17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Seorang wartawan asal Belanda mengikuti rombongan Ratu Belanda ke Bali. Ketika melakukan kunjungan ke Tirta Empul Tampaksiring, Sang wartawan itu bertemu gadis penjual souvenir di kawasan unik dan indah itu. Wartawan itu jatuh cinta dan ingin mengenal gadis itu secara lebih dekat. Saat wartawan tersebut menyatakan cinta, si gadis pun memiliki pertimbangan untuk membicarakannya dengan sang ibu. Wartawan itu lalu diminta menjelaskan latar belakangnya.
Singkat cerita, ibu si gadis tertarik dengan asal usul sang wartawan. Rupanya ibu ini memiliki masa lalu yang berhubungan dengan suaminya. Dulu ibu si gadis memiliki suami orang Belanda, namun karena tugas memisahkan mereka. Saat sang wartawan diminta menunjukkan foto ayahnya, di situ ibu si gadis terkejut. Foto itu ternyata foto suaminya yang pisah beberapa waktu lalu. Jadi, antara wartawan Belanda itu dengan si gadis itu adalah saudara.
Itulah kisah yang dibawakan Teater Angin SMAN 1 Denpasar saat tampil memeriahkan Bulan Bahasa Bali 2020 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu 2 Februari 2020. Teater berjudul ‘Katemu Ring Tampaksiring’ yang diolah dari cerpen Made Sanggra, dikemas dengan apik, sehingga menjadi sesolahan yang sangat menarik. Ceritera yang dibumbui konfik dan kisah cinta tak hanya menarik, tetapi juga sarat pesan dan mendidik.
Hal yang membuat sesolahan (pagelaran) ini beda adalah bahasa yang digunakan merupakan Bali. Padahal, dalam pentasnya teater biasanya menggunakan bahasa Indonesia, namun dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali. Para pemain, hampir seluruhnya menggunakan Bahasa Bali. Mereka mampu berdialog dengan berbahasa Bali di atas panggung, bahkan mereka mampu mengkemasnya, sehingga menjadi beda. Penampilan mereka pun mendapat sambutan penonton yang sebagian besar pelajar.
Mereka terkadang bertingkah yang lucu dan banyol. Kelucuan mereka kemudian dibalut dengan bahasa Bali yang berkembang di kalangan anak muda sekarang. Memang sebagian lagi ada menggunakan Bahasa Inggris dan Bahasa Belanda, mengingat beberapa tokoh cerita menggambarkan warga negara asing. “Cerita ini diambil dari cerpen dengan judul yang sama, yakni Katemu Ring Tampaksiring,” kata Ketua Teater Angin Smansa Denpasar, Nyoman Panji Darmajaya.
Sesolahan Katemu Ring Tampaksiring ini seluruhnya menggunakan bahasa Bali kecuali yang berperan sebagai wartawan Belanda, Ratu Belanda dan asistennya. “Kami tidak terlalu kaku menggunakan bahasa Bali karena sudah digunakan dalam percakapan setiap hari. Kami kebetulan dilatih oleh alumni Teater Angin dalam penggarapan naskah dan drama selama dua minggu. Di sekolah juga pakai bahasa Bali. Hari Kamis juga wajib berbahasa Bali. Jadi tidak terlalu kaku untuk dialog berbahasa Bali,” jelas siswa kelas XI IPA 3 di SMAN 1 Denpasar ini.
Sementara itu Kepala Sekolah (Kasek) SMAN 1 Denpasar, M Rida mengapresiasi penampilan anak didiknya yang menggunakan bahasa Bali dalam dialog di panggung. Hal ini untuk mengimplementasikan pelestarian bahasa, aksara, dan sastra di ranah SMAN 1 Denpasar tidak hanya dengan menggunakannya dalam percakapan sehari-hari, namun juga didorong untuk pengembangan seni lontar, karawitan, tembang yang ada dalam ekstrakurikuler.
Dirinya mengaku salut, ternyata anak-anak masih membudayakan bahasa Bali dengan bagus sekali, dan mereka tampil secara maksimal. Ini menunjukkan generasi muda, khususnya di Smansa Denpasar masih bagus dan baik dalam menggunakan bahasa Bali di kehidupan sehari-hari. “Kami berharap, kegiatan semacam ini makin sering diadakan untuk merangsang kreativitas siswa.“Generasi muda perlu wadah untuk menunjukkan kemampuan dan kreativitas mereka dalam berbahasa Bali seperti momen ini,” harapnya, [T][B/AR/AD][balihbalihan.com]
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...