Musikalisasi Puisi Adalah Ruang Nostalgia.
Saya
mengenal musikalisasi puisi ketika duduk di bangku SMP, waktu itu saya
menganggap musikalisasi puisi adalah varian lain dalam menyajikan puisi selain
dibaca. Hingga saya duduk di sekolah menengah atas lomba musikalisasi puisi
kerap menjadi satu cabang lomba yang selalu dinanti dan diminati, oleh
kawan-kawan yang tergabung dalam kelompok teater di sekolahnya.
Dalam
perlombaan yang menderu itu, menimbulkan banyak pergesekan dan uri mencuri
teknik menggubah puisi menjadi lagu. Pun tidak jarang tumbuh dendam antar
kelompok, sehingga ajang lomba dinanti sebagai perhelatan kekuatan dan
peningkatan skill dalam meracik lagu. Para punggawa muda ini selalu menelisik
hal baru, meraba teknik eksperimen, meramu upaya sajian yang terbaik.
Perseteruan
dalam suatu lomba memang menjadi kenikmatan tersendiri dan menumbuhkan dinamika
musikalisasi puisi.Namun di satu sisi juga jurang bagi perkembangan atas
gubahan yang itu-itu saja karena ada kecenderungan siapa yang juara selalu
ditiru untuk menggapai juara tahun berikutnya.Hal itu berlangsung hingga kini.
Dari
saya SMP itu hingga saat ini ruang tumbuh musikalisasi Denpasar di dominasi
oleh hegemoni institusi pendidikan, belum muncul banyak kelompok independen
yang secara serius dan percaya diri melabeli dirinya sebagai pemusikalisasi
puisi. Jikapun ada, kita masih dapat menghitungnya dengan jari, semisal Kelompok Sekali Pentas yang
dibentuk oleh Heri Windi Anggara, Bali Musik Puisinya milik penyair Tan Lio
Lie, Kelompok Senja di Cakrawala milik Bayu Reinhard dan kawan-kawan
seperjuangannya. Biasanya mereka pentas dalam mengisi suatu acara, kalaupun
menelurkan album produktifitasnya masih kembang kempis.
Kembali
lagi keperseteruan lomba musikalisasi puisi,celakanya dinamika tersebut
menghasilkan rasa yang sama, hampir sama, 11-12. Kemudian terjadilah yang
mungkin bisa dikatakan penyeragaman bentuk, lalu di mana letak
kenikmatan-kebebasan dalam menafsir puisi menjadi lagu?Saya pernah menonton
lomba musikalisasi puisi yang diadakan oleh Balai Bahasa Bali, tahun
2018.Beberapa garapan kawan-kawan dapat saya bentangkan kemudian mencari
kemiripan gubahannya.
“Bagian
ini mirip garapannya si itu yah, bagian penggunaan properti ini seperti yang
dilakukan seniman itu, intronya mirip anak-anak komunitas itu yah” sekiranya
begitulah saya menggerutu di bangku belakang penonton saat itu.
Memang
tidak yang salah pada sebuah penyeragaman bentuk, ada beberapa kemungkinannya,
yaitu refrensi-refrensi kawan-kawan pada corak bermusikalisasi pendahulunya
yang juara-juara itu, yang notabene digemari
kaum juri. Para punggawa-punggawanya malas berexplorasi pada bentuk baru, tidak
ada pembina musikalisasi puisi yang memberi ruang bebas muridnya agar tidak mengikuti
kekhasan sang pembina. aaaaarrrggh ada banyak kemungkinan lainnya yang jika
dijabarkan mungkin panjang dan dapat didiskusikan dengan hangat.
Pertemuan
Dengan Lantai Dua
Kemudian,
bertemulah saya dengan kelompok Lantai Dua di Festival Musik Rumah 2019.Mereka
tampil dalam mengisi konser sederhana di rumah pelukis Made Bhudiana.Sebelumnya
kawan-kawan juga membicarakan kelompok ini dibeberapa pertemuan dan diskusi,
mulai dari musikalitasnya hingga menuju suatukemungkinan baru di dunia persilatan
musikalisasi puisi Bali.Saya dan kawan-kawan menyimpulkan dengan serampangan
bahwa Lantai Dua hadir tidak dalam skena sejarah musikalisasi puisi yang kami
pahami dari dulu. Lantai Dua hadir di luar skena, musiknya tidak berbatas pada ranah-ranah biasanya.
Saya
dijajaran depan menikmati mereka yang tengah beraksi, saya hanyut dalam
dendangan sang vokalis. Jika tadi di awal saya mengatakan menonton musikalisasi
puisi merupakan ruang nostalgia, hal itu terbantahkan.Saya seperti menonton
konser sebuah band etnik, sekelas Theori of Discoutic dari Makasar atau Rubah
Di Selatan dari Yogjakarta. Apalagi saat mereka membawakan lagu kedua, dengan
menambah bunyi kulkul bambu kecil dengan suara sang vokalis yang lantang nan
magis diramu dengan gesekan gitar yang
rancak bana !
“Lah
ini mah bukan musikalisasi puisi, bentukin band aja sekalian, lebih masuk tu”ujar
saya kepada seorang kawan yang menonton dengan khusyuk.
Dan
akhirnya saya pun berkesempatan menilik lebih jauh (dalam tulisan ini),
bagaimana mereka merancang bangunan
musik, serta aksi-aksi spontan yang menggugah penonton untuk tetap diamdalam menikmati
hidangan musik mereka.
Lantai
Dua adalah ruang eksistensi berkelanjutan bagi sekelompok muda yang dulunya
satu ekstrakulikuler di SMA N 7 Denpasar, Teater Antariksa. Mereka adalah Anak Agung Ngurah Bagus Adiprana Kusuma
(Vocal arr), Anak
Agung Ngurah Gyan Satria Daiva (Lead Guitar arr), Septian Efendy (Rhytm arr), I Putu Adi Subaktha Putra (Percussion), I Putu Agus Artadi Jaya (Bass), Ragil Mangku Alam Sampurna (Puitor)dan Andries Lisardo Bibim Setiawan (ex Rhytm arr).
Kerinduan menimba ilmu dan berkehidupan di Teater Antariksa menuntun
mereka dengan sadar untuk membentuk kelompok independen, yang awalnya bernama
Lante Dua.
Adip
sang vokalis sekaligus pemimpin kelompok ini menjelaskan awalnya Lantai Dua
tidak hanya bermusikalisasi puisi, tapi juga bermain operet, drama modern,
pantomime dan bentuk seni pertunjukan lainnya. ternyata selain kelangenan
berkarya ada motif di balik perkumpulan ini, mereka hendak membuktikan kepada
orang tua, bahwa kegiatan kumpul-kumpul yang mereka lakukan memiliki suatu
capaian dan menghasilkan (dalam hal ini uang). Mereka pun menerima pembuatan
karya pertunjukan pesanan dari suatu acara, lalu mengikuti lomba musikalisasi
puisi, mengisi acara di beberapa café dan lain sebagainya. Terkait lomba mereka
selalu mendapat juara, biasanya uang
pembianaan mereka bagi rata dan piala mereka gilir untuk ditunjukan kepada
orang tua di rumah.
“Kalau
kita juara, pialanya digilir dibawa pulang, semingguan, lalu ganti lagi ke yang
lain. Agar orang rumah tahu kami juga serius dalam menjalani pilihan” ujar Adip
yang saat ini menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua, Bali
Dari
tahun 2016 (awal terbentuk) hingga tahun 2018 mereka mengalami kontemplasi diri
secara tidak sadar, kemudian memilih jalan Musikalisasi Puisi sebagai jalur
gerakan kelompok.Karena masih terpaut erat dengan sastra Indonesia khususnya
puisi.
“Ternyata
teman-teman memiliki potensi untuk menggubah lagu, terbukti dari juara yang
kami dapatkan. lah kenapa tidak untuk membuat kelompok musik. Lagian kami udah
tahu malu, malu aja main operet lagi” tambah Adip sambil tertawa
Bagi
Adip alih wahana puisi menjadi musik adalah suatu tantangan besar, puisi sendiri
memiliki ruang interpretasi yang luas terhadap pengalaman pembaca, kemudian
ruang sublim itu harus diejawantahkan dalam alunan musik.Kadang mendekati
makna, kadang pula sangat jauh, tapi begitulah suatu upaya dalam mengenali
puisi.Dalam pemaknaan puisi saja perdebatannya sangat panjang karena setiap
anggota memiliki kedalaman empiris yang berbeda-beda.
Untuk
itu Lantai Dua memiliki dua tahap sistematis dalam penciptaan karyanya. Pertama
dijabarkan berdasarkan hasil tangkapan interpretasi yang dilakukan oleh tiga
personel yaitu Anak Agung Ngurah Bagus
Adiprana Kusuma (vokal arr), Anak Agung Ngurah Gyan Satria Daiva (Lead
Guitar Arr) dan Septian Efendy (Rhytm arr). Dari mereka bertigalah makna puisi
menghasilkan aransemen dasar, mungkin bisa saya katakan sebagai akar, cikal
bakal penciptaan,
Setelah
itu aransemen dasar, mereka bertigamempresentasikan kepada personel lainnya. Dari
sana terdapat tambahan ritme, tambahan beat atau tambahan konten yang tentu
saja dibincangkan lebih dalam untuk menuju kata setuju. Satu gubahan memakan
waktu yang cukup panjang, tergantung perdebatan dalam tahap kedua tersebut.
“Biasanya
kami bertiga duluan garap, setelah itu ditambah aranseman atau tambahan warna
alat musik oleh teman lainya, karena kawan-kawan memiliki karakter yang berbeda
dalam selera musiknya” kata Adip
Dari
selera musik merekalah hadir gubahan yang memiliki karakter berbeda dari musikalisasi yang biasanya saya dengar. Adip
pun mengamini hal ini, gerakan musikalisasi puisinya memang menjauhi rasa puisi
yang biasa. Baginya jika meniru yang sudah-sudah, untuk apa mereka berkarya jika
tidak memiliki ciri khas untuk tampil di publik.
Pendirian
tegas inilah yang saya suka dari Lantai Dua, mereka tidak sekedar hadir
dikancah musikalisasi puisi Denpasar, namun juga memikirkan bagaimana dia hadir
sebagai kelompok dalam mencuri perhatian lebih penonton. Khususnya saya sebagai
penonton musik yang agak maniak, dan suka membanding-bandingkan refrensi dari
grup musik lainnya.nah menonton Lantai Dua ini kepala saya jauh terlempar pada grup band aliran rock progressive, lalu
ada rasa Pink Floyd, kemudian ada rasa Led
Zeppelin.
Kalau
orang Bali bilang, Pokokne melenan lah ne asane I Lantai Dua ne.
“Ada
yang suka blues, ada yang suka metal, ada yang suka progressive rock, kalau
saya suka yang etnik, makanya jadi nano-nano kan gubahan kami” ujar Adip.
Lantai
Dua memiliki tempat favorit untuk berkumpul serta merampungkan lagu, di salah
satu café kesukaan anak muda di Denpasar, jalan W.R Supratman. Di sanalah
mereka biasa untuk mendebatkan seluruh materi lagu, sayang saya tidak sempat
melihat mereka latihan dan berkumpul ke sana. Tapi saya tahu café yang di
maksud, sebab semasa saya SMA, saya juga sering nongkrong ke sana, sekedar
mencari teman untuk melawati malam, tapi memang café ini sangat terbuka untuk
kawan-kawan muda dalam berkarya, khususnya mereka yang ingin menjadi musisi,
bayangkan saja latihan di café, udah
riweh dan ramai, tapi bisa-bisanya juga
bermain dan latihan di sana .
“Biasanya
kalau udah kumpul, banyakan ketawa-ketawa karena memang kita guyub dan hangat
seperti keluarga, hingga satu anggota mengatakan, eh serius serius e, barulah
kita semua khusyuk mengerjakan” akunya sambil tertawa.
Dalam
garapan Apresiasi Sastra Festival Seni Bali Jani 2019, Lantai Dua akan
membawakan dua buah gubahan anyarnya.
Musikalisasi A Second Than Good Bye puisi Karya
Devy Agustina dan Betel. Adip menjelaskan ini adalah pertama kalinya dia
menggarap musikalisasi berbahasa Inggris, merupakan tantangan yang harus
dijawab dengan tegas tapi santai-santai, sebab jika terlalu serius mereka tidak
bisa berfikir.
Baginya
puisi Devy Agustina sangat menggambarkan keadaan Lantai Dua dalam perjalanannya
membangun kelompok. Dalam puisi tersebut menceritakan tentang bagaimana
orang-orang datang tapi pergi begitu cepat setelah mendapatkan apa yang
diinginkan. Begitu juga dengan kelompok Lantai Dua , semakin besar kelompok lingkaran
pertemanan semakin kecil, akan terlihat siapa yang menjadi keluarga dan hanya
mencari keuntungan. Hari ini selain personel tetap Lantai Dua, mereka memiliki
27 orang anggota keluarga basis loyalis Lantai Dua, yang akan selalu hadir ketika
mereka pentas atau ikut nimbrung dalam proses mengerjakan lagu.
Lagu pertama yang berbahasa Inggris akan terasa seperti aliran heavy rock, dengan tempo pelan dan syahdu namun memekakkan, sementara Betel digubah rasa satanic rock, karena mengisahkan tentang alam yang tidak terlihat, sangat erat hubungan dengan alam sekala niskala di Bali. [T]
Mari
saksikan.