'Father': Merasakan Arti Kehadiran melalui Ketiadaan
"Father" karya Peter, Sue, and Marc, sebuah lagu pop yang mampu menggugah emosi terdalam kita. Meski telah berusia puluhan tahun, dirilis pada 1976, lagu "Father" tetap relevan hi...
25 Nopember 2019, jagat media sosial dipenuhi dengan stories, time line ucapan dan pemberian hadiah berupa coklat ataupun bunga kepada guru. Ucapan penuh inspirasi mengharu biru menyemangati guru sebagai pahlawan pendidikan Indonesia.
Euforia kian semarak ketika tiba-tiba, yang juga belum lazim, sambutan menteri pendidikan sudah viral sebelum hari guru diperingati. Seolah-olah kata sambutan itu memberikan sedikit secercah harapan bahwa dunia pendidikan akan bergerak maju dengan perubahan paradigma guru dalam proses belajar mengajar.
Lantas, apakah dengan euforia itu, guru mendadak menjadi sosok yang merdeka dan sebagai sosok penggerak kemajuan pendidikan bangsa?, sesuai dengan harapan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim.
eits, tidak semudah dan secepat itu ferguso!. Guru telah lama terjebak dalam stigma tak lagi digugu dan ditiru, sudah tak lagi menjadi sumber kebenaran/ilmu pengetahuan, tak lagi dihormati kebebasannya dan kemerdekaannya, dan tak lagi diakui kesejahteraannya.
Alih-alih pemerintah ingin memberikan kesejateraan melalui sertifikasi, mereka justru ditimpa dengan berbagai beban administrasi. Untuk lolos sertifikasi, harus melampaui jam ajar dan tumpukan dokumen lainnya. Guru pun seperti bajing loncat, yang melompat dari satu sekolah ke sekolah lain hanya untuk memenuhi beban jam ajar.
Uang sertifikasi pun akan dibagikan secara rapel. Guru sepertinya dianggap bisa mencukupi sandang, pangan, papan hanya dengan gaji pokok sebulan sementara uang sertifikasi diberikan setiap enam bulan sekali. Guru dianggap tidak membutuhkan uang sertifikasi untuk membeli buku atau rekreasi bersama keluarganya.
Nasib guru honor dan kontrak lebih ironi lagi. Dalam sebulan mereka hanya mengantongi uang sebesar 500 ribu rupian hingga satu juta rupiah.
Kesejahteraan yang tak kunjung membaik telah membunuh sikap merdeka dan motor penggerak di dalam kelas. Mereka terjebak dalam kekhawatiran untuk menjadi merdeka. Kekhawatiran itu sudah mendarah daging di bawah alam sadarnya.
Guru tak lagi merdeka karena kekuasaan negara telah lama melakukan hegemoni. Guru telah dikuasai secara halus oleh negara melalui undang-undang, peraturan, dan aturan teknis, jargon-jargon, kata-kata manis, serta gelar “pahlawan tanpa tanda jasa”.
Hegemoni, tak lain adalah upaya kekuasaan untuk menguasai kelas subordinat dengan cara halus sehingga mereka tak merasa telah dikuasai. Jika hegemoni ini menjadi sedemikian kuat, maka apapun tingkah laku kekuasaan akan dianggap menjadi sebuah kebenaran. Kelas subordinat (guru) yang telah dikuasai justru alam bawah sadarnya memberikan persetujuan sadar atas subordinasi mereka (terhadap kekuasaan).
Hegemoni adalah cara yang berbeda dengan dominasi. Kekuasaan yang menguasai kelas subordinat dengan kekerasan, paksaan adalah sebuah upaya dominasi. Kekuasaan dominasi lebih bisa dirasakan sehingga kelas subordinat (guru) akan melakukan perlawanan jika mereka dikuasai.
Namun, mereka akan tidak memiliki daya upaya untuk melakukan perlawanan terhadap hegemoni karena kekuasaan negara selalu dianggap sebagai sebuah kebenaran.
Kata sambutan menteri pendidikan di Hari Guru Nasional yang menjadi viral adalah fenomena yang telah terjadi dan tak berubah selama bertahun-tahun. Guru tidak berani dan tidak mampu untuk merdeka. Mereka terbelenggu dalam alam bawah sadar sehingga sulit melakukan perubahan dalam praktik belajar mengajar. Guru sulit menjadi kreatif karena terbelenggu kurikulum, guru selalu terpaku menilai siswa dengan angka karena terbelengu regulasi, atau guru tidak bisa menambah wawasannya karena terhimpit ekonomi.
Semua yang telah terjadi menahun itu akibat kendali hegemoni kekuasaan, baik kekuasaan negara dan kultural.
Jika kekuasaan masih melakukan hegemoni, maka guru, sosok yang akrab dipanggil sebagai “oemar bakri” dalam lagu Iwan Fals belum juga menjadi profesi yang merdeka dan penggerak. Selama guru masih dalam genggaman hegemoni kekuasaan, maka selama itupula tidak akan ada guru yang merdeka dan sebagai penggerak perubahan nasib bangsa (pendidikan) menjadi lebih baik.[T]
"Father" karya Peter, Sue, and Marc, sebuah lagu pop yang mampu menggugah emosi terdalam kita. Meski telah berusia puluhan tahun, dirilis pada 1976, lagu "Father" tetap relevan hi...
Wisatawan yang sedang melakukan check in ataupun check out di The 1O1 Bali Oasis Sanur tiba-tiba terhenti sejenak. Mereka bukan komplin atau demo, tetapi asyik menikmati atraksi b...
Penyanyi Nanda Candra resmi merilis single terbarunya berjudul “Setara”, sebuah lagu yang mengangkat tema harga diri, batas emosional, dan keberanian untuk keluar dari hubungan ya...
BARANGKALI Siwaratri bukan lagi malam yang sepenuhnya sunyi. Generasi muda merayakannya dengan berbagai macam cara baru, dan di sanalah pertanyaan tentang makna Siwaratri kembali...
Di Bali, sastra agama sejatinya lahir dari keheningan, dari tapa brata, dari laku hidup yang panjang dan sunyi. Ia tidak diciptakan untuk diperdebatkan di tengah riuh, apalagi dij...
DI Kota Lama, waktu seolah berjalan pelan. Bangunan tua berarsitektur kolonial berdiri anggun di tepi jalan batu. Di antara kedai kopi beraroma robusta dan toko antik peninggalan...
Hujan Belum Berakhir pagi hingga petang inikunikmati hujan bersama sepitetesannya tak merdu kudengarmenusuk napas bumibagai kalamretiu mengintaitaringnya mencabik-cabikmerontok...
ADA pepatah Jawa yang tidak pernah dikenalkan di kelas hubungan internasional, tapi mungkin harus diperkenalkan sebagai “teori baru” politik internasional, karena berkali-kali ter...
HUJAN turun. Saya dan Putri--adik kandung saya, bersiap untuk sembahyang ke Pura Dalem Gede Sukawati. Meski hujan, kami tetap semangat. Entah apa yang menyebabkan kami begitu bers...
SEJARAH manusia kerap dibaca sebagai rangkaian konflik antarkeyakinan atau antarperadaban. Namun pembacaan seperti itu sering kali terlalu dangkal. Ia berhenti pada permukaan peri...