Komunikasi, Menangis, Tertawa, dan Politik
SEMPAT beredar di linimasa media sosial dan pemberitaan, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Dayang menangis tersedu-sedu seusai meminta maaf atas kasus keracunan massa...
Bill Gates, pendiri Microsoft Corporation, memiliki kekayaan bersih US$ 90 milyar di tahun 2018. Dari US$ 90 milyar tersebut, US$ 41 milyar, atau sekitar 45% nya telah didonasikan dalam Yayasan Bill & Melinda Gates yang berfokus pada kesehatan dan kemiskinan global. Setahun kemudian, kekayaan bersihnya menjadi US$ 107 milyar. Nah, kenapa bisa? Dia mendonasikan hampir setengah kekayaannya, tapi justru setahun kemudian kekayaannya bertambah?
Bill Gates bukanlah milyarder satu-satunya yang rajin melakukan donasi. Selain Gates, ada nama-nama seperti Jack Ma (pendiri Alibaba Group), Jeff Bezos (pendiri Amazon), Mark Zuckerberg (pendiri Facebook), Larry Page dan Sergey Brin (pendiri Google), dan banyak milyarder lainnya yang mengeluarkan jutaan dollar untuk donasi. Kebanyakan orang sepertinya berpikir, “Ah mereka kaya, tentu bisa donasi jutaan dollar.” Namun, sangat sedikit sekali mungkin yang berpikir lain, “Apa karena mereka sering berbagi mereka jadi kaya?”
Kebiasan bersedekah diajarkan secara luas oleh agama-agama mayoritas dunia seperti Kristen, Islam (zakat), Hindu (Dana Punia), dan Yahudi (Tzedakah). Pada dasarnya tidak ada patokan berapa nominal atau persentase nilai sedekah yang diwajibkan. Meski demikian, Islam contohnya, menyarankan 2,5% dari pendapatan didonasikan atau dijadikan sedekah.
Namun, hingga saat ini, kebanyakan orang masih merasa ragu ataupun tidak yakin untuk berdonasi atau bersedekah, meskipun agamanya mengajarkan untuk berdonasi. Mindset sebagian besar orang masih sama, gunakan pendapatan dulu seperlunya, jika ada sisa, barulah ditabung atau didonasikan. Padahal, sebagian besar motivator ataupun pengusaha sukses selalu menyarankan untuk menyisihkan terlebih dahulu 30% dari pendapatan untuk tabungan dan/atau sedekah, kemudian sisanya digunakan untuk keperluan bulanan.
Permasalahan sebagian besar orang mungkin terletak pada faktor psikologis. Kebanyakan orang merasa sedih ataupun tidak berani jika melihat saldo tabungannya berkurang, apalagi dengan nominal yang besar untuk ditabung, diinvestasikan atau digunakan untuk sedekah. Permasalahan kedua mungkin kebanyakan orang merasa khawatir seandainya uang yang mereka donasikan disalahgunakan oleh para penggalang dana. Atau mungkin juga masyarakat masih belum paham persis kemana, atau bagaimana donasi dilakukan.
Pada dasarnya, donasi atau sedekah itu adalah hal yang sangat sangat sederhana. Kita tidak harus pergi ke suatu Yayasan ataupun organisasi penggalangan dana untuk berbagi. Cukup dengan meningkatkan sensitivitas kita terhadap lingkungan sekitar. Contoh sederhana yang bisa dilakukan misalnya, ketika pergi makan di luar, tidak ada salahnya untuk mentraktir orang tua atau teman kita. Contoh lain, jika punya adik atau keponakan, bisa berbagi dengan membelikan mainan ataupun kebutuhan pendidikan mereka.
Itu baru beberapa contoh cara berbagi atau berdonasi untuk orang-orang terdekat. Jika mau ke tahap yang lebih tinggi, tentu kita bisa berdonasi untuk gerakan-gerakan yang signifikan dalam membantu kehidupan masyarakat banyak. Contohnya, berdonasi untuk penanggulangan bencana, untuk peningkatan fasilitas pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya.
Dewasa ini sebenarnya kita sudah sangat dimudahkan untuk berbagi. Saat ini sudah mulai banyak organisasi-organisasi nirlaba yang memberikan wadah bagi para donatur untuk berbagi. Contohnya Kitabisa.com. Kitabisa menyediakan aplikasi android dan iOS yang bisa memudahkan kita untuk berdonasi. Dalam aplikasi tersebut terdapat banyak pilihan penggalangan dana mana yang ingin didonasikan dalam berbagai kategori, seperti bencana alam, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, sosial, dan lain sebagainya.
Nominal donasinya pun tidak harus banyak. Minimal dengan Rp. 10.000 saja kita sudah bisa berbagi kepada yang membutuhkan. Untuk kredibilitasnya bagaimana? Nah, untuk para donatur kitabisa akan selalu diberikan email berkala terkait perkembangan penggalangan dana yang dipilih beserta bukti fisik seperti dokumentasi, surat, dan lain sebagainya. Secara pribadi sih saya jarang sekali membaca laporan berkala tersebut. Intinya adalah ketulusan untuk berbagi dan berdonasi dan yakin serta percaya bahwa uang yang kita donasikan akan digunakan dengan sebaik-baiknya. Intinya tetap adalah kepercayaan dan keyakinan.
Kembali lagi ke pertanyaan tentang para milyarder di atas, “Apa karena mereka sering berbagi mereka jadi kaya?” Menurut saya, dan berdasarkan pengalaman pribadi, donasi dan sedekah memiliki kekuatan finansial yang sangat besar bagi pelakunya. Selama kurang lebih 1-2 tahun terakhir saya relatif rutin melakukan donasi bulanan di kitabisa.com, hanya dengan nilai Rp 50.000-100.000 per bulan.
Pernah suatu saat, entah kenapa saya lupa dan tidak berdonasi dalam satu bulan dan saya mengalami penurunan dalam pemasukan bulanan saya. Pada bulan selanjutnya saya ingat kembali untuk berdonasi dan, entah apakah ada hubungannya atau tidak, pendapatan saya menjadi hampir dua kali lipat dari bulan sebelumnya. Begitu pula seterusnya ,hingga sekarang, saya merasakan dan sangat yakin bahwa donasi yang saya keluarkan berbunga menjadi pendapatan berkali lipat.
Pada akhirnya, semuanya kembali pada keyakinan diri masing-masing orang. Mungkin yang saya alami hanya kebetulan saja, atau mungkin juga memang rejeki ada hubungannya dengan donasi. Tetapi saya selalu percaya bahwa “semakin sering kita memberi, semakin sering kita menerima”. Dalam istilah Hindu namanya adalah Karma Phala, apa yang kita tanam, itu yang kita tuai.
Bagi saya pribadi, berdonasi, terutama jika sasarannya tepat, yaitu orang-orang yang sangat membutuhkan, seperti korban bencana alam, anak-anak pedalaman, atau orang-orang yang memiliki penyakit yang susah disembuhkan, akan memberikan dampak yang sangat luar biasa bagi donaturnya. Di satu sisi kita bisa membantu mereka yang membutuhkan, dan di sisi lain, jika kita yakin, rejeki pun akan dengan sejalan berlimpah.
Mungkin agak kurang ilmiah jika berpikir bahwa “Tuhan akan senantiasa memberikan lebih bagi mereka yang mau berbagi”. Tapi bagi saya pribadi, Tuhan memang selalu memberikan lebih bagi mereka yang suka berbagi dibandingkan pada mereka yang pelit. Saya percaya bahwa uang yang kita keluarkan untuk kebaikan, entah bagaimana, akan kembali berkali-kali lipat kepada kita.
Bulan depan kita sudah masuk ke dekade yang baru. Mari revolusi mental kita, revolusi rasa kemanusiaan kita, dan mulai viralkan kebaikan!
Salam damai. [T]
SEMPAT beredar di linimasa media sosial dan pemberitaan, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Dayang menangis tersedu-sedu seusai meminta maaf atas kasus keracunan massa...
BALI hari ini sedang kehilangan fungsi oase jiwa sebagai Pulau Dewata. Di balik senyum sumringah pariwisata dan wangi asep menyan majegau yang mengepul di setiap sudut pura, terse...
WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari Praha cukup mengambil perhatian saya karen...
Lebih baik aku jadi debu di tanah bayu. Asal ku menyatu dalam perlawanan. Begitulah monolog Sayu Wiwit dalam drama musikal Rempeg: Bayu Tak Pernah Padam. Ditampilkan dan diprod...
DI Bali, tempat suci idealnya menjadi ruang hening: tempat manusia menundukkan kepala, menyucikan niat, dan menata hubungan dengan yang maha kuasa. Namun dalam praktik sosial yang...
BAIT PERTAMA Baris pertama,entah sudah kutulis untukmutentang singgah pertemuandan dekap hangat mata rayumulekat rindu seakan menjadi teman Baris kedua,Pertama kali senyum t...
TOKO jam itu selalu tutup setengah hari. Terletak di pojok Jalan Salemba, diapit warung kopi dan toko plastik, toko itu seperti tak peduli zaman. Namanya “Waktu & Anak-Anak...
ISTILAH sekaa gong sebunan, atau sekaa yang anggotanya berasal dari satu desa, belakangan mulai tak terdengar gaungnya. Kini, untuk ikut Pesta Kesenian Bali (PKB) misalnya, banyak...
ETIKA politik di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan serius yang bersifat multidimensional. Krisis kepercayaan publik terhadap institusi politik, menguatnya pragmatisme keku...
PENDIDIKAN tinggi seni hari ini tidak lagi cukup hanya berkutat pada penguasaan teknik di dalam studio atau penghapalan teori di ruang kelas. Tantangan abad ke-21 menuntut kemampu...