Buku
Shastra Wangsa menyebut lontar berjudul Bongkol Pangasrayan memuat ajaran
tentang cara madiksa [Tingkahing
Adiksa]. Penjelasannya sangat teknis dan tentu dengan istilah-istilah yang
khas. Prosesi yang dijalani adalah Ndilah, Nuhun Pada, Matirtha, Majaya-jaya.
Ndilah adalah prosesi yang berhubungan dengan api. Sesuatu yang terbakar, dalam
bahasa Bali juga disebut kadilah. Mungkin
juga Dilah dekat hubungannya dengan Dirah: nama lain Calonarang. Nuhun boleh jadi
berasal dari kata Suhun, artinya meletakkan sesuatu di atas kepala. Sedangkan
kata Pada dalam konteks ini berarti kaki. Jadi ada kaki yang diletakkan di atas
kepala. Kaki siapa? Guru. Kepala siapa? Murid. Begitu barangkali.
Konon
Windu Air adalah sarana yang digunakan dalam prosesi Nuhun Pada itu. Tentu yang
disebut Windu Air itu tidak bisa dilihat dengan mata biasa. Mungkin dengan mata
yang tajam, Windu Air itu bisa dilihat. Anjing punya mata yang tajam, maka anjing
lebih hebat dalam melihat dari pada manusia. Anjing itu Dewa Dharma.
Prosesi
selanjutnya Matirtha dan Majaya-jaya. Tujuan dari seluruh rangkaian prosesi itu
adalah mendapatkan rasa kewikuan. Bahkan menjadi rasa itu sendiri. Wiku dalam
Shastra Wangsa diterjemahkan sebagai orang yang telah melepaskan kulit-kulitnya.
Istilah kulit itulah yang digunakan untuk menyebut Wangsa. Jadi Wiku adalah
orang yang telah melepaskan Wangsanya. Apa benar begitu?
Sayangnya
dalam teks yang sama, Wiku juga disebut kulit. Kulit wiku bernama Wangsa
Pandita Dewata. Istilah itu berarti kulit bernama Pandita Dewata. Sampai
disana, pernyataan bahwa Wiku adalah orang yang melepaskan kulit masih tidak
konsisten. Karena ternyata Wiku hanya melepaskan kulit Sudra, Wesya dan
Ksatria, tapi belum melepaskan kulit Wikunya. Jadi prosesi diksa, hanya mengantarkan
orang sampai pada Wiku.
Menjadi
Wiku tentulah bukan perihal yang mudah. Ritual diksa adalah upacara, tahap
selanjutnya menjadi Wiku pada tataran Susila atau etik. Karena setelah didiksa,
bukan berarti perilaku bisa berubah dengan instan seinstan mie. Diksa bukan mie
instan, dan memang tidak ada hubungannya.
Jika
pun telah menjadi Wiku di tataran Susila, menurut ajarannya seorang Wiku juga
mesti sampai pada tingkat Tattwa. Tattwa berarti “keituan”, sederhananya
filsafat. Filsafat konon artinya mencintai kebijaksanaan. Dan bijaksana, adalah
terjemahan yang agak pas untuk kata Pandita. Pandita sama dengan Wiku. Jadi,
Wiku adalah orang yang bijaksana.
Lalu
apa tugas menjadi Wiku? Silahkan tanyakan kepada yang menjadikan dirinya
seorang Wiku. Tetapi, jika Wiku berarti orang yang telah melepaskan kulit, maka
tugas Wiku adalah terus menerus melepaskan kulit-kulit yang melekat lengket
itu. Tidak terkecuali, melepaskan kulit Wiku yang juga mengikat.
Diksa
dalam bahasa Sanskerta, salah satunya berarti penyucian. Proses yang disebutkan
di atas, adalah proses penyucian. Secara tidak langsung, Wiku adalah orang yang
telah disucikan. Ia disebut suci karena telah hilang segala yang tidak
suci-suci. Ketidaksucian bisa datang dari perbuatan, maka perbuatannya
disucikan [kayika parisuddha]. Ketidaksucian bisa datang dari omongan, maka
omongan itulah yang disucikan [Wacika]. Sumber ketidaksucian adalah pikiran,
maka pikiran itu pula yang disucikan [Manacika]. Bayangkan jika ada manusia
yang sudah sampai di tingkat itu, barangkali dunia seperti sudah menjadi
miliknya.
Seorang
Wiku adalah manusia Suci. Karena suci, ia bisa menembus batas-batas. Menembus
batas, beda dengan melanggar aturan. Tapi apa benar kesucian ada batasnya?
Seperti batas kesucian pura? Sebenarnya bagaimana cara kita memahami kata suci
itu? Dalam bahasa Sanskerta, Sūci berarti ujung jarum yang tajam. Dalam teks
Agastia Parwa, suci berarti api matahari. Dalam teks Widhi Shastra, Suci
berarti Banten. Banten dalam teks Sundarigama disebut Raga [Tubuh]. Bayangkan
bahwa tubuh adalah banten yang mesti dipersembahkan.
Diksa memang salah satu cara untuk menyucikan diri, tapi bukan cara cerdik untuk lari dari masalah-masalah duniawi yang belum selesai. Seperti air yang terlihat bening, bukan berarti tak beracun. Wiku Sisu Paling adalah sebutan untuk pendeta yang dari luar terlihat suci, tapi di dalamnya dusta-tamak. Siapa dia? Kita? [T]
Kacang [Kamus Cangak]
Wiku : ia yang lepas dari segala istilah