Di Banjar Gulinten, Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Karangasem, terdapat gerakan literasi sederhana untuk anak-anak, yakni menulis dan membaca buku sembari memanjat pohon jamblang. Ini kegiatan sederhana, di sebuah lokasi perbukitan yang indah, dengan pemandangan yang menarik. Bagaimana kegiatan itu terjadi?
Membaca buku di perbukitan di bawah pohon-pohon, di Gulinten, Bunutan, Abang, Karangasem, Bali
Pohon Jamblang
Pohon jamblang. Pohon yang mempunyai buah dengan rasa asam sepat ini, di Bali dikenal dengan nama juwet.
Tumbuhan yang bisa berkembang biak dengan biji atau pun cangkok ini, semakin
lama semakin langka.
Setidaknya ada dua penyebabnya
menjadi langka. Pertama, terkenal sebagai tanaman liar dan kurang produktif,
menjadikannya kurang mendapat perhatian dan kurang populer untuk
dikembangbiakkan. Kedua, kayunya lebih banyak digunakan sebagai kayu bakar
karena kurang baik dijadikan bahan bangunan.
Pada saat kekurangan kayu bakar,
jamblang dijadikan sasaran pertama. Kalau tidak ditebang, dahan dan rantingnya
dipangkas dan menunggu tumbuh di tahun berikutnya. Tujuannya sama: dipangkas
lagi dan dijadikan kayu bakar. Begitu seterusnya, sehingga pertumbuhannya
kurang baik untuk menghasilkan buah yang bagus.
Padahal di Filipina, pohon yang buahnya
kaya vitamin A dan C ini dijadikan anggur dan dibudidayakan untuk tujuan komersial. Sedangkan bagian-bagian
dari pohonnya, dari kulit, daun, dan buah, banyak digunakan sebagai bahan obat.
Baik secara tradisional maupun ekstaksi.
Buah jamblang biasa dimakan segar,
kadang ditambahkan garam dan gula, lalu dikocok dalam wadah tertutup agar
menjadi lunak dan sepatnya berkurang.
Buah yang diistilahkan dengan tahi
ayam yang tergantung itu, tidak pernah kehilangan masa untuk tetap digemari.
Bukan hanya anak-anak, tapi juga semua lapisan umur. Tentu saja takarannya
adalah tempat-tempat di pedesaan maupun di pegunungan atau lebih rendah, di
perbukitan.
Buahnya yang mulai lebat di ujung
kemarau membuat jamblang menjadi penawar dahaga bagi masyarakat yang sedang
mencari runmput atau kayu bakar di lereng-lereng perbukitan yang jarang
terdapat sumber mata air. Rasanya yang beragam, manis dan sedikit asem, bahkan
ada beberapa yang sangat asem, dan selalu meninggalkan warna ungu di lidah
sehabis menyantapnya, menjadi penawar haus dan lapar di tengah aktivitas yang
jauh meningggalkan rumah tanpa membawa perbekalan.
Memanjat pohon dan memilih buah yang
benar-benar matang, menjadi sensasi tersendiri. Terutama bagi anak-anak dan
remaja. Semilir angin yang membuai, seakan menyuruh kita untuk berlama-lama
berada di tempat itu. Tapi, bagi masyarakat yang sudah terbiasa menjalani
aktivitas itu di sela pekerjaan pokok mencari rumput atau kayu bakar, sudah
paham betul. Mencari jamblang dengan rayuan angin semilir, jangan sampai
mengeringkan keringat. Keringat yang mengucur saat bekerja, lalu istirahat
sampai keringat itu kering, akan menyisakan satu hal yang seakan sudah
pasti:mengantuk.
Membaca di lapak pohon, asyiknya....
Literasi
Untuk mengingat kembali masa-masa
“kejayaan” jamblang yang mulai pudar, tidak ada salahnya mengajak anak-anak
untuk berteduh di bawah pohonnya sambil membawa beberapa koleksi buku yang ada
atau dimiliki oleh anak-anak yang kita ajak.
Kegiatan yang kemudian dipadukan
dengan kegiatan lain, seperti: bercerita, melukis, atau menulis dan membaca
puisi boleh jadi menjadi kegiatan yang akan “memanggil” mereka untuk
melakukannya di musim-musim mendatang. Menggali cerita-cerita yang menghiasi
jamblang seperti kejadian orang terjatuh dari pohonnya atau kisah penjual
jamblang di sekolah, tentu akan membangkitkan memori untuk mengungkapkan
kisah-kisah masa kecil lainnya. Masa kecil yang seakan tidak akan bisa terulang
pada generasi selanjutnya akibat tergerus jaman saat ini.
Tugas kita yang sebenarnya adalah
mengarahkan mereka dan diri kita sendiri untuk mau menuliskan itu semua sebagai
suatu kegiatan literasi untuk “menyelamatkan” masa-masa yang tidak akan terulang
tersebut. Disinilah peran sebagai pegiat literasi akan terlihat, apakah mampu
dan mau mengambil bagian pada kegiatan-kegiatan “yang tidak keren” tersebut.
Jika dikreasikan dengan baik, musim
jamblang tentu dapat dijadikan ajang kegiatan literasi agar lebih membumi. Begitu
juga halnya, temapt-tempat lain yang jauh lebih keren dengan buah lokal yang
lebih keren, tentu menyediakan wadah untuk kegiatan yang lebih keren pula.
Literasi di kebun durian, di kebun
rambutan, atau mangga, tentu akan menumbuhkan kreasi yang semakin beragam.
Begitu pula, kegiatan literasi sambil berburu kopi luwak, bisa jadi dapat
dipadukan dengan berbagai materi pelajaran yang relevan, sehingga tidak
mengurangi waktu efektif anak belajar di rumah.
Awas jatuh
Demikian halnya berbagai kegiatan
seni dan olahraga yang rutin dilaksanakan, kegiatan literasi akan tampak elegan
untuk disisipkan. Pengurus sanggar-sanggar tari, perkumpulan olahraga beladiri,
dan sebagainya dapat menyediakan berbagai bahan literasi untuk disajikan pada
saat-saat istirahat.
Kalaupun selama ini belum banyak yang
mampu dan mau melakukannya pada kedua aktivitas di atas, setidaknya, kita, yang
bersepakat untuk mengabdikan diri sebagai pegiat literasi, mulai mengarahkan
pandangan mata dan sasaran kegiatan ke tempat-tempat tersebut.
Tergantung kesiapan insan penggerak
untuk memulai dan melaksanakannya sekaligus menjaga keajegan pelaksanaannya.
Sehingga literasi yang sudah digalakkan tidak menjadi gerakan hangat-hangat
tahi ayam. Apalagi tahi ayam yang tergantung seperti istilah bagi buah
jamblang. Dalam posisi tergantung, tahi ayam yang hangat pasti lebih cepat
dingin dan tentu saja menjadi terkatung-katung. [T]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...