“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
Buku Shastra Wangsa menyebut lontar berjudul Bongkol Pangasrayan memuat ajaran tentang cara madiksa [Tingkahing Adiksa]. Penjelasannya sangat teknis dan tentu dengan istilah-istilah yang khas. Prosesi yang dijalani adalah Ndilah, Nuhun Pada, Matirtha, Majaya-jaya. Ndilah adalah prosesi yang berhubungan dengan api. Sesuatu yang terbakar, dalam bahasa Bali juga disebut kadilah. Mungkin juga Dilah dekat hubungannya dengan Dirah: nama lain Calonarang. Nuhun boleh jadi berasal dari kata Suhun, artinya meletakkan sesuatu di atas kepala. Sedangkan kata Pada dalam konteks ini berarti kaki. Jadi ada kaki yang diletakkan di atas kepala. Kaki siapa? Guru. Kepala siapa? Murid. Begitu barangkali.
Konon Windu Air adalah sarana yang digunakan dalam prosesi Nuhun Pada itu. Tentu yang disebut Windu Air itu tidak bisa dilihat dengan mata biasa. Mungkin dengan mata yang tajam, Windu Air itu bisa dilihat. Anjing punya mata yang tajam, maka anjing lebih hebat dalam melihat dari pada manusia. Anjing itu Dewa Dharma.
Prosesi selanjutnya Matirtha dan Majaya-jaya. Tujuan dari seluruh rangkaian prosesi itu adalah mendapatkan rasa kewikuan. Bahkan menjadi rasa itu sendiri. Wiku dalam Shastra Wangsa diterjemahkan sebagai orang yang telah melepaskan kulit-kulitnya. Istilah kulit itulah yang digunakan untuk menyebut Wangsa. Jadi Wiku adalah orang yang telah melepaskan Wangsanya. Apa benar begitu?
Sayangnya dalam teks yang sama, Wiku juga disebut kulit. Kulit wiku bernama Wangsa Pandita Dewata. Istilah itu berarti kulit bernama Pandita Dewata. Sampai disana, pernyataan bahwa Wiku adalah orang yang melepaskan kulit masih tidak konsisten. Karena ternyata Wiku hanya melepaskan kulit Sudra, Wesya dan Ksatria, tapi belum melepaskan kulit Wikunya. Jadi prosesi diksa, hanya mengantarkan orang sampai pada Wiku.
Menjadi Wiku tentulah bukan perihal yang mudah. Ritual diksa adalah upacara, tahap selanjutnya menjadi Wiku pada tataran Susila atau etik. Karena setelah didiksa, bukan berarti perilaku bisa berubah dengan instan seinstan mie. Diksa bukan mie instan, dan memang tidak ada hubungannya.
Jika pun telah menjadi Wiku di tataran Susila, menurut ajarannya seorang Wiku juga mesti sampai pada tingkat Tattwa. Tattwa berarti “keituan”, sederhananya filsafat. Filsafat konon artinya mencintai kebijaksanaan. Dan bijaksana, adalah terjemahan yang agak pas untuk kata Pandita. Pandita sama dengan Wiku. Jadi, Wiku adalah orang yang bijaksana.
Lalu apa tugas menjadi Wiku? Silahkan tanyakan kepada yang menjadikan dirinya seorang Wiku. Tetapi, jika Wiku berarti orang yang telah melepaskan kulit, maka tugas Wiku adalah terus menerus melepaskan kulit-kulit yang melekat lengket itu. Tidak terkecuali, melepaskan kulit Wiku yang juga mengikat.
Diksa dalam bahasa Sanskerta, salah satunya berarti penyucian. Proses yang disebutkan di atas, adalah proses penyucian. Secara tidak langsung, Wiku adalah orang yang telah disucikan. Ia disebut suci karena telah hilang segala yang tidak suci-suci. Ketidaksucian bisa datang dari perbuatan, maka perbuatannya disucikan [kayika parisuddha]. Ketidaksucian bisa datang dari omongan, maka omongan itulah yang disucikan [Wacika]. Sumber ketidaksucian adalah pikiran, maka pikiran itu pula yang disucikan [Manacika]. Bayangkan jika ada manusia yang sudah sampai di tingkat itu, barangkali dunia seperti sudah menjadi miliknya.
Seorang Wiku adalah manusia Suci. Karena suci, ia bisa menembus batas-batas. Menembus batas, beda dengan melanggar aturan. Tapi apa benar kesucian ada batasnya? Seperti batas kesucian pura? Sebenarnya bagaimana cara kita memahami kata suci itu? Dalam bahasa Sanskerta, Sūci berarti ujung jarum yang tajam. Dalam teks Agastia Parwa, suci berarti api matahari. Dalam teks Widhi Shastra, Suci berarti Banten. Banten dalam teks Sundarigama disebut Raga [Tubuh]. Bayangkan bahwa tubuh adalah banten yang mesti dipersembahkan.
Diksa memang salah satu cara untuk menyucikan diri, tapi bukan cara cerdik untuk lari dari masalah-masalah duniawi yang belum selesai. Seperti air yang terlihat bening, bukan berarti tak beracun. Wiku Sisu Paling adalah sebutan untuk pendeta yang dari luar terlihat suci, tapi di dalamnya dusta-tamak. Siapa dia? Kita? [T]
Kacang [Kamus Cangak]
Wiku : ia yang lepas dari segala istilah
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...