Belajar Menerima Konsekuensi --Catatan Setelah Membaca Buku 23;59
Judul Buku: 23:59 Penulis Buku: Brian Khrisna Penerbit: Media Kita Tahun Terbit: 2023 Halaman: 232 hlm “Tidak ada yang lebih menyakitkan ketimbang hubungan yang b...
Bill Gates, pendiri Microsoft Corporation, memiliki kekayaan bersih US$ 90 milyar di tahun 2018. Dari US$ 90 milyar tersebut, US$ 41 milyar, atau sekitar 45% nya telah didonasikan dalam Yayasan Bill & Melinda Gates yang berfokus pada kesehatan dan kemiskinan global. Setahun kemudian, kekayaan bersihnya menjadi US$ 107 milyar. Nah, kenapa bisa? Dia mendonasikan hampir setengah kekayaannya, tapi justru setahun kemudian kekayaannya bertambah?
Bill Gates bukanlah milyarder satu-satunya yang rajin melakukan donasi. Selain Gates, ada nama-nama seperti Jack Ma (pendiri Alibaba Group), Jeff Bezos (pendiri Amazon), Mark Zuckerberg (pendiri Facebook), Larry Page dan Sergey Brin (pendiri Google), dan banyak milyarder lainnya yang mengeluarkan jutaan dollar untuk donasi. Kebanyakan orang sepertinya berpikir, “Ah mereka kaya, tentu bisa donasi jutaan dollar.” Namun, sangat sedikit sekali mungkin yang berpikir lain, “Apa karena mereka sering berbagi mereka jadi kaya?”
Kebiasan bersedekah diajarkan secara luas oleh agama-agama mayoritas dunia seperti Kristen, Islam (zakat), Hindu (Dana Punia), dan Yahudi (Tzedakah). Pada dasarnya tidak ada patokan berapa nominal atau persentase nilai sedekah yang diwajibkan. Meski demikian, Islam contohnya, menyarankan 2,5% dari pendapatan didonasikan atau dijadikan sedekah.
Namun, hingga saat ini, kebanyakan orang masih merasa ragu ataupun tidak yakin untuk berdonasi atau bersedekah, meskipun agamanya mengajarkan untuk berdonasi. Mindset sebagian besar orang masih sama, gunakan pendapatan dulu seperlunya, jika ada sisa, barulah ditabung atau didonasikan. Padahal, sebagian besar motivator ataupun pengusaha sukses selalu menyarankan untuk menyisihkan terlebih dahulu 30% dari pendapatan untuk tabungan dan/atau sedekah, kemudian sisanya digunakan untuk keperluan bulanan.
Permasalahan sebagian besar orang mungkin terletak pada faktor psikologis. Kebanyakan orang merasa sedih ataupun tidak berani jika melihat saldo tabungannya berkurang, apalagi dengan nominal yang besar untuk ditabung, diinvestasikan atau digunakan untuk sedekah. Permasalahan kedua mungkin kebanyakan orang merasa khawatir seandainya uang yang mereka donasikan disalahgunakan oleh para penggalang dana. Atau mungkin juga masyarakat masih belum paham persis kemana, atau bagaimana donasi dilakukan.
Pada dasarnya, donasi atau sedekah itu adalah hal yang sangat sangat sederhana. Kita tidak harus pergi ke suatu Yayasan ataupun organisasi penggalangan dana untuk berbagi. Cukup dengan meningkatkan sensitivitas kita terhadap lingkungan sekitar. Contoh sederhana yang bisa dilakukan misalnya, ketika pergi makan di luar, tidak ada salahnya untuk mentraktir orang tua atau teman kita. Contoh lain, jika punya adik atau keponakan, bisa berbagi dengan membelikan mainan ataupun kebutuhan pendidikan mereka.
Itu baru beberapa contoh cara berbagi atau berdonasi untuk orang-orang terdekat. Jika mau ke tahap yang lebih tinggi, tentu kita bisa berdonasi untuk gerakan-gerakan yang signifikan dalam membantu kehidupan masyarakat banyak. Contohnya, berdonasi untuk penanggulangan bencana, untuk peningkatan fasilitas pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya.
Dewasa ini sebenarnya kita sudah sangat dimudahkan untuk berbagi. Saat ini sudah mulai banyak organisasi-organisasi nirlaba yang memberikan wadah bagi para donatur untuk berbagi. Contohnya Kitabisa.com. Kitabisa menyediakan aplikasi android dan iOS yang bisa memudahkan kita untuk berdonasi. Dalam aplikasi tersebut terdapat banyak pilihan penggalangan dana mana yang ingin didonasikan dalam berbagai kategori, seperti bencana alam, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, sosial, dan lain sebagainya.
Nominal donasinya pun tidak harus banyak. Minimal dengan Rp. 10.000 saja kita sudah bisa berbagi kepada yang membutuhkan. Untuk kredibilitasnya bagaimana? Nah, untuk para donatur kitabisa akan selalu diberikan email berkala terkait perkembangan penggalangan dana yang dipilih beserta bukti fisik seperti dokumentasi, surat, dan lain sebagainya. Secara pribadi sih saya jarang sekali membaca laporan berkala tersebut. Intinya adalah ketulusan untuk berbagi dan berdonasi dan yakin serta percaya bahwa uang yang kita donasikan akan digunakan dengan sebaik-baiknya. Intinya tetap adalah kepercayaan dan keyakinan.
Kembali lagi ke pertanyaan tentang para milyarder di atas, “Apa karena mereka sering berbagi mereka jadi kaya?” Menurut saya, dan berdasarkan pengalaman pribadi, donasi dan sedekah memiliki kekuatan finansial yang sangat besar bagi pelakunya. Selama kurang lebih 1-2 tahun terakhir saya relatif rutin melakukan donasi bulanan di kitabisa.com, hanya dengan nilai Rp 50.000-100.000 per bulan.
Pernah suatu saat, entah kenapa saya lupa dan tidak berdonasi dalam satu bulan dan saya mengalami penurunan dalam pemasukan bulanan saya. Pada bulan selanjutnya saya ingat kembali untuk berdonasi dan, entah apakah ada hubungannya atau tidak, pendapatan saya menjadi hampir dua kali lipat dari bulan sebelumnya. Begitu pula seterusnya ,hingga sekarang, saya merasakan dan sangat yakin bahwa donasi yang saya keluarkan berbunga menjadi pendapatan berkali lipat.
Pada akhirnya, semuanya kembali pada keyakinan diri masing-masing orang. Mungkin yang saya alami hanya kebetulan saja, atau mungkin juga memang rejeki ada hubungannya dengan donasi. Tetapi saya selalu percaya bahwa “semakin sering kita memberi, semakin sering kita menerima”. Dalam istilah Hindu namanya adalah Karma Phala, apa yang kita tanam, itu yang kita tuai.
Bagi saya pribadi, berdonasi, terutama jika sasarannya tepat, yaitu orang-orang yang sangat membutuhkan, seperti korban bencana alam, anak-anak pedalaman, atau orang-orang yang memiliki penyakit yang susah disembuhkan, akan memberikan dampak yang sangat luar biasa bagi donaturnya. Di satu sisi kita bisa membantu mereka yang membutuhkan, dan di sisi lain, jika kita yakin, rejeki pun akan dengan sejalan berlimpah.
Mungkin agak kurang ilmiah jika berpikir bahwa “Tuhan akan senantiasa memberikan lebih bagi mereka yang mau berbagi”. Tapi bagi saya pribadi, Tuhan memang selalu memberikan lebih bagi mereka yang suka berbagi dibandingkan pada mereka yang pelit. Saya percaya bahwa uang yang kita keluarkan untuk kebaikan, entah bagaimana, akan kembali berkali-kali lipat kepada kita.
Bulan depan kita sudah masuk ke dekade yang baru. Mari revolusi mental kita, revolusi rasa kemanusiaan kita, dan mulai viralkan kebaikan!
Salam damai. [T]
Judul Buku: 23:59 Penulis Buku: Brian Khrisna Penerbit: Media Kita Tahun Terbit: 2023 Halaman: 232 hlm “Tidak ada yang lebih menyakitkan ketimbang hubungan yang b...
HINGGA saat ini, di daerah Tejakula, sebut saja seperti Sembiran, Pacung, Julah, dan Bondalem, masih banyak perajin tenun. Tentu saja itu bukan jenis pekerjaan kemarin sore. Menen...
PADA tulisan sebelumnya, saya telah uraikan bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Bali Utara—khususnya wilayah Tejakula dan sekitarnya—merupakan jalur dagang pada masa Bali Kuna....
DALAM sejarah, Singaraja (Buleleng) di Bali Utara tercatat sebagai jalur perdagangan yang semarak dan hidup. Apalagi saat wilayah yang didirikan oleh Raja Panji Sakti itu didapuk...
COBA bayangkan Indonesia pada tahun 2045, saat negeri ini genap berusia satu abad. Kita berharap melihat generasi muda yang sehat, cerdas, produktif, dan mampu bersaing di tingkat...
KATOWICE, kota tempat saya menjalankan exchange di Polandia, menawarkan kesibukan layaknya kota modern pada umumnya. Namun, hanya satu jam dari sana, tepatnya di kota Oświęcim, te...
Abstrak Perang Yarmuk yang terjadi pada tahun 636 M merupakan salah satu peristiwa militer paling menentukan dalam sejarah awal Islam sekaligus sejarah Kekaisaran Romawi Timur...
SENJA di kawasan Sunset Road, Kuta, belum sepenuhnya tenggelam ketika pintu Recital Room Debeat Music perlahan terbuka, Senin, 26 Januari 2026. Pukul 17.30 Wita, satu per satu pen...
MESKI bukan terlahir sebagai muslim, Islam begitu dekat dengan kehidupan saya. Lahir dan dibesarkan di kota kecil yang terletak di ujung barat Pulau Bali, sejak kecil saya terbias...
— Catatan Harian Sugi Lanus, 26 Januari 2026 Tadi siang saya diundang bercakap di podcast/YouTube channel "Case Closed" terkait dengan hari Nyepi yang konon ingin dipindah...