Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Jika berkeliling memperhatikan ribuan relief batu di Borobudur, mata yang dipenuhi pikiran peperangan, mungkin melihat semua sosok pada relief di sana memegang pedang dan pisau.
Pada gambar pertama yang dipegang adalah lontar. Bukan pedang. Namanya lontar berjenis embat-embatan. Lihat gambar 2 dan 3. Panjangnya sampai 72 cm. Bahkan ada yang lebih dari semeter.



Lontar embat-embatan umumnya dipakai kebutuhan harian di kelas terbuka atau pengajaran. Isinya catatan tembang dan pengajaran tata bahasa, disebut juga "maarti", atau kalender "wariga" dan perhitungan pertanian dan pengetahuan terapan. Jenis lontar ini berbeda dengan jenis keropakan yang jadi koleksi formal.
Jenis embat-embatan umumnya bukan untuk koleksi perpustakaan kerajaan yang dipakai dalam acara kebesaran kerajaan atau upakara. Lontar jenis ini berfungsi mencatat pengajaran dan catatan yang sewaktu-waktu mudah dibuka. Biasanya digantung di dapur atau balai keluarga, sebab berisi pengajaran dan petunjuk yang bersifat pedoman harian seperti kalender.
Rakyat kebanyakan kalau tidak punya lontar dengan kotak penyimpanan yang mewah biasanya punya jenis embat-embatan, baik untuk catatan tembang, obat-obatan, pedoman atau petunjuk pembuatan sesaji, juga doa-doa bersifat umum.
Bagaimana menuliskan atau mengambarkan ajaran pada lontar-lontar tersebut? Apa alat tulisnya? Namanya, di Bali, "pangrupak".
Pangrupak dari kata "rupa". Alat gores untuk mengambar rupa. Baik "rupa suara" (aksara) atau "rupa bentuk" (gambar), serta "rupa tubuh" (anatomi). Dengan pangrupak semua rupa pikiran, suara, perasaan, filsafat, kegaiban, disalihrupa dalam rupa aksara dan rupa bentuk. Gores rekamannya bernama "rupa" dan kandungan maknanya adalah "nama". Pangrupak menyurat "rupa" yang mengandung "nama".

Pada gambar 4 adalah pisau-pisau pangrupak yang dipakai menulis pada lontar. Berabad-abad dalam tradisi Asia Tenggara dan Bharatawarsa.
Pisau dalam kapasitasnya sebagai alat tulis menduduki posisi istimewa dalam perjalanan peradaban manusia. Ia memberi hidup pada suara lewat aksara. Ia bukan alat potong atau alat tusuk, tapi alat toreh. Menorehkan ingatan dan pemikiran. Menorehkan kemuliaan pikir dan ajaran-ajaran yang bisa menjadi penuntun untuk bercermin agar kita tidak sembarang saling potong dalam kehidupan, agar kita tidak gegampangan saling tusuk hendak mencabut kehidupan.
Catatan Harian Sugi Lanus, 12 Oktober 2019.
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...