Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
____
Bangli merupakan kabupaten yang terkenal dengan keanekaragaman tradisi dan budayanya yang sudah terkenal hingga ke mancanegara. Bangli ternyata mempunyai banyak keunikan tersendiri dibidang tradisinya, sebagai contoh penguburan jenazah di Desa Trunyan yang sudah berlangsung dari dulu hingga sekarang.
Desa Trunyan (Desa Bali Aga) adalah sebuah desa yang berada di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Trunyan terletak di dekat Danau Batur. Desa ini konon penuh dengan kisah mistis dan diselimuti berbagai misteri. Lebih mengerikan lagi kita bias melihat jenazah tergeletak begitu saja di pemakaman desa ini.
Di areal pemakaman terdapat sebuah pohon yang mengeluarkan bau harum. Pohon tersebut adalah pohon Taru Menyan yang umurnya ditafsirkan sudah mencapai ratusan tahun. Dalam mitos masyarakat setempat di kisahkan, bau harum Taru Menyan memancing Ratu Gede Pancering Jagat mendatangi tempat tersebut. Di sekitar pohon-pohon Hutan Cemara Landung, beliau bertemu dengan Ida Ratu Ayu Dalem Pingit (Ratu Ayu Dalem Dasar).
Mereka kemudian menikah dan disaksikan oleh penduduk Desa Hutan Landung yang sedang berburu. Sebelum meresmikan pernikahan, Ratu Gede mengajak penduduk Desa Cemara Landung untuk membuat desa yang bernama Taru Menyan dan lama kelamaan terkenal menjadi Trunyan, itulah asal kata Trunyan.
Populasi Desa Trunyan kira-kira 200 kepala keluarga. Desa Trunyan menganut perkawinan Patrilineal. Mereka adalah para penduduk asli turun temurun (bukan penduduk pendatang). Maksudnya, apabila ada perempuan menikah dengan orang luar, maka ia tidak lagi tinggal di desa itu dan menjadi orang luar. Apabila yang lelaki menikah dengan orang luar dan bersedia mengikuti adat istiadat desa setempat, maka ia dapat tingga di sana.
Ketika mendengar kata Trunyan, mungkin yang tersirat di dalam benak kita adalah sebuah desa yang berbau mistis. Hal ini dikarenakan oleh pengetahuan yang terpatri didalam pikiran adalah kebudayaan mengenai upacara kematian yang terdapat di desa tersebut. Peletakan jenazah yang terbaring di atas tanah (tanpa di kubur) membuat aroma mistis begitu kental.
Tetapi semua itu hanyalah bagian dari tradisi penduduk setempat yang dilaksanakan secara turun temurun dengan berlandaskan agama dan keyakinan. Upacara kematian di Desa Trunyan memang sedikit berbeda dengan daerah-daerah lain pada umumnya yang terdapat di Bali. Jenazah disemayamkan diatas tanah yang arealnya sudah dibatasi dan di areal tersebut terdapat sebuah pohon besar yang seakan-akan menyerap aroma jenazah agar tak menyentuh indra.
Pohon yang dimaksud adalah pohon Taru Menyan, seperti dijelaskan sebelumnya bahwa pohon itulah cikal bakal nama Desa Trunyan. Secara spesifik, terkait dengan kepercayaan masyarakat Trunyan mengenai penyakit dan kematian, maka cara pemakaman orang- orang Trunyan ada 2 macam yaitu:
Orang-orang yang meninggal dengan tidak wajar seperti, dibunuh atau bunuh diri, dan jenazah anak-anak yang gigi susunya belum tanggal.
Desa ini juga memiliki tiga cara unik dalam mengupacarai jenazah, yang maknanya setara dengan upacara pengabenan pada umumnya yang ada di Bali. Tata cara upacara jenazah tersebut adalah sebagai berikut:
Ada sedikit cerita mistis atau bisa disebut aneh mengenai Trunyan. Pernah pada suatu ketika, seorang turis yang berasal dari Amerika mengambil kenang-kenangan berupa uang logam bolong “pis bolong” (biasanya dipakai di proses penguburan di Bali), kemudian dibawa ke Amerika, ia mempunyai sebuah losmen. Losmennya tiba-tiba berbau mayat hingga akhirnya sepi. Akhirnya turis tersebut mengembalikan uang bolong itu ke tempat asalnya. Hal ini membuktikan, percaya atau tidak Bangli pada umumnya, dan Desa Trunyan pada khususnya memiliki sisi mistis dan keunikan tersendiri.
Selain itu di Desa Trunyan terdapat Pura Kancing Bumi. Dan Pura Pancering Jagad, diperkirakan dibangun pada abad ke-9. Menurut riwayat, pada tahun Saka 813 (kira-kira 891 M), Raja Singhamandawa memberi ijin penduduk asli disana untuk mendirikan Pura Turun Hyang, tempat pemujaan Bhatara Da Tonta atau Hyang Pancering Jagad. Pura ini bertingkat tujuh (meru tumpang tujuh). Masyarakat Trunyan percaya Pura ini adalah Pura pertama yang dibangun di Pulau Dewata.
Orang suci yang berstana di situ bernama Ratu Pancering Jagat. Bentuk fisik duniawinya adalah batu yang tumbuh dari tanah (Batu Megalitik). Mengapa disebut tumbuh adalah karena batu itu makin besar dari pertama kali ada (kira-kira Zaman Majapahit). Saat ini ada empat batu Pancering Jagat. Yang tertua sepanjang kurang lebih 12 cm dan yang termuda 6 cm. Letaknya yang 8 cm paling kiri, kemudian berurutan yaitu 12 cm, 10 cm dan 6 cm.
Ada yang mengatakan bahwa itu adalah Patung Batu (Megalitikum). Piodalan pura ini dilakukan setiap Purnama (bulan penuh) Sasih Kapat dan hanya bisa dilakukan bila musim panas tidak terlalu panjang, tidak ada orang meninggal dunia dan tidak ada yang melahirkan anak kembar buncing (kembar lelaki dan perempuan). Jadi, jelas tidak dilakukan tiap enam bulan seperti pura-pura lain diseluruh Bali dan belum tentu terjadi tiap tahun.
Masyarakat Trunyan merayakannya dengan pementasan tarian sakral, Barong Berutuk dan tari Sanghyang Dedari. Barong Brutuk (semacam tarian topeng) ditarikan mulai dari pagi hingga menjelang matahari terbenam. Penduduk Desa Trunyan beramai-ramai berusaha merobek busana yang terbuat dari keraras (daun pisang kering), yang dikenakan para penari.
Para penari Barong Berutuk semuanya berjenis kelamin laki- laki dan harus berjumlah ganjil, maksimum 21 orang, mereka membawa cambuk, berusaha mengusir siapa saja hendak menyobek busananya. Konon, sobekan daun keraras dapat membuat Desa Trunyan yang tengah kekeringan (lama tidak turun hujan), maka begitu upacara selesai, hujan turun dengan deras.
Akibat adanya Ratu Pancering Jagat inilah maka masyarakat Trunyan percaya, bahwa desanya menjadi salah satu desa di dunia yang anti gempa. Ketika terjadi gempa di Seririt, Singaraja yang juga dirasakan oleh penduduk Kintamani, namun tidak dirasakan di Trunyan. Tanda adanya gempa disekitarnya dapat dilihat penduduk Trunyan melalui pancaran mata air yang keluar tidak lurus, namun bergoyang goyang. Isu ini memang belum dapat dikatakan benar, akan tetapi kenyataan yang ada membuat masyarakat Trunyan semakin percaya dengan hal tersebut.
Desa Trunyan sampai kapanpun akan menjadi aset bagi pulau Bali, dan Kabupaten Bangli pada khususnya. Walaupun tidak semua misterinya dapat dikupas, tetapi hal itulah yang menjadi daya tarik daerah ini. Keunikan yang dimilikinya mengharuskan kita untuk tetap menjaga dan melestarikan keutuhan kebudayaan dari suku Bali asli Trunyan. Tidak mengubah kebudayaan mereka secara signifikan menurut saya merupakan suatu penghargaan bagi daerah tersebut. Akan tetapi, mungkin ada baiknya suatu saat setiap keunikan dari Desa Trunyan ini dapat diajegkan dan dilestarikan oleh masyarakat luas. Sehingga Kabupaten Bangli akan semakin tersohor dengan tradisi dan budaya yang dimiliki. [T]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...