Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
____
Sir Isaac Newton, dari ungkapannya di atas, sungguh serius hendak melepaskan dirinya dari segala dogma, tradisi atau sekadar etik jika semua itu dapat mengganggu kejernihan pikirannya. Baginya, segala misteri alam semesta jauh lebih menarik hati dan keinginannya. Menjelajah dan menemukan nilai kebenaran setiap fenomena dapat membawanya pada kenikmatan hidup dan rasa kagum pada alam semesta. Spirit ini membuatnya sedemikian peka dan peduli pada hal-hal kecil yang mungkin bagi yang lain dapat terabaikan begitu saja.
Demikianlah, pada suatu saat, wabah pes melanda London yang memaksa kampus tempatnya kuliah, Cambridge University ditutup sementara. Pada masa liburan itulah, saat ia duduk-duduk santai di halaman rumahnya dalam suasana pedesaan yang asri, ia telah melihat sebuah apel jatuh ke tanah. Ada juga yang menyebut apel itu menjatuhi kepalanya. Kejadian kecil dan sederhana itulah, diluar dugaan setiap orang, telah menandai lahirnya sebuah teori masyur yang dikenal sebagai hukum gravitasi.
Hukum ini bahkan memberi dampak hingga perhitungan fisika pendaratan manusia di bulan. Asal mula sederhana yang menuntun manusia pada ketinggian sebuah maha karya. Walau sedemikian besar penghargaan atas kecemerlangan penemuannya, hatinya tak segan-segan untuk merunduk rendah seakan ikut pula tertarik hukum gravitasi temuannya. Ia sedari awal menekankan kepada pengikut teorinya, untuk memandang alam semesta hanya sebagai mesin, seperti jam besar. Dia mengatakan, gravitasi menerangkan gerakan planet-planet, namun tidak dapat menerangkan siapa yang menggerakkannya pertama kali.
Tuhan mengatur semua hal dan mengetahui apa saja yang ada atau dapat dilakukan. Dalam sisi humanisme ia pun berpendapat satire, “Kita terlalu banyak membangun dinding, dan tak cukup banyak membangun jembatan.” Mungkin ini terkait dengan berbagai gejala egoisme personal atau kelompok dalam bidang sosial maupun sains yang disadarinya telah menciptakan sekat-sekat diantara masyarakat saat itu. Banyak hal yang telah diajarkan oleh Newton yang dianugerahi gelar Sir oleh kerajaan Inggris yang wajah dan gaya rambutnya sangat mirip dengan vokalis band heavy metal terkenal Led Zeppelin, Robert Plant ini.
Anehnya, saat ini sebagian dari kita begitu terpesona dengan daya tarik langit dan seakan-akan menafikan sang bumi dengan gaya gravitasinya. Entah ia dalam makna harfiah maupun simbolik. Lihatlah AS yang berjibaku ingin menggapai Mars namun kebijakan luar negerinya kerap mendapat kecaman dari dunia internasional. Iran adalah negara yang saat ini terpuruk secara ekonomi akibat embargo AS. Ia boleh disebut sebagai korban kekejian perseteruan geopolotik yang bahkan diperuncing oleh sesama bangsa Arab sendiri, seperti Saudi dan sekutunya. Demikian pula fenomena Korea Utara yang begitu ambisius, telah mengorbankan kesejahteraan rakyatnya demi kedigjayaan nuklir. Maka tak berlebihan jika Newton dalam gagasan visionernya melihat manusia terlalu banyak membangun tembok ketimbang jembatan.
Lalu tengoklah ISIS, mereka seakan-akan sudah tak hidup di bumi lagi. Pikiran, hati, kata-kata dan sikap mereka segala-galanya adalah tentang surga. Sedemikian absolut doktrin mereka hingga merasa benar memberangus yang lain atas perintah Tuhan demi surganya tak terbagi oleh yang lain. Dan Newton pastilah keheranan dalam istirahat tenangnya di Westminster Abbey, kaum radikalis bukan cuma orang-orang konservatif yang mabuk agama saja, melainkan juga orang-orang modern terpelajar. Sepertinya mereka butuh belajar hukum gravitasi lebih banyak agar cara beragamanya lebih membumi dan humanis. Saat agama sudah menjadi jembatan antar sesama manusia, sepertinya tak lagi menjadi penting apakah ada surga atau tidak, apakah ada Tuhan atau tidak. Karena apa gunanya agama dan Tuhan jika kita menciptakan neraka peperangan dan iblis pemenggal sendiri?
Ibu pertiwi, keelokan nama itulah yang disematkan pada bumi kita dengan daya tariknya yaitu gaya gravitasi ini. Kita bebas mengungkap segala misteri yang tersembunyi dalam setiap elemen alam semesta. Entah dengan penemuan-penemuan di bidang sains atau dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan analisa metafisika. Itu sah-sah saja.
Bukankah penciptaan alam semesta pun hingga kini menjadi sebuah misteri? Tidakkah kita sadar, pernah setinggi apapun kita, raja-raja, artis paling terkenal, guru besar terhebat atau penjahat paling licik, suatu saat semua terbenam dalam pelukan ibu pertiwi. Ia pun memancarkan gaya gravitasi untuk semua dengan adil. Baik kepada dedaunan kering, pun untuk meteor yang akan menuju kematian.
Harusnya bumi yang kita pijak inilah menjadi penununtun hidup agar tercipta harmoni dengan alam dan sesama mahluk hidup. Kita punya kesempatan menciptakan surga di bumi yang sedemikian indah ini agar langit tak lagi menjadi rebutan. Agar ia tenang memancarkan keindahan cahaya rembulan dan kehangatan sinar mentari untuk menyempurnakan surga yang telah tercipta di bumi, ibu pertiwi. [T]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...