Saya
senang sekali mendengar kabar bahwa Nadiem Makarim diberi mandat sebagai
Menteri Pendidikan Indonesia. Keputusan Bapak Presiden Jokowi ada benarnya
juga. Indonesia butuh pemimpin yang mampu berinovasi, keluar dari lingkup dan
aturan lama, pemimpin yang segar dan sudah terbukti mampu menciptakan suatu
perubahan besar bagi negeri ini.
Ketika
kita mendengar nama Nadiem Makarim, tentu yang kita pikirkan adalah Gojek.
Sebuah aplikasi yang kini mewabah dan sudah menjadi bagian dari gaya hidup
masyarakat tak hanya di perkotaan namun juga mulai merambah ke daerah-daerah
pelosok.
Teringat
kemudian bagaimana saya memanfaatkan jasa Gojek untuk mengirim kerajinan tangan
lontar dari Desa Bona, Gianyar ke sebuah artshop di Kerobokan, Badung.
Gojek luar biasa menghemat waktu,
mempermudah dan mempersingkat segalanya, meski masih terdapat begitu banyak hal
yang perlu dibenahi secara sistem namun menurut saya hal yang paling banyak
perlu pembenahan adalah pada SDM alias sumber manusianya.
Tentu
tidak jarang kita sebagai pengguna mendapat sikap yang kurang menyenangkan dari
driver, driver yang sesungguhnya kedudukannya sebagai mitra namun
kerap kali berperilaku seperti karyawan dengan melakukan demo dan beragam permasalahan
lain yang tentu memberikan bumbu bagi khazanah per-digital-an di Indonesia.
Era
saat ini adalah era yang baru bagi kita. Bahwa hampir seluruh rakyat Indonesia
hari ini boleh dikatakan sudah melek teknologi meskipun masih bisa kita temui
anak-anak yang buta huruf dan belum mampu mengenyam pendidikan namun
presentasenya sudah amat jauh berkurang dibandingkan satu atau dua dekade silam.
Dan
apabila saya boleh memikirkan, dalam alam pikiran saya, pendidikan di Indonesia
bukannya jelek atau tidak efektif namun hanya kurang tepat guna. Sebagai contoh,
dengan adanya silabus, RPP dan kawan-kawannya para siswa dan guru terkadang
dibuat seperti berlomba untuk menuntaskan tiap materi ajar yang diberikan
tenggat waktu hanya 1 tahun (2 semester).
Pernahkah
terpikirkan oleh kita apakah para siswa benar-benar mengerti dengan segala yang
diajarkan selama 2 semester tersebut? Apa makna pendidikan di negeri ini sebenarnya?
Apakah
hanya mengejar selembar kertas yang disebut ijazah lalu ketika dilepas ke dunia
kerja alih-alih mampu bersaing yang terjadi justru semua berlomba menghalalkan
segala cara demi mendapat pekerjaan di pemerintahan hanya karena iming-iming
kepastian kerja dan pengeluaran SK yang akhirnya nanti bisa digadaikan bila
sewaktu-waktu nanti membutuhkan dana segar?
Alam
pikiran saya kembali bergejolak, saya memikirkan bahwa sekolah seharusnya
adalah tempat belajar, tempat mendidik. Tempat siswa memperoleh pengajaran dari
hati oleh tenaga tenaga pendidik yang juga bekerja dari hati, tak perlu risau
perihal uang dapur karena pemerintah akan mencukupkan semua asal tidak
meninggikan standar hidup seperti mengharapkan gaji guru supaya bisa beli
apartment mewah..kalau begitu tidak usah jadi guru lah, cari saja pekerjaan
lain yang kiranya bisa memenuhi standar keinginan tersebut.
Juga
semakin kesini semakin saya lihat degradasi moral yang menukik jauh ke bawah dari
para generasi kekinian. Bila dulu menghormati guru kita lakukan dari hati (atau
bisa juga karena takut) tapi setidaknya tertanam dalam benak para siswa bahwa
guru adalah sosok yang wajib dihormati tapi apa yang terjadi saat ini, begitu
banyak kasus-kasus kekerasan yang dilakukan murid pada guru dan juga
sebaliknya. Hal tersebut tentu merupakan hal yang sangat darurat dan
membutuhkan penanganan segera.
Kembali
lagi pada alam pikiran saya, bagaimana jika putra – putri Indonesia diberikan healing
atau penyembuhan dari akar, dari dasar. Orang tua diharapkan dapat
mempercayakan putra-putrinya untuk dididik dan dibentuk di Lembaga sekolah.
Sehingga tidak ada lagi orang tua – orang tua yang mencak-mencak bila
anak-anaknya diberi sanksi oleh guru.
Juga
perihal sistem pendidikan, bagaimana jika anak umur 3 – 10 tahun bersekolah
dimana dalam kurun waktu tersebut mereka diberikan pengajaran moral. Hanya
pengajaran moral. Bisa dibuatkan juga silabus dan RPP-nya, seperti cara
menghormati orang yang lebih tua, cara mengantri, cara berbicara di depan umum,
cara memandang perbedaan dalam kehidupan kebhinekaan sehingga kelak tidak ada
tercetak generasi yang menulis sumpah serapah di sosial media, dibaca jutaan
orang dan ditujukan kepada seseorang yang mungkin tidak mereka kenal, atau
tidak ada lagi putra-putri Indonesia yang mudah tercuci otak dan pikirannya
sehingga melakukan suatu tindakan keji meledakkan bom dengan iming-iming surga.
Pendidikan
moral yang kuat yang seharusnya menjadi dasar dari segala dasar bagi tiap
putra-putri bangsa sehingga nanti ketika mereka telah menginjak usia 12 tahun
mereka bisa memilih ilmu apa yang mereka sukai dan ingin kuasai dan mereka bisa
belajar selama kurang lebih 8 tahun, sehingga tidak ada lagi kisah lulusan
dokter yang menentang orang tua lalu kemudian menjadi pelukis atau lulusan
sarjana hukum yang menjadi tukang parkir.
Yang
pasti di usia 20 tahun mereka bisa menjadi ahli-ahli muda yang telah dibekali dengan
Pendidikan moral dan juga keahlian akan sesuatu yang mereka pilih sendiri untuk
kemudian keahlian tersebut dapat mereka gunakan untuk membangun bangsa ini.
Sungguh saya teramat setuju dengan wacana Revolusi Mental yang
didengung-dengungkan Bapak Presiden Jokowi, moral generasi penerus kita betul-betul
memang perlu digembleng dan diubah total.
Melayang
jauh alam pikiran saya, namun tiba-tiba saya tersentak. Rupanya itu suara anak
saya, ia meminta bantuan saya untuk mengerjakan PR-nya, kelas 4 SD, materi
Bangun Ruang dan Bangun Datar.
Namun
kembali alam pikiran saya menyeret saya begitu jauh membayangkan seandainya
anak saya yang baru berumur 9 tahun ini lebih banyak belajar tentang bagaimana
cara ia seharusnya membangun mimpi, tanpa banyak memedulikan cemoohan cemoohan
orang atau opini-opini miring di luar sana dan kelak bila ia sudah berusia 12
tahun ia bisa memilih ilmu apa yang hendak ia pelajari. Kira-kira ilmu apa yang
akan ia pilih? Ilmu Bumi, Ilmu Hayat?
Kembali lamunan saya buyar, ia merengek meminta saya yang mengerjakan PR nya, sementara anak saya malah log in ke aplikasi Gojek. Mau pesan terang bulan keju, katanya. [T]