Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
“Wahai prajuritku semuanya, bersiap-siaplah, kita akan berperang. Kita akan menyerbu mereka dan kita hancurkan mereka. Kita gempur habis-habisan hahahahaha…,” kata saya dengan suara menggebu-gebu dan bersemangat.
Saya berdiri dengan gagah di atas tunas pohon kelapa yang sudah dipotong. Menggunakan sayap layaknya Superman dan sedikit berkibar-kibar saat diterpa angin. Sayap itu terbuat dari handuk yang biasa digunakan mengelap badan selesai mandi yang salah satu ujungnya diikatkan di leher. Tangan kiri saya juga memegang tongkat yang terbuat dari dahan pohon kopi. Tak lupa, di kepala juga melingkar mahkota yang terbuat dari janur.
Usai memberi komando untuk menyerbu musuh, saya melompat dari atas tunas pohon kelapa itu. Saya merasa diri saya seolah-olah terbang saat melompat. Lalu berlari menerjang dengan garang. Menendang, memukul, memutar tongkat untuk mengalahkan musuh. Satu anak pohon pisang koyak saya hajar.
Tubuh saya basah oleh keringat, tempo nafas saya semakin cepat, saya kelelahan. Dan setelahnya orang tua saya marah saat mendapati anak pohon pisangnya koyak.
Ketika itu, jutaan orang bahkan tidak menyadari jika saya adalah seorang raja yang gagah berani dan mampu memimpin prajurit dengan baik. Walaupun sebenarnya saya bermain raja-rajaan, namun tetap saja, teman sepermainan saya akan menganggap saya sebagai raja, layaknya raja betulan. Bahkan dia berlutut, menyembah sambil memanggil saya dengan sebutan baginda raja. Namun, tak selamanya saya dapat peran sebagai raja. Kadang saya menjadi prajurit yang harus menyembah teman saya yang mendapat giliran sebagai raja.
Biasanya kami melakukan permainan raja-rajaan ini usai menonton serial kolosal di televisi, semisal Angling Dharma ataupun Misteri Gunung Merapi. Pada waktu itu, sebelum sensor merajalela, tayangan serial tersebut mampu menyihir kami yang masih kanak-kanak dan kami selalu menirukannya dalam sebuah permainan.
Bagi kami, menirukan tayangan itu dengan baik dan semirip-miripnya adalah sebuah kebahagiaan. Sejenak kami akan melupakan pelajaran di sekolah, PR yang diberikan guru, kejadian saat dimarahi guru karena tak bisa menjawab pertanyaan di papan tulis, atau dihukum berdiri di depan kelas karena tak membuat PR.
Tapi sayang waktu begitu cepat berlalu. Masa keemasan kami menjadi raja perlahan memudar seiring usia kami yang bertambah. Disadari atau tidak kerajaan kami runtuh secara perlahan karena takhtanya tak ada yang melanjutkan. Dan kini yang tersisa hanyalah kenangan, bahwa dulu saya pernah menjadi raja. Sekali lagi, jutaan orang bahkan tidak menyadari jika dulu saya pernah menjadi raja.
Seiring perkembangan jaman dan sensor yang semakin merajalela, permainan raja-rajaan ini semakin ditinggalkan. Kata orang-orang banyak, anak-anak kini sibuk memainkan gawai yang bahkan lebih canggih dari sekadar peran sebagai raja. Mereka bahkan terlihat lebih suntuk menikmati gawai tanpa harus merasa kelelahan. Hingga anak-anak tak lagi dimarahi oleh orang tuanya karena membuat anak pohon pisang menjadi koyak.
Di saat anak-anak tak menyukai permainan raja-rajaan, ternyata kini permainan itu diteruskan oleh orang-orang dewasa. Mereka bahkan bermain raja-rajaan dengan lebih serius daripada kami sewaktu kanak-kanak. Terus terang, kami kalah jauh pada semua hal.
Berdiri gagah dengan busana mentereng layaknya raja betulan yang dilengkapi dengan lencana-lencana, memiliki istana, punya penasehat, dan bahkan memiliki banyak prajurit yang juga berseragam. Di hari pentasbihannya pun dirayakan dengan kegiatan yang meriah. Sungguh permainan raja-rajaan yang sungguh-sungguh.
Tentu saja saya merasa minder, karena dulu kami tak memiliki busana sementereng itu dan juga istana termasuk singgasana. Kami hanya punya prajurit dan itupun tidak banyak, paling banyak tiga orang.
Walaupun merasa minder, namun saya tetap merasa senang dan bersyukur. Di saat permainan masa kecil kami tak lagi diteruskan oleh anak-anak sekarang, saya merasa beruntung karena ada orang dewasa yang mau melestarikannya. Melestarikan permainan anak-anak yang hampir punah adalah hal yang mulia. Maka sudah sepatutnyalah hal ini mendapat apresiasi. Saya berharap, suatu saat nanti ada penghargaan untuk mereka yang paling mampu memerankan raja dengan sangat baik. [T]
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...