Seorang wartawan asal Belanda
mengikuti rombongan Ratu Belanda ke Bali. Ketika melakukan kunjungan ke Tirta
Empul Tampaksiring, Sang wartawan itu bertemu gadis penjual souvenir di kawasan
unik dan indah itu. Wartawan itu jatuh cinta dan ingin mengenal gadis itu
secara lebih dekat. Saat wartawan tersebut menyatakan cinta, si gadis pun
memiliki pertimbangan untuk membicarakannya dengan sang ibu. Wartawan itu lalu
diminta menjelaskan latar belakangnya.
Singkat cerita, ibu si gadis
tertarik dengan asal usul sang wartawan. Rupanya ibu ini memiliki masa lalu
yang berhubungan dengan suaminya. Dulu ibu si gadis memiliki suami orang
Belanda, namun karena tugas memisahkan mereka. Saat sang wartawan diminta
menunjukkan foto ayahnya, di situ ibu si gadis terkejut. Foto itu ternyata foto
suaminya yang pisah beberapa waktu lalu. Jadi, antara wartawan Belanda itu
dengan si gadis itu adalah saudara.
Itulah kisah yang dibawakan Teater Angin SMAN 1 Denpasar saat tampil memeriahkan Bulan Bahasa Bali 2020 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu 2 Februari 2020. Teater berjudul ‘Katemu Ring Tampaksiring’ yang diolah dari cerpen Made Sanggra, dikemas dengan apik, sehingga menjadi sesolahan yang sangat menarik. Ceritera yang dibumbui konfik dan kisah cinta tak hanya menarik, tetapi juga sarat pesan dan mendidik.
Hal yang membuat sesolahan
(pagelaran) ini beda adalah bahasa yang digunakan merupakan Bali. Padahal,
dalam pentasnya teater biasanya menggunakan bahasa Indonesia, namun dalam
rangkaian Bulan Bahasa Bali. Para pemain, hampir seluruhnya menggunakan Bahasa
Bali. Mereka mampu berdialog dengan berbahasa Bali di atas panggung, bahkan
mereka mampu mengkemasnya, sehingga menjadi beda. Penampilan mereka pun
mendapat sambutan penonton yang sebagian besar pelajar.
Mereka terkadang bertingkah yang lucu dan banyol. Kelucuan mereka kemudian dibalut dengan bahasa Bali yang berkembang di kalangan anak muda sekarang. Memang sebagian lagi ada menggunakan Bahasa Inggris dan Bahasa Belanda, mengingat beberapa tokoh cerita menggambarkan warga negara asing. “Cerita ini diambil dari cerpen dengan judul yang sama, yakni Katemu Ring Tampaksiring,” kata Ketua Teater Angin Smansa Denpasar, Nyoman Panji Darmajaya.
Sesolahan Katemu Ring
Tampaksiring ini seluruhnya menggunakan bahasa Bali kecuali yang berperan
sebagai wartawan Belanda, Ratu Belanda dan asistennya. “Kami tidak terlalu kaku
menggunakan bahasa Bali karena sudah digunakan dalam percakapan setiap hari.
Kami kebetulan dilatih oleh alumni Teater Angin dalam penggarapan naskah dan
drama selama dua minggu. Di sekolah juga pakai bahasa Bali. Hari Kamis juga
wajib berbahasa Bali. Jadi tidak terlalu kaku untuk dialog berbahasa Bali,”
jelas siswa kelas XI IPA 3 di SMAN 1 Denpasar ini.
Sementara itu Kepala Sekolah
(Kasek) SMAN 1 Denpasar, M Rida mengapresiasi penampilan anak didiknya yang menggunakan
bahasa Bali dalam dialog di panggung. Hal ini untuk mengimplementasikan
pelestarian bahasa, aksara, dan sastra di ranah SMAN 1 Denpasar tidak hanya
dengan menggunakannya dalam percakapan sehari-hari, namun juga didorong untuk
pengembangan seni lontar, karawitan, tembang yang ada dalam ekstrakurikuler.
Dirinya mengaku salut, ternyata anak-anak masih membudayakan bahasa Bali dengan bagus sekali, dan mereka tampil secara maksimal. Ini menunjukkan generasi muda, khususnya di Smansa Denpasar masih bagus dan baik dalam menggunakan bahasa Bali di kehidupan sehari-hari. “Kami berharap, kegiatan semacam ini makin sering diadakan untuk merangsang kreativitas siswa.“Generasi muda perlu wadah untuk menunjukkan kemampuan dan kreativitas mereka dalam berbahasa Bali seperti momen ini,” harapnya, [T][B/AR/AD][balihbalihan.com]