Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
Malam itu, tak ada suara. Terlihat lampu bohlam kuning, itulah satu-satunya penerangan di depan gerbang kontrakan. Cahayanya yang sedikit redup membuat suasana terasa lebih hening dari sebelumnya. Ditambah lagi, terdengar suara kucing liar melahirkan yang mengejutkan dan memecah keheningan menjadi seram bagiku.
Mataku seketika melirik jam dinding di kamar kos. Ternyata hampir tengah malam dan aku masih terjaga mengerjakkan tugas kampus.
Kemudian terdengar bunyi kreotan pintu kamar sebelah, ternyata ibu kos yang mau keluar ke kamar kecil di sudut yang temaram. Mataku serasa seperti lampu bohlam di pintu gerbang itu. Tiba-tiba kasurku serasa memanggil, terlihat empuk dan nyaman sekali. Tanpa pikir panjang, aku bergegas menyelesaikkan tugasku.
“Huh, akhirnya selesai juga. Bantal, guling, dan kasurku tercinta, aku datang!” Aku bergegas menuju kasur, sambil mematikan lampu kamar.
Tiba-tiba terdengar teriakan di luar.
“Hei, tunggu…. Hei, siapa kau? Tunggu. Kenapa di sini?” Itu teriakan ibu kos.
Mata yang awalnya kututup kurang dari lima menit sudah kubuka lagi dengan rasa terkejut dan cepat-cepat keluar kamar. Ibu kos terlihat panik dan berlarian mondar-mandir depan kamarnya. Aku pun menghampirinya dengan jantung yang hampir copot.
“Bu, ada apa? Kenapa berteriak malam-malam begini?”
“Itu dia ada disini, ke sana. Hei, di ke sana, dia ke sana!” teriak ibu kos dengan panic dan terbata-bata, dan ngos-ngosan.
“Siapa, Bu? Tidak ada siapa-siapa di sini,” sahutku sambil sigap melihat sekitar dan benar memang tidak ada siapapun.
“Itu tadi ibu lihat ada laki-laki yang masuk ke kontrakan pakai jaket hitam, terus ibu hampiri hendak bertanya, eh laki-laki itu menghilang entah ke mana perginya. Ibu hendak masuk kamar terasa ada bayangan hitam pergi ke gerbang depan dan ibu teriakin gak ada balasan,” tutur ibu kos.
“Ya, kalau begitu kita cari sekitaran sini yuk, Bu. Takutnya orang jahat,” sahutku kembali menawarkan diri.
Sudah hampir subuh aku dan ibu kos menggeledah seluruh tempat sampai ke kamar-kamar yang kosong, tapi hasilnya tetap saja tidak ada siapa. Setelah sekian lama, kami pun memutuskan untuk tidur saja.
Dering alarm berisik sekali. Hanya tiga jam waktu tidurku. Sungguh lelah untuk bangun setelah kejadian kemarin malam. Tapi apa daya, aku harus segera bergegas ke kampus. Ketika aku membuka pintu kamar, banyak anak kos berkumpul di depan kamar ibu kos. Aku yang penasaran ikut nimbrung juga, tapi nyatanya ibu kos menceritakan kejadian kemarin malam dan memperketat aturan bahwa setiap orang yang keluar masuk kontrakan harus mengunci pintu gerbang. Aku yang merasa ibu kos hanya berkhayal saja, segera pergi ke kampus dan cukup mengetahui peraturan barunya.
Kejadian malam itu membuat suasana kos terasa tambah hening dan makin seram saja. Tak ada lagi anak kontrakan yang berbincang-bincang sampai larut malam. Banyak serba-serbi tentang sosok lelaki itu. Banyak perspektif yang muncul. Jangan-jangan ia tahanan polisi yang kabur, jangan-jangan ia orang cabul, pedofil, jangan-jangan ia memang benar hantu gentayangan. Semua praduga itu memunculkan keresahan selama satu minggu ini. Keberadaan lelaki tak dikenal itu benar-benar menyeret rasa penasaranku akan siapa sebenarnya lelaki itu.
Beberapa anak kos juga pernah melihat laki-laki dengan sosok yang sama keluar masuk kontrakan di malam hari. Tapi mereka tidak seberani ibu kos yang teriak-teriak dan mengejar laki-laki itu langsung. Mereka hanya menceritakan rasa takut mereka dan lebih memilih untuk mengurung diri di kamar masing-masing. Sementara aku belum pernah sedikitpun melihat sosok itu. Mungkin karena sebagian hariku, kuhabiskan di kampus saja.
Pagi pun telah berganti seperti biasanya. Jam tanganku menunjukkan pukul 01.00 Wita, karena tuntutan kampus aku pulang selarut itu. Tentunya gerbang kos sudah terkunci. Ketika sampai di depan gerbang, untuk pertama kalinya aku lihat sosok laki-laki yang diceritakan itu. Entah itu laki-laki yang sama atau berbeda, aku tidak tahu. Mataku tak berani berkedip, suhu tubuhnku naik turun. Tangan ini gemetaran mengrogoh kantong, mencari-cari kunci untuk membuka gerbang, lalu, turun dan kubuka gembok itu. Aku hanya berpikir, kenapa ia diam di depan gerbang jam segini. Aneh rasanya jika seorang laki-laki parkir di depan kontrakan khusus putri dan kenapa saya merasa dipandangi terus.
Tanpa bertanya, aku pun bergegas masuk memakirkan kendaraanku. Tidak lupa juga mengunci pintu gerbang kembali. Namun, ada kejanggalan. Ketika aku hendak mengunci pintu gerbang kembali, sosok laki-laki itu menghilang. Aku hanya berpikir positif saja dan menuju ke kamarku. Mungkin saja ia memang sudah pergi.
“Hei, kau lagi. Diam di sana. Manusia atau setan? Diam. Woii…!” terdengar ibu kos kembali teriak-teriak.
“Eh iya, Bu, saya manusia kok,” terdengar suara laki-laki itu menjawab. Aku kaget dan langsung keluar kamar.
“Adek siapa ya? Subuh-subuh gini sudah berkunjung, mau cari siapa?”
“Saya mau cari Intan, Bu. Dia dari daerah kampung saya, sudah sebulan ia kabur dari rumah dan saya dapat kabar ia tinggal di sini!”
“Intan? Yang namanya Intan tidak ada di sini., mungkin kamu salah orang!”
“Ini alamatnya, Bu.” Lelaki itu menyodorkan kertas dengan alamat Intan yang dicari.
“Waduh, Nak, ini alamatnya Jalan Rose No.50 di Gang 9. Ini Gang 6, Nak.” Seketika aku hanya bisa menahan tawa.
“Lah, jadi minggu-minggu ini saya salah memantau tempat, Bu? Ya ampun kenapa saya salah, tidak mungkin saya salah melihat nomor gang,” jawab laki-laki itu dengan tak percaya.
“Lah ini memang kenyataannya, Gang 6.” Ibu kos mulai kesal.
“Ya sudah, Bu, mohon maaf saya telah mengganggu subuh-subuh begini”
“Iya, Nak, tidak apa!” kata ibu kos senyum, padahal dalam hatinya bercampur aduk, antara lega dan kesal.
Aku pun kesal dan terganggu juga. Sempat-sempatnya juga aku ikut takut dengan lelaki ini.
Laki-laki itu pun pergi dan tidak kembali lagi meneror kontrakan kami. Laki-laki itu kemudian pergi mencari alamat yang benar. Ia tampak masih kebingungan atas kesalahan menemukan alamat. Aku yang didorong rasa penasaran, mengikutinya sampai depan gang. Saya lihat ia bertanya pada orang yang lewat .
“Bang maaf, ini benar Gang 9 kan?” katanya sambil menunjuk nomor gang.
“Oh, walah, ini pakunya copot. Maaf ya, Mas, ini Gang 6 bukan Gang 9. Saya lupa memperbaikinya!”
“Yahh, ternyata benar salah. Makasi, Bang!” Lelaki itu menepuk jidat dan bergegas mencari alamat yang benar. [T]
*Cerpen ini hasil workshop penulisan cerpen sehari dalam acara Mahima March March March, 14 Maret 2020 di Rumah Belajar Komunitas Mahima.
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...