Rompyok Kopi Komunitas Kertas
Budaya nampak sepi. Kursi meja masih kosong saat gelap mulai lahir. Jappy
Sanger, keynote speaker re/AKSI Vol.
01: Festival dan Pengembangan Ekosistem Kreatif, asyik bercengkrama mengenang berbagai
peristiwa. Keberadaannya di Jembrana adalah "ziarah, menengok kembali masa remajanya 35 tahun silam. Sekitar pukul
20.00 Wita, orang-orang mulai berdatangan, termasuk narasumber lainnya, Kadis
Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana, Nengah Alit. Tak perlu waktu lama, halaman
belakang rompyok telah ramai bersama kopi dan jaja bendu tersaji di atas meja.
Festival merupakan perayaan
potensi. Sebab itu ideal sebuah festival sebisa mungkin mencakup berbagai
potensi dan sumber daya yang ada. Di luar jangkauan tersebut, festival menjadi
salah satu media komunikasi efektif untuk menegaskan sebuah brand, baik yang dikelola secara
independen maupun yang menjadi inisiatif atau gagasan pemerintah.
Bali, khususnya Jembrana memiliki
kebudayaan yang unik. Sebutlah itu jegog, adalah produk budaya yang luar biasa.
Namun disamping upaya pelestarian, memberi pemaknaan dengan melihat kembali
potensi yang dimiliki mesti dilakukan untuk memberi nilai yang berbeda. “Jegog
dibenturkan dengan Krakatau (band), misalnya, akan menghasilkan nilai kapital
(yang lebih besar),” tutur Jappy
Bagi co-founder Jazz Market by the Sea tersebut, kreativitas harus mampu
memberi nilai tambah bagi produk budaya yang telah ada, tanpa mengusik esensi
yang mendasarinya. Dalam gelar wacana yang dipantik Nanoq da Kansas, ia memberi
gambaran bagaimana festival menjadi perayaan segala usia dengan mengedepankan
edukasi dan selebrasi yang berujung pada perputaran ekonomi di dalam
pengelolaannya, melalui tayangan video Jazz Market by the Sea 2014 yang
diselenggarakannya.
Para peserta acara re/AKSI Vol. 01: Festival dan Pengembangan Ekosistem Kreatif di Rompyok Kopi Kertas Budaya, Jembrana
Sebuah festival harus melalui
perencanaan yang matang pada tataran konsep, utamanya melakukan kurasi dari
setiap potensi yang akan ditampilkan. Sementara pada tahap eksekusi, penting
dilakukan kolaborasi agar segalanya berjalan sesuai rencana. Sebutlah itu
edukasi yang ingin disuguhkan pada anak-anak adalah pengenalan terhadap
binatang, maka penjajakan dan bekerja sama dengan pihak terkait bisa dilakukan.
Setiap orang memiliki keterbatasan. Sebab itulah, sangat penting untuk
merangkul pihak-pihak yang lebih berkompeten untuk meng-handle aktivitas yang menjadi bagian dari gagasan besar festival. “Bali
Zoo, misalnya, pasti lebih berpengalaman. Kenapa kita tidak kolaborasi saja?,”
ucapnya.
Selain untuk memuluskan pengelolaan,
kolaborasi juga mampu mengurai kompleksitas kebutuhan festival. Kondisi ini pun
berlaku untuk pengelolaan dana penyelenggaraan yang dimiliki. Dengan modal
jejaring, kita bisa melakukan tawar-menawar dengan penampil yang diinginkan,
setelah melalui tahap kurasi yang ketat. Kurasi ini tentu saja berkaitan dengan
kemampuan si penampil untuk mendatangkan pengunjung. “Proses kurasi ini yang memakan
waktu cukup lama agar acara yang kita suguhkan menjadi unik dan menarik untuk
dikunjungi dengan pelibatan berbagai potensi yang ada. Jembrana pun bisa
melakukannya,” jelasnya.
Pencatatan
Di luar berbagai kendala yang
dimiliki, seperti waktu tempuh akses yang panjang, sesungguhnya Jembrana
memiliki potensi yang lebih dari cukup untuk menyelenggarakan festival yang
berdampak, baik itu secara kultural maupun ekonomi. Langkah pertama dan utama
yang harus dilakukan adalah pencatatan terhadap berbagai potensi yang ada, baik
itu kuliner, kriya, tempat wisata, dan sebagainya, termasuk komunitas
kreatifnya. Dengan merangkul dan pelibatan berbagai ekosistem kreatif yang
dimiliki, festival yang diselenggarakan akan menjadi milik siapa saja.
Bagi Jappy, ketika pencatatan sudah
dilakukan, upaya yang bisa dilakukan untuk memastikan kesiapan penyelenggara
adalah dengan menggelar pra event, baik melalui workshop maupun dialog dengan warga lokal. Goal-nya adalah meyakinkan warga bahwa festival yang akan digelar
adalah milik mereka sehingga tanggung jawab atas keberhasilannya ada di tangan
mereka. Kemudian, kegiatan ini wajib dikabarkan kepada masyarakat yang lebih
luas. “Apalagi di zaman digital seperti ini, promosi menjadi mudah dan murah. Gunakan
media sosial masing-masing agar penyebaran informasi semakin luas,” tambah
Jappy.
Pria Jembrana yang konsisten berada
di belakang layar berbagai pertunjukan lokal, nasional hingga internasional ini
membayangkan, betapa Jembrana akan lebih menggeliat apabila setiap desa atau wilayah
bisa merayakan potensinya, termasuk memaksimalkan unikum yang (barangkali)
terlupakan. Sebagai muaranya, tentu saja adalah Jembrana Festival yang
dilakukan setiap tahun oleh Pemkab Jembrana.
Jappy optimis –jika langkah ini
berhasil, kerja Pemkab akan lebih ringan. Festival-festival yang ada di desa bisa
digabungkan dalam satu festival besar. Maka bisa dipastikan, warga yang datang
akan membludak, sekaligus menumbuhkan kebanggaan mereka karena dilibatkan penuh.
Geliat ini juga (pada akhirnya) akan memunculkan keinginan warga yang merantau
di luar untuk pulang dan berbuat untuk Jembrana.
Para peserta acara re/AKSI Vol. 01: Festival dan Pengembangan Ekosistem Kreatif di Rompyok Kopi Kertas Budaya, Jembrana
Jembrana memang memiliki banyak
festival. Dan Pemkab Jembrana, seperti disampaikan Kadisparbud, Nengah Alit, berusaha
memfasilitasi berbagai potensi yang ada. Sebab itulah, Pemkab Jembrana cukup
banyak melakukan kegiatan, sekaligus menjadi ajang promosi pariwisata Jembrana.
“Sesungguhnya kami adalah sebagai fasilitator juga marketing, dengan mengakomodir kegiatan yang diinisiasi komunitas. Tapi
kami sadari, festival yang ada di Jembrana baru pada tahap pengenalan,” ungkapnya.
Selain sebagai perayaan potensi, keberadaan
sebuah festival harus menghasilkan kemaslahatan bersama, utamanya masyarakat
yang berada di wilayah penyelenggaraan festival. Tidak melulu menyoal peningkatan
ekonomi semata, tetapi juga dari sisi psikologi warga. Alit memberi contoh Festival
Loloan Jaman Lame dan Festival Teluk Gilimanuk yang telah dilakukan beberapa tahun
terakhir, selalu menekankan sisi edukasi dan rekreasi dengan merangkul segala potensi
yang ada di wilayah masing-masing.
“Festival Jaman Lame mendapat
dukungan penuh karena edukasi dan misi budaya yang dibawanya. Kita bisa lihat pencak
silat Loloan, sangat berbeda dengan pencak silat di daerah lainnya di Indonesia,”
katanya.
Dengan rendah hati, mantan Guru
Bahasa Inggris dan Kepala SMK Negeri 1 Negara juga mengakui bahwa meski festival
di Jembrana relatif banyak, namun benang merah penyelenggaraan belum
benar-benar jelas. Kendati demikian, Alit menegaskan tetap mengupayakan agar
festival-festival ini bisa jalan bersama. Ia pun menyatakan kesiapan berkolaborasi
dengan festival lain untuk mewujudkan festival yang berdampak dan bisa menjadi
kebanggaan Jembrana. Sebagai langkah awal, Festival Teluk Gilimanuk akan
menjadi pilot project. Selain sarana
dan prasarana yang cukup memadai, pangsa pasar Festival Teluk Gilimanuk juga
sudah mulai terbentuk utamanya di wilayah Jawa Timur. “Targetnya bukan sekedar
jumlah kunjungan, tetapi juga meningkatnya kepuasan warga terhadap festival
yang diselenggarakan,” tutup Alit.
Memertemukan pekerja kreatif dan
praktisi festival, Jappy, dengan Alit yang berada di wilayah birokrasi menjadi
upaya untuk menjembatani kolaborasi aktif-efektif antara pemerintah dengan
komunitas kreatif. Setidaknya, gelar wicara tersebut mampu memunculkan
kesadaran akan berbagai peluang sekaligus keterbatasan dalam berbagai hal.
Budayawan Jembrana, Dharma Santika
Putra, menyebut gelar wicara tersebut berhasil membangun kesepakatan moral
berupa kerja kolaboratif antara komunitas kreatif dengan Pemkab Jembrana. Di
sisi lain, pemantik diskusi Nanoq da Kansas dan JCCO (Jembrana Creative City Oriented) berhasil “mengadu domba” antara
dua kutub itu. Kutub Jappy Sanger disebutnya sebagai kutub profesional dan
praktisi, sementara Alit berada pada kubu pemerintah dan pelaku birokrasi yang
salah satu tupoksinya bersentuhan dengan kerja kebudayaan dan dunia kreatif.
Dalam kuali magesah ala Jembrana, gelar wicara re/AKSI Vol. 01 berlangsung
hangat dan begitu cair. Begitu pula antusiasme berbagai kalangan yang hadir
mulai dari pelajar, birokrat, pengusaha, komunitas, pengusaha hingga awak media
menerbitkan keyakinan, setiap orang memiliki keresahan dan keinginan yang sama
untuk membangun tanah kelahirannya.
Bahwa, banyak pihak yang ingin dan siap berkontribusi bagi tanah Jembrana. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...