jelas
sekali membuktikan bahwa memang ada epidemi.”
”Saya akan minta instruksi dari pusat.”
Castel turut mendengarkan percakapan itu, melihat Rieux
meletakkan kembali teleponnya.
”Perintah dari pusat!" kata Rieux jengkel,
"yang diperlukan adalah kreatif dalam menanggapi keadaan secepatnya.”
Di
kepala Kepala Pemerintahan Daerah angka-angka menjadi pertimbangan. Sepertinya
nyawa manusia telah menjadi angka. Memikirkan kosa kata menghabiskan waktu
banyak, demi bagian penting pidato politiknya.
Novel
Sampar ini dengan sangat cermat memotret bagaimana Pemerintah Daerah, di
mana-mana sama saja, senantiasa berkilah: "Menunggu instruksi dari
pusat". Kalimat kilah cuci tangan ini terus diucapkan sekalipun dalam
kebencanaan yang mengancam sebuah kota.
Dalam
berbagai kesempatan Dokter Rieux harus menjelaskan bahwa sebagai dokter dia
perlu berkoordinasi secara cepat dan sistematis dalam penanganan epidemi dengan
pemerintah. Apalagi sebagai dokter sekalipun ia tidak bisa memastikan secara
pasti seseorang terpapar atau terjangkiti atau tidak.
Tiada
alat kedokteran di daerah Oran yang tersedia dalam mendiagnose. Nol besar. Ia
hanya bisa mendikteksi dengan berbekal termometer pengukur suhu.
”Percayalah bahwa saya mengerti keadaan Anda,"
akhirnya Rieux berkata, "tapi cara berpikir Anda keliru. Saya tidak dapat
membuat surat keterangan karena kenyataannya saya tidak tahu apakah Anda
terkena penyakit itu atau tidak. Dan lagi, seandainya betul Anda tidak sakit,
saya tidak dapat memastikan, pada detik Anda keluar dari tempat praktek saya
dan masuk ke kantor Pemerintah Daerah, Anda tidak terkena penularan. Dan
meskipun ….”
Dalam
percakapan lain ia mengingatkan bahwa pekerjaanya sebagai dokter beresiko
kematian. Pengabdiannya harus ditebus dengan kematian.
”Percayalah bahwa usul Anda ini saya terima dengan
senang hati! Saya memerlukan bantuan, lebih-lebih dalam pekerjaan ini. Saya
tanggung agar gagasan ini diterima oleh Pemerintah Daerah. Apalagi di waktu ini
mereka tidak punya pilihan! Tapi ….”
Rieux berhenti berbicara, tampak berpikir, kemudian meneruskan,
”Tetapi Anda pasti tahu, bahwa pekerjaan ini bisa
menyebabkan kematian. Bagaimanapun juga saya harus mengi- ngatkan Anda. Apakah
Anda telah memikirkannya baik-baik?”
Akhirnya
Kota Oran ditutup.
Digambarkan
suasana kota Oran yang ditutup:
Di dalam kota sendiri, Pemerintah telah memikirkan
mengucilkan daerah-daerah tertentu yang sangat parah. Dari sana, yang
diperbolehkan keluar hanyalah orang-orang yang bertugas penting. Penghuni di
sana terpaksa menganggap tindakan itu sebagai satu gangguan yang khusus
ditujukan kepada mereka. Akibatnya, mereka berpikir bahwa penduduk daerah lain
adalah orang yang bebas. Sebaliknya, penduduk yang tinggal di pinggiran, di
waktu-waktu kesusahan merasa terhibur jika membayangkan orang tengah kota
kurang bebas daripada mereka. "Masih ada yang lebih terkurung daripada
saya" adalah kalimat yang meringkaskan satu-satunya kemungkinan berharap.
Lalu
banyak muncul kerusuhan akibat situasi kota yang sangat absurd. Masyarakat
lebih memilih membakar kota daripada pemberantasan kuman yang dipercaya menjadi
penyebab epidemi.
Kira-kira pada waktu itu pulalah terjadi banyak
kebakaran terutama di daerah rekreasi di pintu kota sebelah barat. Informasi
mengatakan bahwa itu adalah orang-orang yang kehilangan akal karena kesedihan dan
kemalangan, sepulang dari karantina lalu membakar rumah mereka dengan maksud
memusnahkan kuman-kuman sampar. Sukar sekali memberantas perbuatan itu.
Padahal, disebabkan oleh angin keras, pembakaran yang sering terjadi itu selalu
membahayakan seluruh daerah. Setelah pemberian penyuluhan bahwa pemberantasan
kuman yang dilaksanakan pihak berwenang di rumah-rumah guna menghindari risiko
penularan ternyata tidak dipedulikan penduduk, dikeluarkanlah keputusan hukuman
sangat berat bagi pembakar-pembakar yang tidak sadar itu.
Masyarakat
tidak lagi mendapat pasokan pangan tapi terkurung di kotanya. Masyarakat
tergesa berebutan mencari kebutuhan pokok. Kota makin chaos:
Ini disebabkan oleh kesukaran pengadaan bahan pokok.
Semakin hari semakin gawat. Maka muncullah spekulasi. Bahan-bahan kebutuhan
pokok ditawarkan dengan harga setinggi langit. Oleh sebab itu keluarga-keluarga
miskin mengalami hidup sangat merana, sedangkan keluarga-keluarga kaya hampir
tidak kekurangan sesuatu pun. Dan sampar, yang dengan politik kerjanya tidak
membeda-bedakan serta seharusnya membuat semua penduduk berkedudukan sama, kini
memberi akibat kebalikannya. Berkat permainan egoisme yang normal pada manusia,
sampar membuat hati penduduk lebih peka terhadap ketidakadilan.
Di
tengah epidemi yang melanda, si kaya akan bisa bertahan, si miskin akan tambah
merana. Kesenjangan kehidupan sosial akan menganga dalam sebuah masyarakat yang
dilanda epidemi.
Albert
Camus dengan sangat aneh menulis kalimat bahwa ada kesamamerataan dalam situasi
epidemi. Apa? Kematian?
Tentu saja masih ada kesamarataan dalam kematian,
padahal tak seorang pun menghendaki kematian. Dalam keadaan seperti itu, si
miskin yang kelaparan semakin berpikir ke arah kota-kota dan desa-desa
tetangga, di mana ada kehidupan bebas dan makanan tidak mahal. Karena
Pemerintah Daerah tidak bisa menyediakan bahan makanan secukupnya, penduduk
memperhitungkan, meskipun disertai nalar yang tidak sehat, bahwa seharusnyalah
mereka diperbolehkan meninggalkan kota Oran. Pendapat itu dinyatakan dalam
rumusan tertulis di dinding kota: "roti atau udara bebas!”
Kelambanan
Pemerintah Daerah menjadi perhatian besar pemikir besar Perancis ini, Albert
Camus. Bahwa dalam menghadapi perluasan epidemi atau penyakit menular letaknya
pada kelambanan Pemerintah Daerah.
Novel
yang ditulis peraih hadiah Nobel ini adalah pelajaran besar dalam menghadapi
epidemi. Bagaimana penundaaan keputusan dan kelambanan Pemerintah Daerah
berisiko menjadi kasus pembiaran penularan yang semakin buruk dan beresiko
menghabiskan nyawa warga kota.[T]