‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
Apa sesungguhnya puisi dan mengapa sampai detik ini kita tak pernah benar-benar selesai membahasnya, menulisnya, mengungkapnya, atau bahkan menyudahinya. Puisi seperti terus lahir setiap detik, setiap menit, setiap langkah dalam jutaan kepala manusia, dalam setiap yang terungkapkan dan yang tak terungkapkan. Sepahit dan sesulit apapun, puisi tetap ada. Serumit dan sekacau apapun, puisi harus tetap ada. Selega atau sebahagia apapun, puisi tetap ada. Puisi ada karena kita adalah manusia. Dengan kata lain, kita bukan meja. Bukan kursi. Bukan besi tua.
Dalam film Dead Poets Society (1989) yang ditulis naskahnya oleh Tom Schulman dan diadaptasi ke novel oleh N.H Kleinbaum, disebutkan:
“We don't read and write poetry because it's cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion.“ (N.H Kleinbaum in Dead Poet Society)
Terjemahannya:
Kita tidak membaca dan menulis puisi karena itu manis. Kita membaca dan menulis puisi karena kita adalah anggota dari ras manusia. Dan ras manusia diisi dengan gairah.
Demikianlah puisi menjelma menjadi apa saja. Dia bisa menjelma kisah tentang apa saja; rambut, kuku, darah, anjing, cinta, sunyi, putus asa, kematian, harapan, atau apapun. Yang belum atau tak pernah terungkapkan. Puisi hadir di mana-mana, kapanpun, dan dalam situasi apapun. Puisi mengepung kita tanpa ampun. Seperti udara, seperti virus.
Puisi hadir sebagai latar, sebagai tujuan, sebagai luapan, ungkapan, atau media. Puisi ada karena jika ia tidak dituliskan, maka sejarah manusia akan kehilangan makna. Maka bukti bahwa manusia pernah ada, tak ada.
Mengapa. Sebab puisi adalah catatan paling jujur. Puisi adalah jurnal. Memoar. Monumen. Ingatan. Masa lalu. Masa kini dan nanti. Masa di sela-sela itu semua!
Puisi-puisi Ida Ayu Wayan Sugiantari, atau biasa dipanggil Dayu Sugiantari, melukiskan itu semua. Sebagai puisi, ia adalah ungkapan makna yang mewakili peristiwa, ia adalah jurnal ingatan, jurnal perasaan, jurnal perjalanan batin, jurnal kebangkitan. Tentang yang belum terungkapkan. Yang belum sempat ditawarkan atau dikemukakan.
Dayu bukan hanya mengumpulkan metafora, namun menguasai metafora untuk menghasilkan daya ungkap perjalanan hidupnya. Sebab jika bukan dia, siapa lagi yang mengungkap kisahnya.
Puisi tidak hanya hadir sebagai tumpukan kata-kata namun mewakili peristiwa yang menandai perjalanan Dayu sebagai seorang ibu, istri, perempuan, pendidik, dan penyair.
Dia tidak terjebak pada metafora, namun menggunakan metafora untuk daya ungkap idenya. Perjalanan puisi yang ia mulai sejak SMP, SMA lalu mati suri lalu bangkit lagi membuat dia cukup matang sebagai penyair.
Ia merindukan semua puisi ini tumbuh lagi dengan subur. Namun ia ragu pada kemampuannya menyuburkannya.
Seperti pada cuplikan puisi ini
Aku menanam tiga potong puisi
di kebun belakang rumahmu
tak pandai menakar cuaca
satu puisiku mati di dua hari pertama
Di akhir musim,
puisiku tumbuh diam-diam di tubuhmu
Kita dapat merasakan seperti apa rasanya menanam puisi dengan hati lalu ia mati, atau menanam puisi di kebun, tapi tumbuh di tubuh. Kebun dan tubuh, kedua-duanya bisa tumbuh, bisa luruh. Dimanapun puisi bisa menjadi atau mati.
Kita bisa merasakan betapa asingnya rasa ini.
Kita seperti tak perlu menanam apa apa jika tak pandai menakar cuaca. Apa yang kita tanam bisa jadi berbuah di tempat yang salah. Atau berbuah tapi tak memiliki arah. Semacam sia-sia yang abadi.
Begitulah puisi tercipta. Kita mengabadikan apa yang tak abadi. Seperti membuat monumen yang kelak kita hancurkan sendiri. Atau hancur di kepala yang membacanya.
Seperti judul puisinya “Apakah Engkau Memang Mudah Dilemahkan oleh Puisi?”
Kita tidak sedang bicara soal kalah menang. Kita bicara soal manusia yang berkali kali kalah namun merasa menang.
Barangkali. Kita hanya setumpuk puisi yang akan musnah oleh waktu sekejap. Tapi jika tak ada puisi, siapa yang mengingat kekalahan kita. Apakah kekalahan tidak boleh tercatat?
“Bukan Kamu, Ternyata Aku yang Dilemahkan oleh Puisi”
Adalah jawaban atas pertanyaan yang dia ajukan sendiri.
Jadi perang ini antara siapa?
Tidak ada jawabnya. Tapi paling tidak, kita sudah menyumbang puisi. Seperti yang dikatakan Walt Whitman dalam puisinya “O Me O Life” sebagai berikut.
That you are here – that life exists and identity,
That the powerful play goes on, and you may contribute a verse.
Bahwa kamu disini, ada dan berarti. Drama yang hebat terus berjalan, dan kamu bisa menyumbang sebuah puisi.
Sebuah puisi... [T]
Singaraja, 4 Maret 2020
Pukul 00:43
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...