Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
TANAH liat yang dibentuk serupa manusia itu saling bertumpuk. Sengkarut meniti tangga. Manusia-manusia liat itu berebut, bertempuk, menuju sebuah mangkuk tanah liat yang di dalamnya terdapat air.
Di dalam mangkuk itu, sejumlah manusia-manusia liat lainnya tenggelam. Beberapa lainnya masih mampu timbul, setelah menginjak manusia liat lainnya.
Mangkuk dan manusia tanah liat itu, merupakan bagian dari karya seni rupa yang dibuat Luh Suartini, dosen seni rupa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja. Karya itu diberi judul Berebut Tempat Basah (2019, stoneware, variable dimension).
Lewat karya itu, Suartini berusaha menunjukkan kondisi kekinian, tatkala para pekerja negeri maupun swasta, berusaha berebut tempat yang dianggap “basah”. Padahal “tempat basah” itu bisa saja jadi sumber petaka. Pekerja bisa tenggelam dalam pekerjaan yang tak pernah berakhir, atau tenggelam dalam masalah korupsi.
Luh Suartini adalah salah satu dari 10 dosen jurusan pendidikan seni rupa Undiksha yang menyelenggarakan pameran, di Ruang Galeri Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha. Pameran itu dibuka Wakil Rektor III Undiksha, Prof. Dr. I Wayan Suastra, pada Rabu (27/11/2019).

Adapun sembilan dosen lain yang terlibat dalam pameran yakni Hardiman, Mursla, I Nyoman Sila Agus Sudarmawan, Gede Eka Harsana Koriawan, I Ketut ‘Kumis’ Sudita, I Gusti Nengah Sura Ardana, I Wayan Sudiarta, I Nyoman ‘Polenk’ Rediasa, dan I Made Susanta Dwitanaya. Mereka akan menggelar pameran bersama, hingga 11 Desember mendatang.
Karya-karya yang dihadirkan tak melulu karya seni lukis. Memang karya lukis sangat mendominasi. Tercatat ada 20 karya lukis yang dipamerkan. Namun ada pula sejumlah karya lain. Seperti kriya keramik yang dibuat Luh Suartini, instalasi yang dibuat Agus Sudarmawan, kriya kayu yang dibuat oleh I Nyoman sila dan I Ketut Sudita, dan fotografi yang dibuat oleh Mursal.
Dalam hal karya lukis, berbagai gaya ditampilkan. Ada yang menampilkan gaya realis seperti yang dihadirkan I Gusti Nengah Sura Ardana, gaya surealis, maupun abstrak.
Sura Ardana, sengaja menghadirkan karya-karya yang bersifat realis. Sejumlah wajah sepuh, dihadirkan pada karya-karyanya. Tengok saja karya berjudul Lapuk Itu Indah (2019, cat minyak pada kanvas, 150x250 cm). Pada karya itu, ia menghadirkan sesosok pria tua bertopi biru yang duduk di balik jendela. Pria itu menghadirkan ekspresi yang misterius, entah tersenyum, atau sama sekali tanpa ekspresi.
Sura mengaku sebelum berkarya, ia selalu mencari objek untuk dipotret. Objek itu kemudian ia terjemahkan dalam bentuk karya, yang bahkan sangat mendetail. Dalam hal wajah para sepuh, ia menghadirkan seluruh bentuk kerutan di wajah hingga leher. Bahkan kondisi lapuk di kusen jendela, dihadirkan secara presisi.
“Bagi saya, wajah itu misteri dari seluruh bagian tubuh kita. Kalau marah, maka akan terlihat gesture seperti marah,” katanya.
Lukisan abstrak karya Hardiman juga tak kalah menarik dicermati. Melalui karyanya yang berjudul Mereka Bilang (2019, cat akrilik dan bolpoin pada kanvas, 100x130 cm), Hardiman menghadirkan abstraktif, stilatif, dan naratif dalam satu bingkai lukisan. Ketiga unsur itu sebenarnya unsur-unsur yang disharmonis. Namun bisa saja menjadi sebuah karya yang harmonis saat disatukan.
Saking disharmonisnya, ada dua kanvas yang dijadikan dalam satu bingkai lukisan. Kanvas utama, terdapat unsur abstraktif dan stilatif. Sementara unsur naratif, dihadirkan pada kanvas berukuran 30x40 cm yang terletak di tengah-tengah lukisan utama. Kanvas berukuran kecil ini, digambar menggunakan bolpoin yang menghadirkan narasi tentang kekacauan kondisi kini.
“Saya coba gabungkan unsur-unsur yang tidak harmonis ini sebagai harmonis. Secara keseluruhan, apakah lukisan ini bisa dinikmati? Bisa ya, bisa tidak. Tergantung subjektifitas apresiator. Bisa dibilang lukisan saya ini seperti rujak. Menghadirkan aneka macam rasa buah, ada rasa pedasnya juga, tapi bisa dinikmati,” jelasnya.
Karyanya yang lain, yang berjudul Seri Sepuluh Abstraksi Unggas (2019, cat akrilik pada kanvas, 30x40 cm) juga sempat memunculkan perdebatan. Setidaknya bagi pengunjung yang menyaksikan pameran itu.
Pada lukisan itu, Hardiman menghadirkan sembilan panel lukisan yang terdiri dari abstraksi terhadap burung jalak. Pada awalnya, ia berusaha menghadirkan lukisan yang sangat mirip dengan burung jalak. Namun dalam proses, Hardiman melakukan improvisasi.
“Ketika berproses saya nggak ingat lagi sedang buat jalak. Jalak hanya titik berangkat saja. Selanjutnya yang berkembang adalah persoalan visual. Persoalan bentuk garis, bidang, dan warna,” ungkap pria yang juga dikenal sebagai kurator pameran itu.
Perdebatan yang muncul pada karya Seri Sepuluh Abstraksi Unggas ini, bermula dari jumlah lukisan yang dihadirkan. Hanya ada sembilan panel lukisan yang dihadirkan. Sementara judul lukisan, adalah Seri Sepuluh Abstraksi Unggas.
Kemana lukisan kesepuluh? Saya dan beberapa pengunjung sempat berusaha memaknai dan mencari lukisan kesepuluh itu. Caranya dengan melihat lukisan itu dari jauh, dan “membingkai” kesembilan lukisan itu menjadi lukisan kesepuluh.
Apakah memang itu lukisan kesepuluh? “Nggak sih. Sebenarnya ada lukisan kesepuluh. Tapi karena saat display, jadinya kelihatan jelek, akhirnya saya bawa pulang. Lukisan yang kesepuluh ada di rumah,” jawab Hardiman. [T]
November 2019
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...