Baduy Luar, Etalase Pariwisata Banten
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
Tak menyangka akan seperti ini. Saya bersama tim Sanggar Bumi Bajra, Bali, melakukan perjalanan di Melbourne Australia. Perjalanan dengan anggota sepuluh orang. Dalam romongan, saya kebetulan bersama adik saya juga, Made Mani Puspaka.
Berangkat dari Bandara I Gusti Ngurah Rai, Sabtu 15 Februari 2020, betapa hati berdebar, antara haru dan senang. Kami berada dalam pesawat selama sekitar 5 jam, menuju Bandara Melbourne. Rasanya sedikit melelahkan, mungkin karena kurang tidur.

Ini kali keduanya saya pergi ke luar negeri untuk menampilkan pementasan The Seen And Unseen yang disutradarai Kamila Andini dan koreografer Dayu Ani. Pementasan bisa dikata adalah sambungan atau bagian atau rangkaian dari film dengan judul yang sama, yang sudah beredar sebelumnya dan sudah mendapat penghargaan di berbagai festival. Kami adalah anak-anak yang bermain di film itu.
Tentu saja dalam rombongan turut juga bintang dalam film itu, Ni Kadek Thaly Titi Kasih yang memerankan Tantri dan Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena yang berperan sebagai Tantra dalam film itu. Ada juga Pupung, anak Dayu Ani, yang jadi bintang kami dalam perjalanan.
Kami akan pentas di sejumlah tempat, selain tentu saja sekalian menikmati Kota Melbourne yang megah, yang kerap saya lihat di TV atau dalam film-film.
Minggu, 16 Februari 2020, jam 7.42 kami sampai di Melbourne. Wah senang, akhirnya saya menginjakkan kaki di Negeri Kangguru. Ini mimpi yang terwujud. Di bandara itu saya melihat sesuatu menarik perhatian saya. Pada saat pemeriksaan penumpang dan barang bawaan, ada seekor anjing bertugas memeriksa koper berserta tas dari orang yang baru datang ke negara ini. Di sejumlah temoat saya kerap melihat barang dicek menggunakan mesin, lah ini tumben saya melihat barang dicek dengan hewan.
Setelah dari bandara kami menuju Gues House The Nunnery, untuk istirahat dan menaruh koper dan tas. Perjalanan tak terasa karena mata mengantuk, kurang lebih 30 menit ternyata sudah sampai.
“Wah, akhirnya bisa tidur,” bisik saya. Tapi itu tidak terjadi karena belum bisa check in. Yahhh terpaksa kami jalan-jalan dulu di sekitar gues house. Kami pergi ke taman, di taman kami bermain di tempat permainan anak anak. Hahaha, kami memang seperti anak-anak yang kurang bermain. Selalu takjub dan heran.

Setelah satu jam bermain akhirnya kami sempatkan diri untuk berfoto, mengabadikan moment dengan pemandangan taman, pohon yang rindang, rumput hijau, langit biru. Serta warga sekitar yang berolahraga.
Arah perjalanan selanjutnya adalah mengelilingi kota membeli cemilan. Apa yang saya lihat begitu indah. Begitu bersih, rapi, dan ramah. Ada sesuatu yang membuat saya heran. Ketika binatang peliharaan membuang kotoran, kotoran itu diambil oleh majikannya dan dibuang. Ya, peraturannya di tempat ini memang seperti itu. Meludah sembarangan saja tidak boleh.
Kami sudah mulai lelah setelah mengelilingi kota. Kami berencana untuk pergi ke sebuah taman untuk memakan cemilan yang sudah kami beli. Kami duduk berkeliling selayaknya kami sedang melakukan pesta kecil.


Di taman tiba-tiba Pupung, putri Dayu Ani, ikut bermain di acara ulang tahun warga Australia yang tidak kami kenal. Heran sekaligus membingungkan. Hanya beberapa menit mereka langsung akrab. Meski termasuk paling kecil, Pupung memang selalu jajdi inspirator. Banyak hal yang biasa dia lakukan di luar dugaan kami yang membuat kami selalu terheran sekaligus tertawa. Maklum sih, anak koreografer. Hehe.
Sekitar sejam kami beristirahat dan bermain. Kami memutuskan untuk ke gues house. Untuk kembali ke gues house, kami harus kembali mengelilingi kota yang sangat luas. Selama 30 menit perjalanan akhirnya kami sampai dengan wajah yang melelahkan. Tidak pikir panjang. Setelah mendapatkan kunci kamar, saya langsung membuka kamar, menaruh barang, langsung tidur.

Besoknya, kami harus sudah mulai latihan dan mempersiapkan pementasan yang pertama. Jdi tunggu laporan berikutnya... [T]
BACA SELANJUTNYA;
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah mengatakan “pilihan kata (diksi) meng...
SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Wantilan yang biasanya digunakan...
REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di bidang pertanahan. Selama puluh...
MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir (TA) Proyek Inovatif Seni Pertunjukan, P...
DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus penjaga nilai-nilai keh...
Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata, India. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga terpelaj...
DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa...
BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang menyimak. Malam pertama Juni 2026, itul...
JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat itu adalah Buleleng. Tepat pada...