Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Buku Shastra Wangsa menyebut lontar berjudul Bongkol Pangasrayan memuat ajaran tentang cara madiksa [Tingkahing Adiksa]. Penjelasannya sangat teknis dan tentu dengan istilah-istilah yang khas. Prosesi yang dijalani adalah Ndilah, Nuhun Pada, Matirtha, Majaya-jaya. Ndilah adalah prosesi yang berhubungan dengan api. Sesuatu yang terbakar, dalam bahasa Bali juga disebut kadilah. Mungkin juga Dilah dekat hubungannya dengan Dirah: nama lain Calonarang. Nuhun boleh jadi berasal dari kata Suhun, artinya meletakkan sesuatu di atas kepala. Sedangkan kata Pada dalam konteks ini berarti kaki. Jadi ada kaki yang diletakkan di atas kepala. Kaki siapa? Guru. Kepala siapa? Murid. Begitu barangkali.
Konon Windu Air adalah sarana yang digunakan dalam prosesi Nuhun Pada itu. Tentu yang disebut Windu Air itu tidak bisa dilihat dengan mata biasa. Mungkin dengan mata yang tajam, Windu Air itu bisa dilihat. Anjing punya mata yang tajam, maka anjing lebih hebat dalam melihat dari pada manusia. Anjing itu Dewa Dharma.
Prosesi selanjutnya Matirtha dan Majaya-jaya. Tujuan dari seluruh rangkaian prosesi itu adalah mendapatkan rasa kewikuan. Bahkan menjadi rasa itu sendiri. Wiku dalam Shastra Wangsa diterjemahkan sebagai orang yang telah melepaskan kulit-kulitnya. Istilah kulit itulah yang digunakan untuk menyebut Wangsa. Jadi Wiku adalah orang yang telah melepaskan Wangsanya. Apa benar begitu?
Sayangnya dalam teks yang sama, Wiku juga disebut kulit. Kulit wiku bernama Wangsa Pandita Dewata. Istilah itu berarti kulit bernama Pandita Dewata. Sampai disana, pernyataan bahwa Wiku adalah orang yang melepaskan kulit masih tidak konsisten. Karena ternyata Wiku hanya melepaskan kulit Sudra, Wesya dan Ksatria, tapi belum melepaskan kulit Wikunya. Jadi prosesi diksa, hanya mengantarkan orang sampai pada Wiku.
Menjadi Wiku tentulah bukan perihal yang mudah. Ritual diksa adalah upacara, tahap selanjutnya menjadi Wiku pada tataran Susila atau etik. Karena setelah didiksa, bukan berarti perilaku bisa berubah dengan instan seinstan mie. Diksa bukan mie instan, dan memang tidak ada hubungannya.
Jika pun telah menjadi Wiku di tataran Susila, menurut ajarannya seorang Wiku juga mesti sampai pada tingkat Tattwa. Tattwa berarti “keituan”, sederhananya filsafat. Filsafat konon artinya mencintai kebijaksanaan. Dan bijaksana, adalah terjemahan yang agak pas untuk kata Pandita. Pandita sama dengan Wiku. Jadi, Wiku adalah orang yang bijaksana.
Lalu apa tugas menjadi Wiku? Silahkan tanyakan kepada yang menjadikan dirinya seorang Wiku. Tetapi, jika Wiku berarti orang yang telah melepaskan kulit, maka tugas Wiku adalah terus menerus melepaskan kulit-kulit yang melekat lengket itu. Tidak terkecuali, melepaskan kulit Wiku yang juga mengikat.
Diksa dalam bahasa Sanskerta, salah satunya berarti penyucian. Proses yang disebutkan di atas, adalah proses penyucian. Secara tidak langsung, Wiku adalah orang yang telah disucikan. Ia disebut suci karena telah hilang segala yang tidak suci-suci. Ketidaksucian bisa datang dari perbuatan, maka perbuatannya disucikan [kayika parisuddha]. Ketidaksucian bisa datang dari omongan, maka omongan itulah yang disucikan [Wacika]. Sumber ketidaksucian adalah pikiran, maka pikiran itu pula yang disucikan [Manacika]. Bayangkan jika ada manusia yang sudah sampai di tingkat itu, barangkali dunia seperti sudah menjadi miliknya.
Seorang Wiku adalah manusia Suci. Karena suci, ia bisa menembus batas-batas. Menembus batas, beda dengan melanggar aturan. Tapi apa benar kesucian ada batasnya? Seperti batas kesucian pura? Sebenarnya bagaimana cara kita memahami kata suci itu? Dalam bahasa Sanskerta, Sūci berarti ujung jarum yang tajam. Dalam teks Agastia Parwa, suci berarti api matahari. Dalam teks Widhi Shastra, Suci berarti Banten. Banten dalam teks Sundarigama disebut Raga [Tubuh]. Bayangkan bahwa tubuh adalah banten yang mesti dipersembahkan.
Diksa memang salah satu cara untuk menyucikan diri, tapi bukan cara cerdik untuk lari dari masalah-masalah duniawi yang belum selesai. Seperti air yang terlihat bening, bukan berarti tak beracun. Wiku Sisu Paling adalah sebutan untuk pendeta yang dari luar terlihat suci, tapi di dalamnya dusta-tamak. Siapa dia? Kita? [T]
Kacang [Kamus Cangak]
Wiku : ia yang lepas dari segala istilah
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...