Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Gerimis yang membasihi Singaraja akhir-akhir ini mengingatkan saya dengan kampung halaman. Semasa kecil, di musim seperti ini, sajian mewah bagi saya adalah jagung bakar bikinan bapak. Memang tidak ada “sajian mewah” selain mengolah hasil cocok tanam sendiri.
Saya semakin rindu kampung halaman saat adik saya memposting foto jagung bakar di sebuah grup di Facebook. Foto jangung itu begitu menggiurkan walaupun tanpa dioles mayones. Di saat seperti ini, saya membayangkan, kampung halaman saya adalah satu-satunya tempat ternyaman di muka bumi ini. Tempat “ketenangan mewah” yang luar biasa. Tempat kedamaian abadi, tempat para rahib bermeditasi, penyair merenung, dan semua orang menjalani kehidupan yang amat panjang dan memuaskan. Tempat yang terpencil, terisolasi dari berbagai ketakutan dunia luar—dan ketakutan kelaparan—, meskipun tidak dari kenyamanan yang dapat dirasakan.
Tempat ternyaman, seperti Shangri-La dalam buku Lost Horizon karangan James Hilton. Tempat yang dibuat Hilton untuk kepala dan hati, yang di dalamnya keduanya hidup dalam perpaduan yang membahagiakan sampai usia matang 250 tahun.
Eric Weiner menuliskan: ketika buku dan filmnya diluncurkan pada 1930-an, Lost Horizon menangkap imajinasi publik Amerika dalam cengkerama Depresi Besar, terhuyung-huyung keluar dari satu perang dunia dan terikat dalam perang dunia lainnya. Franklin D. Roosevelt menamakan tempat peristirahatan kepresidenannya Shangri-La (kemudian diubah menjadi Camp David). Hotel, baik yang mewah maupun yang penuh kutu busuk, sama-sama menamakan diri mereka Shangri-La, berharap terkena kilau utopisnya.
Shangri-La berisi semua unsur klasik surga. Pertama, kata Eric, tempat itu sulit dijangkau. Yang benar saja, bagaimanapun, surga bukanlah surga jika Anda dapat naik taksi ke sana. Lebih lanjut, terdapat pemisah antara surga dan kehidupan biasa, dipisahkan oleh dunia rahasia yang hanya dapat ditempuh oleh sedikit orang yang beruntung. Dengan kata lain, surga adalah, barangkali seperti kelas bisnis, yang kesenangannyaa didapat dari keberadaan pelancong lain yang lebih kurang beruntung daripada Anda sendiri.
Tidak. Kampung halaman saya dan jagung bakar bikinan bapak bukan Shangri-La. Kampung halaman saya nyata. Bukan fiksi. Shangri-La tentu saja merupakan tempat rekaan. James Hilton, sang pengarang, bahkan tidak pernah beranjak lebih jauh dari British Museum di London untuk melakukan risetnya, kata Eric. Perihal di awal saya katakan sama, toh saya cuma membayangkan. Bukan berarti kampung halaman saya persis sama seperti tempat rekaan orang Inggris itu, bukan.
Akan tetapi, di saat seperti ini, saat saya merasa tercengkeram depresi besar, terhuyung-huyung keluar dari perang satu dan terikat dalam perang lainnya, rasanya kampung halaman dan jagung bakar bikinan bapak memang seperti Shangri-La. Bedanya, sekali lagi, kampung halaman saya itu nyata, sedangkan Shangri-La itu fiksi.[T]
(2020)
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...