Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
Tak menyangka akan seperti ini. Saya bersama tim Sanggar Bumi Bajra, Bali, melakukan perjalanan di Melbourne Australia. Perjalanan dengan anggota sepuluh orang. Dalam romongan, saya kebetulan bersama adik saya juga, Made Mani Puspaka.
Berangkat dari Bandara I Gusti Ngurah Rai, Sabtu 15 Februari 2020, betapa hati berdebar, antara haru dan senang. Kami berada dalam pesawat selama sekitar 5 jam, menuju Bandara Melbourne. Rasanya sedikit melelahkan, mungkin karena kurang tidur.

Ini kali keduanya saya pergi ke luar negeri untuk menampilkan pementasan The Seen And Unseen yang disutradarai Kamila Andini dan koreografer Dayu Ani. Pementasan bisa dikata adalah sambungan atau bagian atau rangkaian dari film dengan judul yang sama, yang sudah beredar sebelumnya dan sudah mendapat penghargaan di berbagai festival. Kami adalah anak-anak yang bermain di film itu.
Tentu saja dalam rombongan turut juga bintang dalam film itu, Ni Kadek Thaly Titi Kasih yang memerankan Tantri dan Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena yang berperan sebagai Tantra dalam film itu. Ada juga Pupung, anak Dayu Ani, yang jadi bintang kami dalam perjalanan.
Kami akan pentas di sejumlah tempat, selain tentu saja sekalian menikmati Kota Melbourne yang megah, yang kerap saya lihat di TV atau dalam film-film.
Minggu, 16 Februari 2020, jam 7.42 kami sampai di Melbourne. Wah senang, akhirnya saya menginjakkan kaki di Negeri Kangguru. Ini mimpi yang terwujud. Di bandara itu saya melihat sesuatu menarik perhatian saya. Pada saat pemeriksaan penumpang dan barang bawaan, ada seekor anjing bertugas memeriksa koper berserta tas dari orang yang baru datang ke negara ini. Di sejumlah temoat saya kerap melihat barang dicek menggunakan mesin, lah ini tumben saya melihat barang dicek dengan hewan.
Setelah dari bandara kami menuju Gues House The Nunnery, untuk istirahat dan menaruh koper dan tas. Perjalanan tak terasa karena mata mengantuk, kurang lebih 30 menit ternyata sudah sampai.
“Wah, akhirnya bisa tidur,” bisik saya. Tapi itu tidak terjadi karena belum bisa check in. Yahhh terpaksa kami jalan-jalan dulu di sekitar gues house. Kami pergi ke taman, di taman kami bermain di tempat permainan anak anak. Hahaha, kami memang seperti anak-anak yang kurang bermain. Selalu takjub dan heran.

Setelah satu jam bermain akhirnya kami sempatkan diri untuk berfoto, mengabadikan moment dengan pemandangan taman, pohon yang rindang, rumput hijau, langit biru. Serta warga sekitar yang berolahraga.
Arah perjalanan selanjutnya adalah mengelilingi kota membeli cemilan. Apa yang saya lihat begitu indah. Begitu bersih, rapi, dan ramah. Ada sesuatu yang membuat saya heran. Ketika binatang peliharaan membuang kotoran, kotoran itu diambil oleh majikannya dan dibuang. Ya, peraturannya di tempat ini memang seperti itu. Meludah sembarangan saja tidak boleh.
Kami sudah mulai lelah setelah mengelilingi kota. Kami berencana untuk pergi ke sebuah taman untuk memakan cemilan yang sudah kami beli. Kami duduk berkeliling selayaknya kami sedang melakukan pesta kecil.


Di taman tiba-tiba Pupung, putri Dayu Ani, ikut bermain di acara ulang tahun warga Australia yang tidak kami kenal. Heran sekaligus membingungkan. Hanya beberapa menit mereka langsung akrab. Meski termasuk paling kecil, Pupung memang selalu jajdi inspirator. Banyak hal yang biasa dia lakukan di luar dugaan kami yang membuat kami selalu terheran sekaligus tertawa. Maklum sih, anak koreografer. Hehe.
Sekitar sejam kami beristirahat dan bermain. Kami memutuskan untuk ke gues house. Untuk kembali ke gues house, kami harus kembali mengelilingi kota yang sangat luas. Selama 30 menit perjalanan akhirnya kami sampai dengan wajah yang melelahkan. Tidak pikir panjang. Setelah mendapatkan kunci kamar, saya langsung membuka kamar, menaruh barang, langsung tidur.

Besoknya, kami harus sudah mulai latihan dan mempersiapkan pementasan yang pertama. Jdi tunggu laporan berikutnya... [T]
BACA SELANJUTNYA;
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...