Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
Seorang wartawan asal Belanda mengikuti rombongan Ratu Belanda ke Bali. Ketika melakukan kunjungan ke Tirta Empul Tampaksiring, Sang wartawan itu bertemu gadis penjual souvenir di kawasan unik dan indah itu. Wartawan itu jatuh cinta dan ingin mengenal gadis itu secara lebih dekat. Saat wartawan tersebut menyatakan cinta, si gadis pun memiliki pertimbangan untuk membicarakannya dengan sang ibu. Wartawan itu lalu diminta menjelaskan latar belakangnya.
Singkat cerita, ibu si gadis tertarik dengan asal usul sang wartawan. Rupanya ibu ini memiliki masa lalu yang berhubungan dengan suaminya. Dulu ibu si gadis memiliki suami orang Belanda, namun karena tugas memisahkan mereka. Saat sang wartawan diminta menunjukkan foto ayahnya, di situ ibu si gadis terkejut. Foto itu ternyata foto suaminya yang pisah beberapa waktu lalu. Jadi, antara wartawan Belanda itu dengan si gadis itu adalah saudara.
Itulah kisah yang dibawakan Teater Angin SMAN 1 Denpasar saat tampil memeriahkan Bulan Bahasa Bali 2020 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu 2 Februari 2020. Teater berjudul ‘Katemu Ring Tampaksiring’ yang diolah dari cerpen Made Sanggra, dikemas dengan apik, sehingga menjadi sesolahan yang sangat menarik. Ceritera yang dibumbui konfik dan kisah cinta tak hanya menarik, tetapi juga sarat pesan dan mendidik.
Hal yang membuat sesolahan (pagelaran) ini beda adalah bahasa yang digunakan merupakan Bali. Padahal, dalam pentasnya teater biasanya menggunakan bahasa Indonesia, namun dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali. Para pemain, hampir seluruhnya menggunakan Bahasa Bali. Mereka mampu berdialog dengan berbahasa Bali di atas panggung, bahkan mereka mampu mengkemasnya, sehingga menjadi beda. Penampilan mereka pun mendapat sambutan penonton yang sebagian besar pelajar.
Mereka terkadang bertingkah yang lucu dan banyol. Kelucuan mereka kemudian dibalut dengan bahasa Bali yang berkembang di kalangan anak muda sekarang. Memang sebagian lagi ada menggunakan Bahasa Inggris dan Bahasa Belanda, mengingat beberapa tokoh cerita menggambarkan warga negara asing. “Cerita ini diambil dari cerpen dengan judul yang sama, yakni Katemu Ring Tampaksiring,” kata Ketua Teater Angin Smansa Denpasar, Nyoman Panji Darmajaya.
Sesolahan Katemu Ring Tampaksiring ini seluruhnya menggunakan bahasa Bali kecuali yang berperan sebagai wartawan Belanda, Ratu Belanda dan asistennya. “Kami tidak terlalu kaku menggunakan bahasa Bali karena sudah digunakan dalam percakapan setiap hari. Kami kebetulan dilatih oleh alumni Teater Angin dalam penggarapan naskah dan drama selama dua minggu. Di sekolah juga pakai bahasa Bali. Hari Kamis juga wajib berbahasa Bali. Jadi tidak terlalu kaku untuk dialog berbahasa Bali,” jelas siswa kelas XI IPA 3 di SMAN 1 Denpasar ini.
Sementara itu Kepala Sekolah (Kasek) SMAN 1 Denpasar, M Rida mengapresiasi penampilan anak didiknya yang menggunakan bahasa Bali dalam dialog di panggung. Hal ini untuk mengimplementasikan pelestarian bahasa, aksara, dan sastra di ranah SMAN 1 Denpasar tidak hanya dengan menggunakannya dalam percakapan sehari-hari, namun juga didorong untuk pengembangan seni lontar, karawitan, tembang yang ada dalam ekstrakurikuler.
Dirinya mengaku salut, ternyata anak-anak masih membudayakan bahasa Bali dengan bagus sekali, dan mereka tampil secara maksimal. Ini menunjukkan generasi muda, khususnya di Smansa Denpasar masih bagus dan baik dalam menggunakan bahasa Bali di kehidupan sehari-hari. “Kami berharap, kegiatan semacam ini makin sering diadakan untuk merangsang kreativitas siswa.“Generasi muda perlu wadah untuk menunjukkan kemampuan dan kreativitas mereka dalam berbahasa Bali seperti momen ini,” harapnya, [T][B/AR/AD][balihbalihan.com]
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...