Selama dua hari dengan
payah seperti berjalan di tengah gurun pikiran, saya menyelesaikan sebuah novel
yang berjudul Kalamata. Novel yang ditulis oleh Ni Made Purnama Sari ini
seperti memberi jalan untuk hanyut larut dalam hayalan. Sebagaimana seorang
pelamun yang membiarkan pikirannya mengelana entah sampai di mana. Hal ini
terbayang ketika saya perlahan tersesat di tengah semak-semak cerita yang
dibangun.
Saya berusaha memahami
cerita yang ingin disampaikan di dalamnya. Tapi lagi-lagi saya terjebak pada
rimbunan cerita yang seolah terpisah dengan garis besar. Hanya seolah-olah sebab,
bila dicari benang merahnya, tentu ketemu. Seperti halnya lamunan yang
membangun visual, memerlukan kata kunci untuk menciptakan gambaran yang
dibangun selanjutnya.
Hayalan hanyut begitu
saja. Dari fokus pada satu cerita, tiba-tiba kisah lain digambarkan dengan
detail. Seolah yang berlalu tak pernah terjadi, begitu mudah dilupakan. Bila sepenggal
pengalaman adalah pasangan satu waktu—yang entah benar atau tidak itu terjadi,
maka pengalaman pun adalah fana seperti juga waktu. Seperti mimpi, seperti masa
lalu dan ketakutan untuk melupakannya.
Cerita dalam novel Kalamata,
nampaknya bukan satu entitas terpenting. Ia hanya sebuah garis putih yang
mengantar pertanyaan mengenai realitas waktu, sebagai instrumen penunjuk
eksistensi jejaring pikiran. Bisa diperhatikan di bagian awal misalnya, tokoh
aku yang berada di Barat tiba-tiba menceritakan kampung halaman dan segala
kenangannya bersama perempuan dalang.
Pengalaman tokoh aku
bersama dalang diceritakan dengan porsi yang lebih banyak dari narasi lain,
sehingga teks pengantar di awal menjadi lalu begitu saja namun, di
tengah-tengah cerita tentang dalang, selalu diselipi cerita yang seolah memutus
batas. Sama halnya dengan waktu. Sama
halnya dengan hayalan. Di tengah-tengah cerita novel, kita digiring untuk lupa
dengan garis besar, sehingga kisah mengenai dalang seolah hanya pengantar untuk
menunjukkan maksud Purnama dalam menulis novel tersebut. Hal itulah yang
membuat saya semakin yakin bahwa cerita bukan satu entitas terpenting.
Sampai saat tulisan ini
selesai, saya mengambil kesimpulan bahwa Purnama ingin memanjakan hayalan
pembaca. Hayalan yang terdiri dari kompilasi pengalaman. Seperti mimpi yang
menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kadar gila masing-masing. Seperti tokoh
dalang perempuan yang dianggap gila karena dimensia.
Pada tanggal 8 November
2019, dalam rangka Apresiasi Satra serangkaian Festival Seni Bali Jani,
kelompok kolaborasi yang dipayungi Capung Hantu Project dan terdiri dari Wayan
Agus Wiratama, Jacko Wahyu Rizki, Trina Acacia, Prasetyo Tio, dan Heri Windi
Anggara akan merespon novel dengan sebuah pertunjukkan.
Berdasar pada diskusi yang
telah dilakukan, kelompok kolaborasi ini akan berbicara perihal waktu dan
kejadian yang berlalu. Konsep yang abstrak ini menjadi hal yang cukup membuat
kami tergelitik hingga mengernyitkan dahi. Bukan perihal yang gampang bila
membuat bentuk dari kata kunci itu. Tetapi menjadi menarik menggarap bersama kawan
yang memiliki perbedaan latar. Selain sudut pandang, kemungkinan yang kadang
terasa asing di telinga bisa muncul tiba-tiba.
Seperti pada saat diskusi
usai, Trina tiba-tiba memberi respon bentuk yang belum pernah menyentuh tubuh
saya. Koreo yang barang kali terlihat sederhana, namun bagi saya yang masih
pada tahap awal, merupakan hal yang cukup rumit. Lain masalahnya dengan Jacko.
Lelaki dengan power besar dan tubuh yang kaya akan kosa gerak panggung. Tidak
sulit baginya menerima bentuk-bentuk seperti yang ditawarkan Trina, namun tentu
saja dengan hasil yang berbeda.
Di tempat ini, pada
akhirnya kami berusaha memahami satu sama lain. Memperkaya sudut untuk
memandang novel dan memilih berbagai kemungkinan yang bisa menjadi bentuk di
panggung. Akan lain lagi ceritanya dengan Heri memandang novel dan kemungkinan
music yang meresponnya. Pun Tio dengan kaca mata seorang filmmaker akan berbeda
memandang novel dan visual sebagai
respon.
Merespon novel Kalamata Karya Ni Made Purnama Sari ini dengan bentuk pertunjukan tentu tidak bisa serta merta mengikuti cerita. Ada beberapa hal penting yang bisa diambil untuk direspon. Semisal tafsiran mengenai waktu dan realitas yang terpecah tegas, yang terkadang absurd. Realitas yang terkadang mengantar pada ingatan yang menyedihkan sekaligus mengantar kita pada potongan pengalaman dengan cita rasa yang berbeda. [T]