Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
Buku Shastra Wangsa menyebut lontar berjudul Bongkol Pangasrayan memuat ajaran tentang cara madiksa [Tingkahing Adiksa]. Penjelasannya sangat teknis dan tentu dengan istilah-istilah yang khas. Prosesi yang dijalani adalah Ndilah, Nuhun Pada, Matirtha, Majaya-jaya. Ndilah adalah prosesi yang berhubungan dengan api. Sesuatu yang terbakar, dalam bahasa Bali juga disebut kadilah. Mungkin juga Dilah dekat hubungannya dengan Dirah: nama lain Calonarang. Nuhun boleh jadi berasal dari kata Suhun, artinya meletakkan sesuatu di atas kepala. Sedangkan kata Pada dalam konteks ini berarti kaki. Jadi ada kaki yang diletakkan di atas kepala. Kaki siapa? Guru. Kepala siapa? Murid. Begitu barangkali.
Konon Windu Air adalah sarana yang digunakan dalam prosesi Nuhun Pada itu. Tentu yang disebut Windu Air itu tidak bisa dilihat dengan mata biasa. Mungkin dengan mata yang tajam, Windu Air itu bisa dilihat. Anjing punya mata yang tajam, maka anjing lebih hebat dalam melihat dari pada manusia. Anjing itu Dewa Dharma.
Prosesi selanjutnya Matirtha dan Majaya-jaya. Tujuan dari seluruh rangkaian prosesi itu adalah mendapatkan rasa kewikuan. Bahkan menjadi rasa itu sendiri. Wiku dalam Shastra Wangsa diterjemahkan sebagai orang yang telah melepaskan kulit-kulitnya. Istilah kulit itulah yang digunakan untuk menyebut Wangsa. Jadi Wiku adalah orang yang telah melepaskan Wangsanya. Apa benar begitu?
Sayangnya dalam teks yang sama, Wiku juga disebut kulit. Kulit wiku bernama Wangsa Pandita Dewata. Istilah itu berarti kulit bernama Pandita Dewata. Sampai disana, pernyataan bahwa Wiku adalah orang yang melepaskan kulit masih tidak konsisten. Karena ternyata Wiku hanya melepaskan kulit Sudra, Wesya dan Ksatria, tapi belum melepaskan kulit Wikunya. Jadi prosesi diksa, hanya mengantarkan orang sampai pada Wiku.
Menjadi Wiku tentulah bukan perihal yang mudah. Ritual diksa adalah upacara, tahap selanjutnya menjadi Wiku pada tataran Susila atau etik. Karena setelah didiksa, bukan berarti perilaku bisa berubah dengan instan seinstan mie. Diksa bukan mie instan, dan memang tidak ada hubungannya.
Jika pun telah menjadi Wiku di tataran Susila, menurut ajarannya seorang Wiku juga mesti sampai pada tingkat Tattwa. Tattwa berarti “keituan”, sederhananya filsafat. Filsafat konon artinya mencintai kebijaksanaan. Dan bijaksana, adalah terjemahan yang agak pas untuk kata Pandita. Pandita sama dengan Wiku. Jadi, Wiku adalah orang yang bijaksana.
Lalu apa tugas menjadi Wiku? Silahkan tanyakan kepada yang menjadikan dirinya seorang Wiku. Tetapi, jika Wiku berarti orang yang telah melepaskan kulit, maka tugas Wiku adalah terus menerus melepaskan kulit-kulit yang melekat lengket itu. Tidak terkecuali, melepaskan kulit Wiku yang juga mengikat.
Diksa dalam bahasa Sanskerta, salah satunya berarti penyucian. Proses yang disebutkan di atas, adalah proses penyucian. Secara tidak langsung, Wiku adalah orang yang telah disucikan. Ia disebut suci karena telah hilang segala yang tidak suci-suci. Ketidaksucian bisa datang dari perbuatan, maka perbuatannya disucikan [kayika parisuddha]. Ketidaksucian bisa datang dari omongan, maka omongan itulah yang disucikan [Wacika]. Sumber ketidaksucian adalah pikiran, maka pikiran itu pula yang disucikan [Manacika]. Bayangkan jika ada manusia yang sudah sampai di tingkat itu, barangkali dunia seperti sudah menjadi miliknya.
Seorang Wiku adalah manusia Suci. Karena suci, ia bisa menembus batas-batas. Menembus batas, beda dengan melanggar aturan. Tapi apa benar kesucian ada batasnya? Seperti batas kesucian pura? Sebenarnya bagaimana cara kita memahami kata suci itu? Dalam bahasa Sanskerta, Sūci berarti ujung jarum yang tajam. Dalam teks Agastia Parwa, suci berarti api matahari. Dalam teks Widhi Shastra, Suci berarti Banten. Banten dalam teks Sundarigama disebut Raga [Tubuh]. Bayangkan bahwa tubuh adalah banten yang mesti dipersembahkan.
Diksa memang salah satu cara untuk menyucikan diri, tapi bukan cara cerdik untuk lari dari masalah-masalah duniawi yang belum selesai. Seperti air yang terlihat bening, bukan berarti tak beracun. Wiku Sisu Paling adalah sebutan untuk pendeta yang dari luar terlihat suci, tapi di dalamnya dusta-tamak. Siapa dia? Kita? [T]
Kacang [Kamus Cangak]
Wiku : ia yang lepas dari segala istilah
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...