Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
“Wahai prajuritku semuanya, bersiap-siaplah, kita akan berperang. Kita akan menyerbu mereka dan kita hancurkan mereka. Kita gempur habis-habisan hahahahaha…,” kata saya dengan suara menggebu-gebu dan bersemangat.
Saya berdiri dengan gagah di atas tunas pohon kelapa yang sudah dipotong. Menggunakan sayap layaknya Superman dan sedikit berkibar-kibar saat diterpa angin. Sayap itu terbuat dari handuk yang biasa digunakan mengelap badan selesai mandi yang salah satu ujungnya diikatkan di leher. Tangan kiri saya juga memegang tongkat yang terbuat dari dahan pohon kopi. Tak lupa, di kepala juga melingkar mahkota yang terbuat dari janur.
Usai memberi komando untuk menyerbu musuh, saya melompat dari atas tunas pohon kelapa itu. Saya merasa diri saya seolah-olah terbang saat melompat. Lalu berlari menerjang dengan garang. Menendang, memukul, memutar tongkat untuk mengalahkan musuh. Satu anak pohon pisang koyak saya hajar.
Tubuh saya basah oleh keringat, tempo nafas saya semakin cepat, saya kelelahan. Dan setelahnya orang tua saya marah saat mendapati anak pohon pisangnya koyak.
Ketika itu, jutaan orang bahkan tidak menyadari jika saya adalah seorang raja yang gagah berani dan mampu memimpin prajurit dengan baik. Walaupun sebenarnya saya bermain raja-rajaan, namun tetap saja, teman sepermainan saya akan menganggap saya sebagai raja, layaknya raja betulan. Bahkan dia berlutut, menyembah sambil memanggil saya dengan sebutan baginda raja. Namun, tak selamanya saya dapat peran sebagai raja. Kadang saya menjadi prajurit yang harus menyembah teman saya yang mendapat giliran sebagai raja.
Biasanya kami melakukan permainan raja-rajaan ini usai menonton serial kolosal di televisi, semisal Angling Dharma ataupun Misteri Gunung Merapi. Pada waktu itu, sebelum sensor merajalela, tayangan serial tersebut mampu menyihir kami yang masih kanak-kanak dan kami selalu menirukannya dalam sebuah permainan.
Bagi kami, menirukan tayangan itu dengan baik dan semirip-miripnya adalah sebuah kebahagiaan. Sejenak kami akan melupakan pelajaran di sekolah, PR yang diberikan guru, kejadian saat dimarahi guru karena tak bisa menjawab pertanyaan di papan tulis, atau dihukum berdiri di depan kelas karena tak membuat PR.
Tapi sayang waktu begitu cepat berlalu. Masa keemasan kami menjadi raja perlahan memudar seiring usia kami yang bertambah. Disadari atau tidak kerajaan kami runtuh secara perlahan karena takhtanya tak ada yang melanjutkan. Dan kini yang tersisa hanyalah kenangan, bahwa dulu saya pernah menjadi raja. Sekali lagi, jutaan orang bahkan tidak menyadari jika dulu saya pernah menjadi raja.
Seiring perkembangan jaman dan sensor yang semakin merajalela, permainan raja-rajaan ini semakin ditinggalkan. Kata orang-orang banyak, anak-anak kini sibuk memainkan gawai yang bahkan lebih canggih dari sekadar peran sebagai raja. Mereka bahkan terlihat lebih suntuk menikmati gawai tanpa harus merasa kelelahan. Hingga anak-anak tak lagi dimarahi oleh orang tuanya karena membuat anak pohon pisang menjadi koyak.
Di saat anak-anak tak menyukai permainan raja-rajaan, ternyata kini permainan itu diteruskan oleh orang-orang dewasa. Mereka bahkan bermain raja-rajaan dengan lebih serius daripada kami sewaktu kanak-kanak. Terus terang, kami kalah jauh pada semua hal.
Berdiri gagah dengan busana mentereng layaknya raja betulan yang dilengkapi dengan lencana-lencana, memiliki istana, punya penasehat, dan bahkan memiliki banyak prajurit yang juga berseragam. Di hari pentasbihannya pun dirayakan dengan kegiatan yang meriah. Sungguh permainan raja-rajaan yang sungguh-sungguh.
Tentu saja saya merasa minder, karena dulu kami tak memiliki busana sementereng itu dan juga istana termasuk singgasana. Kami hanya punya prajurit dan itupun tidak banyak, paling banyak tiga orang.
Walaupun merasa minder, namun saya tetap merasa senang dan bersyukur. Di saat permainan masa kecil kami tak lagi diteruskan oleh anak-anak sekarang, saya merasa beruntung karena ada orang dewasa yang mau melestarikannya. Melestarikan permainan anak-anak yang hampir punah adalah hal yang mulia. Maka sudah sepatutnyalah hal ini mendapat apresiasi. Saya berharap, suatu saat nanti ada penghargaan untuk mereka yang paling mampu memerankan raja dengan sangat baik. [T]
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...