Jika Film Horor Indonesia Seperti “Bokep” – Bukan Salah Setan!
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
Pelaksanaan hari raya Nyepi dilaksanakan setiap satu tahun sekali dan sudah ditetapkan sebagai hari libur nasional. Sehari sebelum perayaan nyepi biasanya akan dilaksanakan yang namanya pengerupukan asal katanya dari kata ngerupuk yang dipercaya umat Hindu sebagai upacara mengusir para bhutakala atau segala kekuatan negatif.
Hari pengerupukan jatuh tepat pada saat tilem sasih kasanga dimana seluruh umat Hindu melaksanakan upacara bhuta yadnya yaitu Tawur Agung Kasanga. Pada hari yang sama sorenya atau biasa disebut sandikala akan diadakan pertunjukan ogoh-ogoh yang dibuat oleh masing-masing sekaa truna-truni dengan ukuran besar serta ditambah beberapa sosok menyeramkan sebagai perwujudan dari bhuta-bhuti yang akan diarak keliling dengan diiringi gambelan baleganjur atau tektekan.
Dari kegiatan tersebut ada dua alat musik yang akan dipakai yakni gambelan yang terbuat dari tembaga untuk kesenian baleganjur dan gambelan tektekan yang dibuat dari bambu. Keduanya memiliki alunan suara yang berbeda yang dihasilkan untuk mengiringi pementasan ogoh-ogoh.
Kedua jenis seni music itu dibawakan oleh para penabuh dengan kreasi mereka masing-masing, sehingga bunyi yang dihasilkan bisa menghibur penonton yang datang langsung menyaksikan pawai ogoh-ogoh. Akan tetapi ada hal yang lebih spesial akan dibahas ditulisan ini, bukan tentang upacara pengerupukan ataupun gambelan baleganjur, melainkan alat musik tradisional yang dibuat dari bambu (kulkul/kentongan) yang lebih dikenal dengan nama kesenian tektekan.
Menurut sumber yang pernah saya baca kesenian tektekan merupakan salah satu warisan budaya tak benda yang berasal dari Desa Kerambitan, Tabanan, bahkan kesenian ini sudah mendapat penghargaan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada tahun 2014 oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Namun entah apa penyebabnya tektekan sendiri saat ini sudah mulai jarang dijumpai semenjak kesenian Baleganjur mulai merambah dan lebih dominan dipakai, bahkan tidak hanya itu di beberapa wilayah justru pernah sampai memakai soundsystem dengan musik yang bukan gambelan bali untuk mengiringi ogoh-ogoh. Hal tersebut sontak mendapat teguran keras dari beberapa pejabat pada tahun 2016 yang mungkin sudah pernah diberitakan oleh media cetak, online dan lainnya karena dikatakan tidak layak dan bisa menghilangkan unsur ritual Bali saat pelaksanaan pengerupukan.
Tak berhenti disana pada tahun-tahun berikutnya sejak mendapat teguran ada pro dan kontra yang terjadi dikalangan masyarakat terkait hal tersebut bahkan mereka memiliki pendapat dengan latar belakang yang berbeda untuk menguatkan opini masing-masing.
Tektekan dari Desa Penuktukan
Kesenian tektekan ternyata masih bisa ditemukan selain di Desa Kerambitan, Tabanan, namun kali ini cukup jauh dari wilayah asalnya yaitu di Desa Penuktukan, Buleleng disini setiap kali pelaksanaan pengerupukan kesenian tektekan tidak pernah absen. Kesenian ini seolah sudah menjadi kebiasaan yang sudah dilakukan secara terus-terusan setiap pelaksanaan pawai ogoh-ogoh. Meski setiap banjar hampir sudah memiliki kelengkapan untuk gambelan Baleganjur anak-anak justru lebih senang memainkan tektekan yang dikolaborasikan dengan beberapa gerakan yang memacu semangat mereka pada saat hari pengerupukan dilaksanakan.
Khusus di Desa Penuktukan Tektekan hampir seperti alat gambelan Baleganjur hanya saja terbuat dari bambu yang beberapa memiliki nama tersendiri seperti kulkul (kecek) yang dipukul dengan alunan nada saling menyahut biasanya dimainkan minimal oleh sepuluh orang, selanjutnya ada kemong yang terbuat dari bambu dimainkan oleh satu orang yang mengatur ritme suara dari semua gambelan agar bisa didengar bagus oleh telinga, berikutnya ada ponglang terbuat dari bambu yang dimainkan oleh dua orang, kemudian ada klenting yang dimainkan oleh satu orang dan saling membalas dengan gejir atau gong dimainkan oleh satu orang serta terbuat dari bambu, dan yang terakhir dua kulkul yang dipukul dengan nada dua satu oleh dua orang.
Kesenian tektekan diharapan kedepannya bisa tetap bertahan khususnya di Buleleng dan Tabanan, namun tidak menutup kemungkinan di seluruh Bali pada umumnya karena ini sebuah budaya yang memiliki keunikan tersendiri saat pelaksanaan malam pengerupukan yang jatuh tepat pada saat tilem sasih kesanga.
Ya, daripada pakai alat pengeras suara semacam soundsistem, lebih baik menggunakan gamelan tektekan. Membuatnya gampang, suasana yang tercipta akan lebih klasik, meriah dan enak masuk di telinga, apalagi musik tektekan kini juga bisa digubah dengan berbagai kreasi yang unik dan kreatif. [T]
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
MEMBACA buku sejarah adalah membaca penafsiran-penafsiran. Membaca buku sejarah adalah membaca kejadian masa lampau yang hanya mungkin ditilik kembali dengan membangun serpihan-ser...
Cerpen: I Putu Agus Phebi Rosadi DI ruang tamu, tiga orang interogator telah duduk di depanku. Matanya tajam. Seperti ingin mencengkram leherku. “Tuan-tuan. Jangan memandang seper...
DI tengah rapat kantor, tiba-tiba telepon selular bergetar. “Halo.” Setengah berbisik. “Lagi sibuk?” suara di sana. “Lagi meeting, apa kabar?” Ujung-ujungnya: “Ada stok naskah cerp...
POLEMIK drama gong tampaknya terus berlanjut, dan tentu saja akan bagus jika polemik itu terus berlanjut sampai seni pertunjukan itu benar-benar lahir kembali dan hidup. Jika ada “...
TIDAK ada yang bisa membantah jika saya penggemar sejati film-film Warkop DKI – Dono, Kasino, Indro. Jauh-jauh dari Bali Barat saya melesat ke Denpasar ketika film Warkop DKI Rebor...
ANAKMU bukanlah anakmu, mereka adalah anak zaman. Tak ada hak bagi orangtua untuk mengungkung jiwa mereka, kendatipun rumah disiapkan buat raga mereka. Paling tidak, itulah pendapa...
SEBUAH ruang, satu tempat, sebuah wilayah, bagi manusia Bali, bisa diartikan sebuah arsitektur yang unik dan otentik. Dalam ruang itu orang Bali melakukan aktivitas, bergumul sehar...
SETIAP orang pasti pernah merasakan takut, tidak peduli tua atau muda. Rasa takut adalah salah satu emosi dasar sama seperti bahagia, sedih, marah dan sejenisnya. Menurut Kamus Bes...
LELAKI ABSTRAK Pada hamparan kanvasmu balon-balon meletus menjadi wara-warni pelangi gugusan mega awan pudar langit terhimpit mendung ditimpa matahari siluet senja halim...