Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
Masyarakat Bali saat ini membaca fenomena pelinggih yang bersanding dengan kloset sebagai hal yang “sesat”. Sesat itu ada pada ranah rasa.
Itu antara lain yang dikatakan mantan Pembimas Hindu Yogyakarta yang juga dosen di STAHN Mpu Kuturan, Ida Bagus Wika Krisna S.Ag, M.Si. dalam diskusi yang digelar Jurusan Brahma Widya, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, di kampus Jalan Kresna Singaraja, Senin 10 Februari 2020.
Ida Bagus Wika menyebut jika Agama Hindu sejatinya adalah agama yang bertumpu pada rasa, tidak doktriner, fleksibel sesuai dengan desa, kala, patra.
Namun, jika dikaitkan dengan fenomena Pelinggih dan Kloset, hal itu tidak dapat di-judgement salah atau benar. Hanya saja, dirinya menegaskan bila fenomena itu adalah sesuatu hal yang menyimpang dari aturan-aturan yang telah ditetapkan, yang telah disepakati. Landasan konsep yang sudah disepakati dan kemudian menjadi kepercayaan masyarakat.
“Masyarakat cenderung menganggap salah sesuatu hal yang tidak sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku dan rasa-nya yang tidak sepaham. Pemahaman pelaksaan keagamaan masyarakat Hindu sejatinya harus dikembalikan pada Darsana, Nyaya Darsana,” jelasnya.
Pihaknya berharap, masyatakat di Bali lebih bijak melihat fenomena ini. Terlebih, Agama Hindu selalu mendahulukan wiweka. “Sehingga bisa menimbang baik dan buruk dari sebuah persoalan,” pungkasnya.
***
Fenomena pelinggih bersanding kloset memang sempat menghebohkan masyarakat di Bali dan beberapa kali diberitakan di media massa di Bali. Fenomena inilah yang kemudian diangkat menjadi topik dalam diskusi di STAHN Mpu Kuturan Singaraja itu.
Selain Ida Bagus Wika, dihadirkan juga pembicara Plt Ketua PHDI Buleleng, Dr. I Gede Metera, M.Si, dan Putu agus Panca Saputra selaku penekun spiritual.
Diskusi yang dipandu oleh Ketua Peradah Bali, KA. Widiantara inipun berlangsung hangat. Tak hanya dihadiri mahasiswa, diskusi ini juga menarik perhatian sejumlah mayarakat yang ingin mendapat penjelasan terkait fenomena yang hangat dibicarakan di media sosial ini.
Dalam penjelasannya, Gede Metera menyebut jika masyarakat Bali sejatinya sudah memiliki pemahaman tentang konsep Tri Mandala sejak abad IX. Perkembangan kehidupan masyarakat yang berkembang, semakin menyempitnya lahan yang dimilik.,
Lambat laun, menyebabkan masyarakat mulai melakukan perubahan pengaturan-pengaturan terhadap wilayah Tri Mandala. masyarakat sebut Metera mulai mengintegrasikan beberapa aspek infrastruktur seperti kamar dengan toilet. Proses integrasi ini dapat diterima karena tidak memasuki ranah keagamaan dan ketuhanan.
Masyarakat pun secara rasa dan kesadaran keagamaannya telah mampu memilah dan membedakan aspek-aspek spiritual atau benda-benda suci diletakkan pada wilayah-wilayah utama mandala sebagai wilayah suci.
“Sehingga perasaan masyarakat Hindu Bali ketika melihat fenomena pelinggih yang bersanding dengan kloset akan merasa terganggu sampai penolakan secara individu berkaitan dengan ekspresi keagamaan yang dianggap salah,” ujarnya.
Lanjut Metera, pihaknya mengaku bangga dengan karakter masyarakat Hindu khususnya di Bali. Sebab, mereka telah ditanamkan bahwa kehidupan harmonis dan perdamaian adalah hal yang patut dijunjung tinggi. Sehingga penolakan-penolakan tersebut tidak memunculkan aksi kekerasan,“Jadi, Agama Hindu memiliki konsep suci dan bersih, diharapkan masyarakat Hindu Bali tidak menempatkan benda-benda yang tidak suci pada areal suci,” imbuhnya.
Sementara itu, Putu agus Panca Saputra selaku penekun spiritual menyebut jika Pedoman agama Hindu di Bali senantiasa berlandaskan Tattwa, Susila dan Acara. Menurtnya, segala hal mungkin akan benar ketika kita kaitkan hal tersebut dengan tattwa.
Namun terkait menyandingkan pelinggih dengan kloset akan salah jika dilihat dari sisi etika. Sejauh ini dalam membangun insfrastruktur di Bali senantiasa didasari atas Asta Kosala Kosali.
“Fenomena pelinggih-kloset katanya diterima setelah menrima pawisik. jadi jangan percaya sepenuhnya dengan pawisik. Karena Pawisik memiliki klasifikasi yaitu, pawisik yang muncul dari dunia atas, misalnya, Dang Hyang dan Pitara. Sedangkan pawisik yang muncul dari pawisik dunia bawah, yaitu sabda dari para butha,” jelsnya.
Agar tidak menelan mentah-mentah, pawisik itupun harus diklarifikasi kembali. Sruti dan Smerti, SIla, dan Atmanastuti. “Apapun yang berkaitan dengan agama itu seharusnya dimaknai dalam konteks sastra,” tutupnya. [T] [*][H.Mar]
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...