Jika Film Horor Indonesia Seperti “Bokep” – Bukan Salah Setan!
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
Kata shastra janganlah berkata “tidak ada” saat ada orang yang meminta sedekah. Konon perkataan itu berpahala tidak baik. Berikanlah sedekah kepada yang membutuhkan. Puncak sedekah yang diajarkan shastra adalah memberikan seekor Lembu Kapila. Kapila berarti coklat, kuning kecoklatan, kemerahan. Lembu itu dilengkapi dengan pakaian dan dihias ujung tanduknya dengan emas. Juga dilengkapi dengan Bejana Kangsa, yaitu bejana kuningan. Jika telah demikian, akan didapat pahala berupa Kamadugadenu. Kamadugadenu konon adalah sebutan untuk lembu yang dapat mengabulkan semua keinginan.
Tidak mudah untuk mensedekahkan Lembu Kapila bersyarat semacam itu. Isi kantong haruslah setebal wajah pemimpin yang mengingkari janji-janji kampanye. Jangan setengah-setengah, seperti orang yang belajar spiritual tapi etiknya tidak bagus. Spiritual haruslah didasari dengan etika. Upacara atau Tattwa tanpa Etika, sama setengah-setengahnya. Jangan mengandalkan kantong setipis jaring laba-laba. Karena tentu saja mudah sobek. Jika jaring sobek, sulitlah memerangkap binatang. Jaring sedekah haruslah tebal, agar makin banyak yang bisa terperangkap dan ditangkap, hap hap hap.
Ada banyak yang bisa disedekahkan. Bahkan shastra menjanjikan pahala-pahala yang bisa didapat oleh penyedekah. Bagi orang yang menyedekahkan pakaian, dupa, atau wewangian, maka kelak ia akan memiliki wajah yang rupawan. Menyedekahkan minyak, umbi-umbian, pahalanya adalah hidup bahagia bersama keluarga. Bahkan jika ada orang yang menyedekahkan pelita, konon kelak matanya akan berbinar terang benderang. Bagi mereka yang menyedekahkan payung, pahala yang diterima adalah dipuja dan dihormati oleh penghuni surga.
Barangkali ada banyak lagi yang bisa disedekahkan. Shastra bahkan menuliskan syarat sedekah yang sangat penting. Syarat sedekah itu yakni salwiraning wastu kinatresnan. Artinya segala hal yang disayangi atau dicintai, itulah yang patut disumbangkan. Sayang kepada emas, maka sumbangkanlah emas milikmu itu. Sayang pada pakaian, sumbangkan juga pakaian itu. Sayang pada makanan, sumbangkan makanan. Sayang pada pasangan? Bagaimanakah itu?
Jangan jawab pertanyaan tadi. Pertanyaan itu tidak ada dalam shastra. Segala sesuatu yang tidak ada dalam shastra, artinya tidak patut dipertanyakan. Begitu ucapan orang-orang yang pura-pura hafal isi shastra. Satu isi shastra dihafalnya, yang satu-satu lainnya tidak. Bukan tidak jarang, yang dinobatkan sebagai bamper agama penghafal sloka sudah gelap matanya karena ditutupi oleh sloka-sloka yang dibacanya. Sungguh mengenaskan, sloka yang konon adalah penerang itulah yang justru menggelapkan mata. Tapi alam memang begitu, justru segala sesuatu menjadi tidak terlihat di tempat yang terlalu terang.
Saya ini Cangak penghayat agama yang konon menerangi itu. Hasil penghayatan adalah kesimpulan. Kesimpulan ala Cangak, lebih sering berupa pertanyaan dibandingkan pernyataan. Contohnya pertanyaan ini. Jika benar segala yang disayangi itulah yang patut disumbangkan atau disedekahkan, atau dalam bahasa shastranya danakena, ijinkan saya bertanya kepada hadirin sekalian. Di dalam hidup yang penuh dengan cinta ini, apa yang paling kalian cintai? Setelah menjawabnya, pertanyaan selanjutnya adalah “relakah kalian menyumbangkannya?”.
Silahkan dijawab sendiri-sendiri di tempat paling rahasia, agar tidak ada yang mendengar. Biarkan jawaban tadi menjadi rahasia pribadi yang hanya diketahui oleh beberapa saksi. Jika jawaban tadi diungkapkan saat malam, maka malam adalah saksinya. Jika pagi, maka pagi adalah saksinya. Tentu saja ada beberapa saksi lain yang sudah mendengar jawaban tadi. Siapa saja saksi itu?
Menurut banyak penutur kejernihan yang konon sudah sampai di titik paling Sunya dalam hidupnya, saksi ada beberapa. Untuk mengidentifikasi saksi, didasari oleh pengetahuan tentang tubuh. Konon, tubuh ini dibentuk oleh unsur yang sama dengan semesta. Maka unsur-unsur itu pula yang sudah menjadi saksi jawaban kita. Mereka adalah unsur tanah yang padat seperti tulang. Unsur air yang cair seperti darah. Unsur api yang panas seperti suhu tubuh. Unsur udara yang bergerak seperti nafas. Unsur bunyi yang bergema seperti suara-suara dalam banyak rongga. Itulah beberapa saksi yang mengetahui jawaban tadi. Tentu saja masih ada saksi yang lain. Jika hidup masih panjang, kita akan bertemu lagi untuk membahasnya.
Jadi, apakah yang paling kita cintai dalam hidup ini? Bagi saya pribadi, tidak ada yang lebih saya cintai dari pada “hidup” dalam kehidupan ini. Karena dengan hidup, segala Dharma dapat saya lakukan. Segala harta dapat saya raih. Segala keinginan dapat saya tempuh. Tentu saja, kematian yang indah adalah hadiah dari mencintai kehidupan ini. Dan kematian yang indah itu, hanya bisa didapat oleh yang hidup. Mencintai kehidupan, sama artinya dengan menyayangi kematian.
Kalau sudah demikian, kehidupan inilah yang harus saya sedekahkan. Tapi kepada apa, kepada siapa, dan untuk apa?
Semoga saja, hadirin sekalian ada yang juga berpikir demikian. Saya ingin mengajak semuanya untuk menyadari, kita terlalu sering memberi untuk mendapatkan. Kita peminta-minta yang pura-pura menjadi pemberi dana. Tidak lebih. [T]
Kamus Cangak [Kacang]
yadnya : cara berhubungan
ikhlas : menerima dan memberi tanpa syarat
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
MEMBACA buku sejarah adalah membaca penafsiran-penafsiran. Membaca buku sejarah adalah membaca kejadian masa lampau yang hanya mungkin ditilik kembali dengan membangun serpihan-ser...
Cerpen: I Putu Agus Phebi Rosadi DI ruang tamu, tiga orang interogator telah duduk di depanku. Matanya tajam. Seperti ingin mencengkram leherku. “Tuan-tuan. Jangan memandang seper...
DI tengah rapat kantor, tiba-tiba telepon selular bergetar. “Halo.” Setengah berbisik. “Lagi sibuk?” suara di sana. “Lagi meeting, apa kabar?” Ujung-ujungnya: “Ada stok naskah cerp...
POLEMIK drama gong tampaknya terus berlanjut, dan tentu saja akan bagus jika polemik itu terus berlanjut sampai seni pertunjukan itu benar-benar lahir kembali dan hidup. Jika ada “...
TIDAK ada yang bisa membantah jika saya penggemar sejati film-film Warkop DKI – Dono, Kasino, Indro. Jauh-jauh dari Bali Barat saya melesat ke Denpasar ketika film Warkop DKI Rebor...
ANAKMU bukanlah anakmu, mereka adalah anak zaman. Tak ada hak bagi orangtua untuk mengungkung jiwa mereka, kendatipun rumah disiapkan buat raga mereka. Paling tidak, itulah pendapa...
SEBUAH ruang, satu tempat, sebuah wilayah, bagi manusia Bali, bisa diartikan sebuah arsitektur yang unik dan otentik. Dalam ruang itu orang Bali melakukan aktivitas, bergumul sehar...
SETIAP orang pasti pernah merasakan takut, tidak peduli tua atau muda. Rasa takut adalah salah satu emosi dasar sama seperti bahagia, sedih, marah dan sejenisnya. Menurut Kamus Bes...
LELAKI ABSTRAK Pada hamparan kanvasmu balon-balon meletus menjadi wara-warni pelangi gugusan mega awan pudar langit terhimpit mendung ditimpa matahari siluet senja halim...