“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
Kawitan artinya 'muasal'. Seringkali disederhanakan sebagai "garis silsilah" atau 'trah' .
Ketika kata 'kawitan' dibatasi sebatas trah keluarga, inilah awal muncul persoalan berkawitan. Kawitan menyempit menjadi urusan darah, menipis dan tercekik jadi urusan keluarga, lalu terjebak jadi berpola pikir eksklusivitas yang memicu munculnya mental kawanan.
Padahal, kecenderungan ke arah eksklusiflvitas ini mencemari prinsip utama dharma yang esensinya ajarannya mengajarkan inklusivitas, yaitu: 'semeton sami, sami semeton' atau 'nyama-braya', atau secara Sanskrit kita kenal sebagai "Vasudhaiva kutumbakam" ("the world is one family").

Adakah kutuk "salah kawitan", "kawitan salah"? Yang terjadi "memikir kawitan secara sempit". Semangat mencari garis leluhur yang tidak diimbangi membaca karya-karya pustaka Sastra, Agama, Weda, Puja, pengetahuan tertulis warisan leluhur, yang menjadi pedoman leluhur, justru sesungguhnya bentuk pengingkaran terhadap kawitan yang serius.
Tidak bernyali mempelajari pengetahuan suci yang dipegang para leluhur, itulah, yang jika dipikir mendalam, ujung pangkal "salah kawitan". Kunci berkawitan bukan garis silsilah yang mentereng kita 'umbah-ambih' (sebut-sebut, elu-elukan) sebagai legitimasi kehebatan silsilah diri, tetapi pada sebesar apa kita paham "sasana" dan "panugrahan" leluhur kita.
Jadi, hemat saya, bukan garis darah yang penting dipelajari, tapi garis ajaran dan pengetahuan leluhur yang perlu digali dan digenggam. Ini cara berkawitan.
Tidak ingat leluhur, buat saya, artinya kita lupa belajar pengetahuan leluhur. "Engsap ring kawitan" artinya kita lupa pada genetika pengetahuan dan pedoman laku yang dipegang leluhur sehingga kita sesat.
Berkawitan, alangkah baiknya, ditarik ke penggalian DNA pengetahuan leluhur. Pengetahuan leluhur yang diwariskan ke kita telah lama ditinggal, tinggal kebanggan garis silsilah, tanpa ada keberlanjutan garis pewarisan pengetahuan. Berkawitan peluangnya ada dengan mempelajari ilmu dan pengetahuan leluhur yang tertulis, dipelajari dan dijadikan pedoman, bukan disembah secara membabi buta.
Saya lebih bahagia berjumpa dengan seorang yang fasih mengupas ajaran leluhur dibandingkan seseorang yang berbuih-buih menceritakan garis silsilahnya semata. [T]
Catatan Harian 8 Oktober 2019
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...