Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
KOPLAK memeriksa seluruh surat-surat di ruang kerjanya yang semakin menumpuk, dari urusan surat cerai mati, sampai urusan surat miskin. Belakangan ini Koplak sering merasa heran dengan banyaknya warganya tiba-tiba saja mencari surat keterangan miskin. Padahal padahal pengertian miskin itu tidak memiliki rumah tetap, rumah masih kontrak. Tidak memiliki kendaraan roda dua. Ini aneh, berjibun surat permohonan miskin justru datang dari warga desanya yang memiliki tanah luas bahkan ada yang memiliki mobil pribadi.
“Tolonglah, Koplak. Anak saya biar bisa masuk sekolah favorit di Denpasar, berikan saya rekomendasi surat miskin. Kau tidak inginkan anak saya tidak bisa masuk sekolah favorit. Jika anak saya bisa masuk sekolah favorit kelak nasibnya bisa lebih baik. Minimal negara akan membiayai sekolahnya sampai tuntas lalu kita sebagai orang tua tinggal tenang-tenang saja,” rayu seorang warganya pada Koplak.
Bahkan perempuan yang memiliki tubuh super tambun itu mengerlingkan matanya yang tidak indah kepada Koplak. Koplak merengut sambil menatap perempuan itu tajam. Perempuan bertubuh tambun itu terdiam, ada sedikit gelisah terurai di pinggir matanya. Sebagai seorang Ibu, perempuan itu tidak mau kalah tidak juga mau menyerah yang penting seluruh keinginannya dipenuhi Koplak.
Koplak terdiam agak lama sambil mengeryitkan alis matanya. Wajahnya yang biasanya datar kali ini terlihat dipulas sedikit aroma kemarahan. Perempuan tambun yang duduk di kursi tamu di ruangan Koplak sebentar-sebentar menggeser pantatnya yang besar, pantat yang memenuhi seluruh kursi ruang tamu yang harusnya bisa diduduki dua orang.
“Seorang Ibu akan melakukan apa saja untuk anaknya demi masa depan yang lebih baik,” suara perempuan itu terdengar bergetar. Koplak menangkap hawa kecemasan terurai di nada suaranya.
Surat miskin? Kenapa belakangan ini Koplak harus menemani tamu-tamu yang sesungguhnya tidak perlu. Tamu-tamu yang seharusnya sudah bisa menyelesaikan persoalannya sendiri. Jika ingin mendapatkan sekolah yang bagus kenapa tidak memilih memacu anak untuk belajar dengan lebih baik.
Sebagai Ibu segaligus Ayah, dulu Koplak tidak pernah punya persoalan dengan anak semata wayangnya, Kemitir. Walaupun sebagai orang tua, Koplak pasti akan lebih bangga jika Kemitir tumbuh sebagai anak yang selalu menjadi nomor satu, prestasi akademik gemilang. Siapa yang tidak bangga bercerita di warung kopi atau di warung nasi be guling tentang prestasi anak.
Faktanya prestasi Kemitir biasa-biasa, juara kelas juga tidak pernah mengikuti langkahnya. Kemitir sekolah juga santai-santai saja, jika ada kesulitan belajar Koplak hanya mengikutkan Kemitir les tambahan untuk membuat Kemitir lebih nyaman dan percaya diri. Target Koplak tidak tinggi-tinggi sekali, Koplak juga enggan menuruti keingin Kemitir ketika anak itu merengek Koplak harus mempersiapkan uang sekian puluh juta, untuk memesan satu kursi di sebuah sekolah menengah di Denpasar. Sekolah yang memang diinginkan Kemitir, Koplak enggan, dan membiarkan Kemitir hampir satu bulan merengut. Akhirnya toh Kemitir bisa juga mendapatkan tiket untuk seluruh sekolah dan kuliah di tempat-tempat yang dia inginkan.
Karena alasan itulah Koplak menolak menandatangani seluruh surat miskin yang ada di mejanya, karena pada dasarnya para orang tua itu tidak miskin.
Koplak tidak mengerti kenapa belakangan ini banyak sekali orang-orang yang hanya memikirkan diri mereka sendiri. Orang-orang jang jemawa merasa paling benar, paling top, dan paling ingin dilihat. Orang-orang yang lapar menjadi “tokoh”, atau tepatnya merasa menjadi “tokoh” lagaknya sudah melebihi artis, juga melebihi lagak para koruptor yang ditangkap KPK, mengenakan baju orange eh, masih melempar senyum manis kepada para wartawan. Bahkan ada yang sengaja memasang pose gaya karena akan difoto.
Apakah yang sesungguhnya terjadi dengan negeri ini? Apa yang sedang menjangkiti manusia-manusia di negeri ini? Koplak bukan sok bijak, sok suci, tidak mau menandatangani surat miskin palsu, bukan! Yang Koplak pikirkan apa yang ada dibenak orang-orang itu sehingga tega begitu manipulatif. Bahkan untuk diri mereka sendiri.
Bayangkan mengaku miskin untuk dapat sekolah favorit. Mengaku miskin untuk dapat beasiswa dari pemerintah.
Di luar Koplak mendengar bisik-bisik yang tidak sedap. Bisik-bisik yang menganggap dirinya gaya, dan sok berlagak jadi Tuhan.
“Sekarang ini para pemimpin-pemimpin juga banyak yang berbohong pada rakyat untuk dirinya sendiri? Ketua DPR ditangkap karena korupsi e-KTP, belum lagi hakim dan jaksa, ini baru kepala desa saja sudah gaya. Mana ada orang yang akan menangkap Kades?
Rumah saja cuma satu, ke kantor juga naik motor keluaran jaman tidak enak. Mana mungkin ditangkap KPK orang seperti Koplak itu. Solidaritasnya pada teman tidak ada, belum jadi camat, belum jadi gubernur. Bayangkan saja kalau Koplak jadi menteri, pasti sok kuasa,” begitu desas-desus kata-kata yang di dengar Koplak. Hujan makian, hujan kritikan, hujan hinaan. Ini baru jadi Kades bagaimana kalau jadi gubernur?
Koplak menarik nafas alangkah susahnya menjadi orang baik di jaman “now” seperti sekarang ini. Lalu hujan janji dari 575 anggota DPR yang baru saja diangkat untuk periode 2019-2024 menjaga marwah rakyat apa bisa dipercaya? Koplak menutup pintu ruang Kades pelan, sambil menyandarkan tubuhnya di kursi. Matanya menerawang ke atas dan berbisik pada pak Sekdes, hari ini tidak mau terima tamu. Mau fokus melihat eforia sepak terjang dan gaya anggota DPR yang baru saja diangkat.
Di TV mereka terlihat glamour, pasti harum juga, melihat gaya mereka Koplak mengernyitkan alisnya, kira-kira kerja apa yang akan mereka lakukan dengan membawa nama dan suara rakyat? [T]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...