Kulidan Kitchen merupakan tempat makan
yang unik terletak di Jalan Salya, Guwang, Sukawati , Gianyar. Hidangan kentang
goreng di sini amat lezat dan memuaskan. Di Kulidan Kitchen, terdapat taman indah
yang terdapat beberapa jenis tanaman hias dan rumput. Di samping dan di
belakang adalah sawah yang menjadi sumber makanan pokok di Bali. Saat duduk
menikmati hidangan , angina dari sawah membawa kesejukan alami di tengah cuaca
panas. Bunga bunga berwarna warni menghiasi taman menambah keelokan. Di gedung
kulidan kitchen terdapat ruang galeri seni berlantai dua. Pada dinding lantai
satu di bawah tangga terdapat satu lukisan menarik bergambar capung yang
terbang membawa pestisida.
Pada bagian atas lukisan ini terdapat tulisan dilarang melintas. Di bawah capung terdapat botol botol pestisida yang berserakan. Botol ini biasanya terbuat dari plastik atau kaca. Tanah telah dicemari oleh cairan pestisida dan kemasannya yang tidak dapat terurai. Tiga kawanan capung pergi menghindari lingkungan yang tercemar bahan beracun. Ini menandakan menurunnya populasi capung yang tidak dapat diremehkan dampaknya pada ekosistem lahan pertanian. Pada sisi kiri bawah , salah satu kemasan pestisida terlihat akan hanyut ke lingkungan air.
Pestisida pada Lahan Pertanian
Pada lukisan ini terdapat beberapa gejala ekologi yang telah tampak yaitu maraknya penggunaan pestisida, limbah dari kemasan yang mencemari tanah dan perairan, dan residu pestisida yang berdampak pada organisme di tanah, darat dan perairan. Di Bali ketiga gejala ini diakibatkan oleh revolusi hijau yang menyemarakkan pertanian industry. Revolusi hijau yang ditandai maraknya penggunaaan pestida dimulai saat setelah perang dunia ke 2 dimana terjadi produksi berlebihan dari industry kimia dan minyak.
Produksi berlebihan ini tidak terserap di
pasar sehingga ilmuwan mengolah bahan kimia sisa perang dunia dan minyak bumi
untuk pestisida supaya muncul pasar baru yang dapat melebihi era tahun
1940-1945. Dunia termasuk Bali memasuki massa “boom” untuk produk petrokimia.
Fenomena “boom” pada pestisida dan kemasannya ditandai dengan pesatnya
penjualan. Berbagai perusahaan pestidia bersaing untuk memasarkan produknya
kepada petani. Perusahaan kemasan plastik mendapat cipratan dari “boom” ini.
Bahan baku dari dua perusahaan ini bersumber pada korporasi raksasa migas yang
asetnya melebihi PDB banyak Negara.
Sistem pertanian berbasis petrokimia
dilakukan demi kepentingan korporasi minyak dan gas untuk mendapatkan laba.
Bahan baku pestisida , kemasannya , proses pengolahan di pabrik, dan
distribusinya dengan peralatan transportasi mengonsumsi minyak. Penjualan
minyak terus bergerak tanpa henti. Dengan sistem pertanian industry, kita
memakan minyak secara tidak langsung untuk memproduksi , dan mendistribusikan
makanan ke atas meja.
Pestisida jenis neonicotinoids dan fipronil (keduanya
adalah jenis neonics) menyebabkan penurunan serius pada serangga bermanfaat
termasuk lebah madu yang bernilai komersil. Pestisida jenis neonics adalah
racun syaraf yang dalam jangka panjang meskipun sedikit digunakan, merusak
sensor serangga, yang berfungsi untuk mencium, berkembang biak dan mencari
makanan. Ketidakmampuan serangga bermanfaat untuk mencari makanan memicu
masalah pada pertanian(1).
Pesitida kimia membunuh capung dan
predator pembasmi hama sehingga memicu menimbulkan kerugian ekonomi di kemudian
waktu yang tidak sedikit. Zat ini juga membahayakan kesehatan petani dan
penduduk sekitar. Petani sebagai pelaku utama produsen makanan mengalami empat
kerugian,pertama mengeluarkan uang untuk beli pestisida yang terkadang dengan
pinjaman. Kedua, rawan keracunan, ketiga rusaknya lingkungan hidup dan lahan
pertanian dengan tercemarnya air , dan tanah. Pestisida membunuh belut sawah
yang menjadi tambahan ekonomi dan nutrisi warga. Ke empat, ledakan hama tak
terkendali akibat predator alami musnah sehingga timbul kerawanan pangan akibat
gagal panen.
Proses pembuatan pestisida kimia dari
mengebor minyak sampai mengolahnya di pabrik mengeluarkan gas rumah kaca. Ini
berperan dalam pemanasa global. Dari bencana ekologi, kesehatan dan sosial
akibat ini, ada satu pihak yang diuntungkan. Mereka adalah pemegang saham besar
dan eksekutif korporasi minyak, plastik dan agrobisnis. Bank bank yang memberi
pinjaman pada pertanian industry meraih pendapatan tidak sedikit.
Peran Capung Dalam Lingkungan
Lima puluh lima tahun yang lalu sebelum revolusi hijau, populasi capung di Bali dua kali lipat. Di Bali , spesies capung yang paling sering dijumpai adalah capung sambar hijau. Capung ini paling adaptatif terhadap kondisi lingkungan. Di Beberapa sawah, hanya dijumpai empat spesies capung yaitu capung sambar hijau, capung sayap oranye , capung sambar garis hitam dan capung tengger jala tunggal.
Untuk dapat hidup layak capung membutuhkan
kualitas air yang ideal sehingga dapat dijadikan indicator lingkungan. Ketika
capung jarang muncul, kualitas air untuk sawah menurun. Setiap capung mengalami tiga fase utama
dalam hidup yaitu telur, nimfa, dan capung dewasa. Istilahnya, metamorfosis
tidak sempurna. Dalam keseluruhan fase tersebut, dua fase di antaranya
mengharuskan mereka hidup di dalam air yaitu ketika menjadi telur dan
nimfa.Seekor nimfa bisa hidup di air dalam kurun waktu berbeda-beda. Ada yang
hidup beberapa bulan. Ada pula yang hidup empat sampai lima tahun di air.
Namun, umur capung dewasa rata-rata hanya sampai empat bulan. Karena daur hidupnya
bergantung air, maka capung selalu tinggal di dekat perairan atau sumber air(2).
Manfaat capung
pada ekosistem untuk kepentingan manusia sungguh tidak diduga. Ketika capung
berwujud nimfa, mereka memangsa jentik jentik nyamuk. Ini mengurasi resiko
penularan penyakit sehingga membuat kesehatan penduduk terjaga. Setelah tumbuh
dewasa capung membantu petani dalam memerangi serangga hama pertanian seperti
wereng, lalat buah, lalat bibit, kutu, sundep dan beluk serta serangga hama
lainya. Ini berarti capung memberikan manfaat ekonomi sekaligus ekologi secara
alami bagi manusia(3).
Perubahan Paradigma
Untuk mengatasi gejala ini perlu dilakukan
tiga langkah. Pertama mengubah paradigma ilmu
pengetahuan reduksionis mekanistik menjadi holistic ekologi. Segala sesuatu
di alam saling terhubung. Capung, padi, tanah, sungai , manusia , burung dan
laut sebagai contoh kecil saling terhubung. Orang Bali memakan nasi dari sawah
yan dihuni oleh capung,dan burung. Tanah di sawah yang memiliki kekayaan mahluk
hidup berupa cacing tanah dan mikroba penting untuk hidupnya padi. Sawah
membutuhkan air hujan. Air ini berasal dari gumpalan awan dari penguapan
lautan. Inilah bukti keterkaitan tersebut.
Yang harus dilakukan berikutnya adalah
mengubah paradigma ekonomi ekstraktif menjadi regenerative. Sistem ekonomi
ekstraktif dilandasi oleh mengerukan sumber daya alam tanpa memperhatikan daya
regenerasinya. Sistem ekonomi ekstraktif menghasilkan pestisida berbahan minyak
bumi dengan menambang tanpa henti. Tanah dianggap sebagai sumber daya yang
dieksploitasi terus menerus. Tanah, hewan, tumbuhan dan sebagian besar manusia
menjadi objek bagi kepentingan ekonomi korporasi yang hanya bertanggung jawab
pada pemegang saham dimana hampir tidak terjangkau oleh pekerja dan masyarakat
umum yang terdampak dan dibuang begitu saja setelah tidak diinginkan. Sistem
ekonomi regenerative akan menjadikan agroekologi yang menghasilkan pangan dan
sandang sebagai basis perekonomian. Pertambangan dilakukan dengan memperhatikan
efek samping lingkungan bukan membebaninya pada pihak lain. Sumber daya alam
yang tidak dapat diperbaharui dihemat pemakaiannya.
Paradigma kompetisi dan
manupulatif pada masyarakat harus digantikan oleh koorperasi dan memulihkan.
Memandang mahluk lain sebagai pesaing yang harus dibasmi dan bertujuan untuk
mengubah lingkungan agar sesuai dengan kepentingan jangka pendek tanpa melihat
saling keterkaitan adalah penyebab maraknya penggunaan zat beracun. Di alam
lebih banyak koorperasi. Lingkungan yang telah terdegradasi seharusnya dipulihkan
bukan dimanipulasi seperti dijadikan beton dan gedung. [T]
Sumber:
1. Pestisida Rusak Ekosistem Alami. https://hijauku.com/2014/07/01/pestisida-rusak-ekosistem-alami/ . Diakses tanggal 29 Desember 2019
2. Mencari Capung Terakhir. Teks Anton
Muhajir Foto Agung Parameswara. https://balebengong.id/mencari-capung-terakhir/. Diakses tanggal 29 Desember 2019
3. Capung Sahabat Petani . Layanan Informasi
Desa. 15 Februari 2019. https://8villages.com/full/petani/article/id/5c66260fce212bb21780ad01. Diakses tanggal 29 Desember 2019