Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Natal tahun 2019, pukul 11.45. Pesawat saya menyentuh tanah Kathmandu yang kala itu diselimuti kabut. Musim dingin di Nepal mewajibkanmu untuk membungkus seluruh bagian tubuh, tidak terkecuali kepala hingga mulut. Udara begitu menusuk yang membuat mulut dan hidung kering.
Tujuan saya bukanlah Kathmandu. Namun, saya memiliki satu hari yang cukup untuk bersua Kuil Swayambhunath dan Patan Durbar Square. Saya “menyamar” sebagai seorang Nepali dan kebanyakan orang mengira saya Nepali hingga tangan saya meraih kamera dan mengeluarkannya dari tas kecil. “Where are you from?” tanya seorang penjaga Kuil. Ketika saya mendeklarasikan kewarganegaraan saya, digiringlah saya menuju loket untuk membayar 200 Rupee (Sekitar Rp 25.000) untuk masuk ke Kuil, meskipun saya sebenarnya sudah berada di atas sebelum jati diri saya ketahuan di sana.
Saya tiba di Patan Durbar Square ketika gelap sudah menyelubungi langit, pukul 05.30 sore hari. Ratusan warga lokal memenuhi salah satu warisan UNESCO ini. Kebanyakan mereka duduk-duduk santai dan mengambil foto. Sebagian besar terlihat bersama teman-teman, keluarga, ataupun saudara. Waktu saya tak cukup lama, karena saya harus mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang keesokan harinya.
Pukul 06.45 pagi keesokan harinya, saya cukup terlambat untuk mengambil Micro Bus hingga mendapat tempat yang agak berdesakan dengan penumpang lainnya. 6 jam kemudian, saya sampai di Besishahar, tempat terakhir di mana jalan memiliki permukaan mulus. 6 jam selanjutnya saya harus tempuh bersama jeep, melewati tebing lembah Manang yang berbatu dan ber-es. Entah kenapa saya hanya memiliki sedikit rasa takut atau khawatir ketika melalui jalan penuh goncangan tersebut dan saya mempercayakan keselamatan saya sepenuhnya pada pak supir yang terlihat begitu santai dan tenang dengan pengalaman yang cukup melewati jalan seperti itu.
Akhirnya kami sampai di Chame, salah satu desa di Distrik Manang. Saya tiba di Teahouse pertama saya di Chame. Teh Susu yang disuguhkan benar-benar seperti surga setelah perjalanan panjang, dingin dan kering. Meski demikian, saya sangat-sangat dimanjakan dengan pemandangan memukau pegunungan di Distrik Lamjung sebelum sampai Distrik Manang.

Suhu pada pagi hari tanggal 27 Desember 2019 mencapai -12°C. Sebenarnya awalnya saya mendapat kabar bahwa tidak ada Jeep menuju Desa Manang, karena es yang begitu licin dan salju yang cukup tinggi yang membuat Jeep tidak dapat lewat. Namun, saya sangat beruntung dalam perjalanan ini karena mendapatkan tumpangan Jeep menuju Manang. Setelah 3-4 jam perjalanan, saya dan guide sampai di Desa Manang yang terletak di ketinggian 3.540 meter di atas permukaan laut. Pemandangan puncak Gangapurna (7.455 mdpl) dan Annapurna III (7.555 mdpl) di balik jendela kamar menantang saya untuk menggapainya. Namun apa daya, saya bukan seorang keturunan Sherpa yang mampu menaklukkan gunung-gunung di bentangan Himalaya. Kesempatan untuk mengelilingi desa dan melihat Danau dan Glacier Gangapurna saja sudah lebih dari cukup bagi saya.
Hari Sabtu, 28 Desember 2019 dengan suhu -16°C, saya mulai mengalami gejala ringan Altitude Sickness. Semalam sebelumnya saya sama sekali tidak dapat tidur, kepala dan leher sakit. Guide saya mengatakan bahwa obat pertama untuk Altitude Sickness adalah turun menuju ketinggian yang lebih rendah. Saat itu, sayangnya tidak ada Jeep yang berangkat dari Manang untuk turun ke bawah sehingga kami harus trek selama 6-7 jam menuju Upper Pisang. Hal ini adalah keberuntungan bagi saya karena selama sekian jam perjalanan turun saya disuguhkan bentangan megah dan majestic lembah Manang yang sama sekali berbeda dengan Indonesia. Saya tak henti-hentinya terkagum-kagum dan berpikir “Apakah aku di dunia yang berbeda?” Namun sayang sekali, ketika mencapai Upper Pisang, dan hanya tinggal 50 meter saja naik tangga saya menyerah dan memberikan barang bawaan saya kepada guide saya hingga mencapai Teahouse di Upper Pisang.

Di jadwal perjalanan, seharusnya saya naik 200 meter dari Manang menuju Khangsar. Justru, saya turun sampai Upper Pisang. Namun, sekali lagi ini saya anggap sebagai keberuntungan, karena dari Upper Pisang saya serasa begitu dekat dengan Annapurna II (7.937 mdpl) yang begitu megah dan berdiri seakan menatap saya dan mengatakan bahwa saya begitu kecil. Satu hari di Upper Pisang, saya berkesempatan mengunjungi salah satu monastery di sana yang saat itu kosong karena para bhiksu belum ada di sana. Saat itu saya berpikir betapa hebatnya perjuangan para orang Sherpa dan Gurung di pegunungan Himalaya menjaga kesucian dan kesakralan alam meskipun banyak sekali turis yang melakukan trekking di area tersebut.

Dari Upper Pisang kami turun, sekali lagi tanpa kendaraan. Perhitungan kami kala itu, seandainya sama sekali tidak ada Jeep yang melintas, berarti kami harus bermalam di Chame sekali lagi. Seandainya kami menemukan Jeep, maka kami dapat turun lebih jauh dan bermalam di Tal dengan pemandangan yang tidak kalah megah, namun tanpa salju dan es. Sekali lagi, saya sangat beruntung karena setelah 3,5 jam trekking turun, sebuah Jeep melintas dan kamipun naik di belakang bersama barang-barang bawaan penumpang dan berdesakkan dengan 5 penumpang lainnya.
Setelah 3 jam perjalanan yang memabukkan, semua terbayar dengan pemandangan hebat dari bawah lembah Desa Tal yang berdampingan langsung dengan aliran Sungai Marsyangdi. Suhu sudah semakin hangat, tingkat oksigen semakin tinggi dan tekanan udara semakin rendah. Tal berada di ketinggian 1,700 mdpl, mirip dengan ketinggian Gunung Batur. Tal merupakan desa terakhir yang kami kunjungi di Distrik Manang sebelum akhirnya berangkat pulang menuju Kathmandu.
Begitu banyak pesan yang Himalaya sampaikan kepada saya. Yang pertama, saya harus menjaga dan menghargai diri dan keselamatan diri. Saya belajar untuk mendekatkan diri dengan diri sendiri dan semesta yang begitu megah dan luar biasa. Yang kedua, saya semakin membuka pikiran bahwa ada banyak hal yang tidak kita ketahui, pahami ataupun mengerti di dunia ini, sehingga kebijaksanaan harus senantiasa ditumbuhkan dalam hidup. Kehidupan orang Nepal yang jauh dari kata kemajuan membuat saya sadar bahwa mereka perlu bantuan kita, perlu lebih banyak turis baik yang bisa memberikan kontribusi positif bagi kemajuan Nepal dan Dunia.
Jika kalian cukup beruntung dapat membaca tulisan ini, mari hidup saat ini. Jangan sesalkan hari kemarin atau khawatirkan hari esok. Hiduplah hari ini, berpetuanglah dan tuliskan cerita luar biasa karena hidup hanya sekali. Dekatkan diri dengan diri sendiri, kuatkan mental dan fisik dan jadilah orang yang lebih kuat daripada sebelumnya. Tetap jaga dan lestarikan alam dan bantu mereka yang membutuhkan. Sekali lagi, hiduplah hari ini, pelajari banyak hal, berikan beribu cinta dan tertawalah selepas-lepasnya. Salam Damai. Namaste. [T]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...