Buleleng Terkaya di Bali, Sesungguhnyalah Tak Perlu Investor
DI Bali hanya dua kabupaten yang memiliki danau sekaligus laut: Buleleng dan Tabanan. Bangli punya danau besar tapi tak punya laut. Semua kabupaten lain punya laut, tapi lacur tak...
Kawitan artinya 'muasal'. Seringkali disederhanakan sebagai "garis silsilah" atau 'trah' .
Ketika kata 'kawitan' dibatasi sebatas trah keluarga, inilah awal muncul persoalan berkawitan. Kawitan menyempit menjadi urusan darah, menipis dan tercekik jadi urusan keluarga, lalu terjebak jadi berpola pikir eksklusivitas yang memicu munculnya mental kawanan.
Padahal, kecenderungan ke arah eksklusiflvitas ini mencemari prinsip utama dharma yang esensinya ajarannya mengajarkan inklusivitas, yaitu: 'semeton sami, sami semeton' atau 'nyama-braya', atau secara Sanskrit kita kenal sebagai "Vasudhaiva kutumbakam" ("the world is one family").

Adakah kutuk "salah kawitan", "kawitan salah"? Yang terjadi "memikir kawitan secara sempit". Semangat mencari garis leluhur yang tidak diimbangi membaca karya-karya pustaka Sastra, Agama, Weda, Puja, pengetahuan tertulis warisan leluhur, yang menjadi pedoman leluhur, justru sesungguhnya bentuk pengingkaran terhadap kawitan yang serius.
Tidak bernyali mempelajari pengetahuan suci yang dipegang para leluhur, itulah, yang jika dipikir mendalam, ujung pangkal "salah kawitan". Kunci berkawitan bukan garis silsilah yang mentereng kita 'umbah-ambih' (sebut-sebut, elu-elukan) sebagai legitimasi kehebatan silsilah diri, tetapi pada sebesar apa kita paham "sasana" dan "panugrahan" leluhur kita.
Jadi, hemat saya, bukan garis darah yang penting dipelajari, tapi garis ajaran dan pengetahuan leluhur yang perlu digali dan digenggam. Ini cara berkawitan.
Tidak ingat leluhur, buat saya, artinya kita lupa belajar pengetahuan leluhur. "Engsap ring kawitan" artinya kita lupa pada genetika pengetahuan dan pedoman laku yang dipegang leluhur sehingga kita sesat.
Berkawitan, alangkah baiknya, ditarik ke penggalian DNA pengetahuan leluhur. Pengetahuan leluhur yang diwariskan ke kita telah lama ditinggal, tinggal kebanggan garis silsilah, tanpa ada keberlanjutan garis pewarisan pengetahuan. Berkawitan peluangnya ada dengan mempelajari ilmu dan pengetahuan leluhur yang tertulis, dipelajari dan dijadikan pedoman, bukan disembah secara membabi buta.
Saya lebih bahagia berjumpa dengan seorang yang fasih mengupas ajaran leluhur dibandingkan seseorang yang berbuih-buih menceritakan garis silsilahnya semata. [T]
Catatan Harian 8 Oktober 2019
DI Bali hanya dua kabupaten yang memiliki danau sekaligus laut: Buleleng dan Tabanan. Bangli punya danau besar tapi tak punya laut. Semua kabupaten lain punya laut, tapi lacur tak...
INI adalah komentar seorang teman pebisnis sukses, orang Bali yang tinggal di Amerika “Orang Bali harusnya ajarkan anak-anaknya berbisnis bukan hanya sembahyang”. Dan comment yang...
WABAH Pokémon Go sepertinya sudah masuk ke ceruk kehidupan orang Bali. Di Pulau Seribu Pura ini, tentu bukan hal aneh jika sarang Pokémon banyak terdapat di Pura. Di Pura besar ata...
Cerpen: Ni Kadek Desi Nurani Sari Purnama pasah, tiga anak bajang berjalan melenggang ke arah barat tempat di mana, rusuk seorang ibu tersesat jalan pulang. Mereka kembara, membawa...
BUNGA KECOMBRANG (1 ) Pada kelopak mudaku kau temukan rasa yang enggan pergi dari tiap ujung papila Kau terbakar rasa larut dalam liur kuntum kuntumku membuat...
SALAH satu cara mengatasi kerumitan pilihan hidup dalam dunia, --- yang mana orang-orangnya kian jauh dari kesempatan untuk berbeda adalah mengikuti ke mana arah pemikiran pergi,...
"Itulah pekerjaan, saya profesional, keluarga tahu saya bekerja sebagai penari joged, tidak jual diri," KERUMUNAN tampak dari kejauhan. Iringan suara gamelan rindik berpadu dengan...
HARI sekolah tiba. Orang tua harap-harap cemas. Apakah si anak bisa berprestasi di sekolah. Jika iya tentunya membanggakan. Namun, hilangkan harapan itu. Baiknya, jangan paksa anak...
Judul: Magening # Pengarang: Wayan Jengki Sunarta # Penerbit: Kakilangit Kencana # Tahun: April 2015 # Tebal: vi, 164 halaman # ISBN: 978-602-8556-53-8 899.221 3 NOVEL Magening...
PADA suatu masa, tak terlalu lama, di negeri ini pernah ada penggemar cicak dan ada penggemar buaya, ada juga yang suka melihat ribut-ribut antara keduanya. Tapi saya sendiri lebih...