Jika berkeliling memperhatikan ribuan relief batu di Borobudur, mata yang dipenuhi pikiran peperangan, mungkin melihat semua sosok pada relief di sana memegang pedang dan pisau.
Pada gambar pertama yang dipegang adalah lontar. Bukan pedang. Namanya lontar berjenis embat-embatan. Lihat gambar 2 dan 3. Panjangnya sampai 72 cm. Bahkan ada yang lebih dari semeter.
Gambar 1 Salah satu relief Borobudur (berdiri abad 8-9) terlihat sosok guru memegang lontar embat-embatan. Bukan memegang pedang. Murid-murid duduk menyimak di bawah mendengarkan penjelasan. Posisi duduk di bawah di depan kaki guru untuk mendapat petuah dan pedoman hidup, terbuja hati menyimak mencari penerang jiwa, disebut "upadesa".
Gambar 2 Lontar embat-embatan berbeda dengan lontar lempir. Embat-embatan masih ada lidi dan tidak dibelah. Daun ental yang utuh dikeringkan. Diproses secara alami biasanya digantung di dapur sehingga lambat laun daun kering dan berlapis pengasapan jelaga api dapur secara alamiah.
Gambar 3 Panjang lontar embat-embatan bisa mencapai semeter lebih. Pada gambar tampak embat-embatan dengan panjang 72 centimeter.
Lontar embat-embatan umumnya dipakai kebutuhan
harian di kelas terbuka atau pengajaran. Isinya catatan tembang dan pengajaran
tata bahasa, disebut juga "maarti", atau kalender "wariga"
dan perhitungan pertanian dan pengetahuan terapan. Jenis lontar ini berbeda
dengan jenis keropakan yang jadi koleksi formal.
Jenis embat-embatan umumnya bukan untuk
koleksi perpustakaan kerajaan yang dipakai dalam acara kebesaran kerajaan atau
upakara. Lontar jenis ini berfungsi mencatat pengajaran dan catatan yang
sewaktu-waktu mudah dibuka. Biasanya digantung di dapur atau balai keluarga, sebab
berisi pengajaran dan petunjuk yang bersifat pedoman harian seperti kalender.
Rakyat kebanyakan kalau tidak punya lontar
dengan kotak penyimpanan yang mewah biasanya punya jenis embat-embatan, baik
untuk catatan tembang, obat-obatan, pedoman atau petunjuk pembuatan sesaji,
juga doa-doa bersifat umum.
Bagaimana menuliskan atau mengambarkan ajaran
pada lontar-lontar tersebut? Apa alat tulisnya? Namanya, di Bali,
"pangrupak".
Pangrupak dari kata "rupa". Alat
gores untuk mengambar rupa. Baik "rupa suara" (aksara) atau
"rupa bentuk" (gambar), serta "rupa tubuh" (anatomi).
Dengan pangrupak semua rupa pikiran, suara, perasaan, filsafat, kegaiban,
disalihrupa dalam rupa aksara dan rupa bentuk. Gores rekamannya bernama
"rupa" dan kandungan maknanya adalah "nama". Pangrupak
menyurat "rupa" yang mengandung "nama".
Gambar 4 Pisau tulis dikenal di Bali sebagai "pangrupak". Bukan alat potong atau tusuk. Khusus dipakai menulis aksara atau mengambar dengan teknik toreh pada lontar. Menulis aksara dikenal dengan istilah "nyurat aksara". Menggambar pada lontar disebut "mrasi" (menggambar lontar), hasilnya disebut "prasi" (gambar atau ilustrasi di atas lontar).
Pada gambar 4 adalah pisau-pisau pangrupak
yang dipakai menulis pada lontar. Berabad-abad dalam tradisi Asia Tenggara dan
Bharatawarsa.
Pisau dalam kapasitasnya sebagai alat tulis
menduduki posisi istimewa dalam perjalanan peradaban manusia. Ia memberi hidup
pada suara lewat aksara. Ia bukan alat potong atau alat tusuk, tapi alat toreh.
Menorehkan ingatan dan pemikiran. Menorehkan kemuliaan pikir dan ajaran-ajaran
yang bisa menjadi penuntun untuk bercermin agar kita tidak sembarang saling
potong dalam kehidupan, agar kita tidak gegampangan saling tusuk hendak
mencabut kehidupan.
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra secara resmi mengambil sumpah/janji serta menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Formasi Tahun 2024 di lingkung...
DALAM suasana yang akrab, pandangan orang-orang masih tertuju ke depan, tepatnya pada dua remaja yang berupaya menjaga suasana hati audiens agar tetap antusias. Tiba-tiba terdenga...
JARI-jari mereka bergerak cepat di atas layar gawai dan laptop. Di beberapa ruang kelas SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), ratusan pasang mata fokus membaca, memahami,...
ANAK-anak ini tampak tenang dan santai. Mereka duduk manis di atas karpet di teras Museum Taman Budaya, Art Center Provinsi Bali. Meja lipat tegak di depannya, dilengkapi berbagai...
Om Swastyastu,
Atas nama Pemerintah Kabupaten Buleleng dan pribadi, kami I Nyoman Sutjidra, Bupati Buleleng, bersama Gede Supriatna, Wakil Bupati Buleleng, menghaturkan Selamat...
PEMENTASAN Peed Aya serangkaian dengan pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) selalu ada yang baru, dan pastinya menarik. Arak-arakan barisan yang berjalan teratur mempersembahkan ka...
MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan dalam bahasa Jawa Kuna agar mem...
SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”, yang kerap mengudara di penghujung hari, ada tubu...
MASA tinggal terlama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia didominasi oleh wisatawan asal negara-negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Eropa betah tinggal di Ind...
TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar.
"Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan nganggur, awas nanti disita negara...